Perbankan Indonesia Dinilai Terlalu Hati-hati Berekspansi

JAKARTA (Lampungpro.com): Peraih Nobel Ekonomi 2003 Prof Robert F Engle menilai perbankan Indonesia terlalu berhati-hati untuk berekspansi menyalurkan kredit ke masyarakat. Padahal, kata dia, kapasitas permodalan perbankan mencukupi.

Engle, dalam kuliah umumnya, di Jakarta, Rabu (22/2/2017), mengatakan sikap kehati-hatian perbankan di Indonesia merupakan sisi lain dari fakta bahwa kapasitas permodalan bank di Indonesia cukup kuat. Sisi positifnya, kata Engle, dengan permodalan yang kuat, perbankan Indonesia tidak terlalu rentan menghadapi potensi krisis ekonomi.

"Adalah berita yang bagus, namun mengandung berita yang buruk pula. Artinya, bantalan (modal) yang substansi itu sangat aman, tapi terlalu hati-hati dan terlalu aman. Ketakutan untuk membuat pinjaman yang diperlukan untuk stimulus ekonomi," kata Engle, di Univeristas Atmajaya, Jakarta.

Dalam kuliah umum tersebut, turut hadir Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara dan Deputi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir. Engle menuturkan dari ratusan institusi sektor keuangan di Indonesia, beberapa di antaranya memilik risiko yang kecil terdampak krisis keuangan.

Beberapa institusi keuangan yang memiliki risiko kecil itu diharapkan dapat menyalurkan kredit lebih ekspansif. Karena, memiliki modal yang kuat dengan dukungan perolehan laba. "Sejumlah bank milik negara juga memiliki modal yang lebih dari cukup," ujar dia.

Berdasarkan data Bank Indonesia, pertumbuhan kredit perbankan Indonesia pada 2016 hanya tumbuh 7,8 persen (year on year), atau melemah dibandingkan 2015 yang sebesar 10 persen. Engle menggambarkan Asia Tenggara termasuk Indonesia merupakan negara dengan ketahanan ekonomi yang lebih kuat dibanding negara-negara emerging markets lainnya. Risiko terhadap perbankan, kata dia, menyebar ke seluruh dunia. "Regulasi perbankan harus disiapkan untuk mencegah, bukan hanya menangani," ujar dia.

Dalam paparannya, Engle juga mengingatkan bahwa dinamika pasar keuangan global akan semakin meningkat. Karena, Presiden Amerika Serikat terpilih Donald Trump ingin mengurangi standar regulasi internasional untuk kesehatan perbankan.

Di sisi lain, rencana Trump tersebut bisa berdampak positif bagi kapitalisasi perbankan di pasar saham. Mengingat, investor melihat bank akan lebih ekspansif meraup pendapatan bunga mengingat syarat permodalan berpotensi akan dikurangi. (*/ANT/PRO2)




#Bank # Ekspansi # Kredit # Ekonomi
Berita Terkait
Ulasan