Tak Ada Lu Lagi Lu Lagi...

Menunggu pesawat di Terminal Keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta mesti hati-hati pasang kuping. Jangan terlalu pede menunggu tanpa memastikan ruang tunggu itu benar-benar tujuan Lampung, karena di tiket tujuannya adalah Tanjungkarang, tapi selalu diumumkan Bandar Lampung.

Mata juga harus ekstra hati-hati karena nyaris tak ada penumpang dikenal. Makanya, ketika hendak boarding pastikan tanya lagi apakah benar-benar tujuan Lampung, kalau tak ingin nyasar ke Ambon atau Surabaya, karena seluruh Terminal 1 kini terhubung. Pemandangan ini jauh berbeda sepuluh tahun lalu. Saat di ruang tunggu Bandara Radin Inten II dan Soekarno-Hatta, hampir seluruh penumpang pesawat itu-itu aja. Makanya, muncul istilah 'Lu lagi, lu lagi' ketika bertemu di bandara.

Merekam dinamika daerah itu tak sulit. Lihatlah kepadatan bandara, pelabuhan, terminal, jalan, pasar, sepermarket, mal, hingga bank. Semua merekam dinamika pertumbuhan sektor konsumsi, produksi, dan investasi. Hilangnya 'Lu lagi, lu lagi' di Bandara Radin Intan II, paling tidak adalah gambaran dinamika itu.

Maka wajar kalau kemudian Presiden Joko Widodo berambisi menjadikan Lampung sebagai pusat ekonomi baru. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekonomi Lampung pada 2016 tumbuh 5,15%. Meski tipis, catatan tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi Lampung semakin kuat dibanding pertumbuhan tahun 2015 sebesar 5,13%.

Tapi di balik pertumbuhan itu, ada anomali yang selalu jadi perdebatan dan polemmik hingga kini. Provinsi berjuluk Sang Bumi Ruwai Jurai ini belum lepas dari predikat termiskin ketiga di Sumatera. Kedekatan Lampung dan Jawa, di satu sisi memang membuat dinamika Lampung bergerak cepat. Apa yang ada di Jawa, detik ini ada di Lampung.

Tapi problem yang tak tuntas sejak dulu adalah banyaknya uang Lampung yang tersedot ke Jakarta. Rotinya ada di Jakarta, di Lampung cuma tinggal 'remah-remahnya'. Pajaknya lebih banyak lari ke Jakarta, di sini cuma tinggal duit receh.

Itu sebabnya, ketika kelak Jalan Tol Trans Sumatera beroperasi, kita harus bertanya. Apakah duit orang Lampung yang lari ke luar atau duit orang luar yang lari ke Lampung. Semua tergantung kesiapan warga Lampung. Kuat-kuatan magnet ini tak terhindarkan. Namun kekuatan magnet Lampung akan menang kalau pemerintah daerah sejak dini memagarinya.

Di bidang pariwisata misalnya, setiap biro perjalanan luar Lampung wajib menggandeng biro perjalanan Lampung jika ingin bawa tamu ke Lampung. Begitu juga di bidang periklanan. Vendor Jakarta wajib menggandeng advertising Lampung jika ingin pasang baliho di Jalan Radin Inten II. Itu bukan perkara sulit, kalau mau.


Tabik puunnn...


Amiruddin Sormin
Wartawan Utama

 

 



#Pertumbuhan Lampung # Ekonomi Lampung # Kemiskinan
Berita Terkait
Ulasan