Korban Tewas Jadi Enam, Harimau Kembali Terkam Petani Kopi di Muara Enim Sumsel

Warga dan anggota TNI saat mengevakuasi jasad Sulis yang ditemukan tewas usai dimangsa harimau, Jumat (27/12/2019) malam. LAMPUNGPRO.CO

MUARA ENIM (Lampungpro.co): Korban tewas akibat terkaman harimau di Sumatera Selatan (Sumsel), bertambah bertambah jadi enam, sejak November 2019. Setelah menerkam Suwadi (57), warga Desa Pajar Bulan, Kecamatan Mulak Ulu, Lahat, kali ini harimau menerkam Sulis (30), petani kopi di Desa Talang Tinggi, Kecamatan Panangenim, Muara Enim, Jumat (27/12/2019) malam.

Jasad Sulis ditemukan dalam kondisi terpotong dengan bekas gigitan dan cakaran harimau. Informasi yang dihimpun Lampungpro.co menyebutkan, sebelum Sulis tewas warga melihat harimau berkeliaran di sekitar kebun kopi dekat desa. Sulis terakhir terlihat pukul 13.00 WIB saat berpamitan dengan orang tuanya untuk pergi mandi ke pemandian umum. 

Namun hingga malam Sulis tak kunjung kembali. "Salah satu warga melihat di kebun kopi ada harimau. Sulis diduga dimakan harimau, karena di tempat mandi tinggal handuk. Tinggal tempat sabunnya aja, dan korban hilang," kata Gege warga setempat, tadi malam.

Pencarian Sulis melibatkan anggota TNI dan Polisi. Pencarian membuahkan hasil ketika pukul 24.00 WIB, ditemukan bercak darah di sekitar lokasi pencarian. Warga menyusuri bercak darah tersebut hingga akhirnya menemukan korban tewas mengenaskan. Tubuh korban didapati penuh luka, ada beberapa gigitan dan cakaran bahkan ada bagian tubuh ditemukan terpisah. 

Terkait penyerangan harimau ini, Gubernur Sumsel, Herman Deru, mengatakan harimau tak keluar dari habitat, melainkan manusia yang mulai mengganggu lokasi mereka berkembang. Menurut Herman, penyerangan terjadi karena banyak masyarakat yang melakukan perambahan liar di lokasi hutan lindung. "Pada kejadian pertama itu penebang kayu yang pakai chainsaw. Itu adalah orang yang diterkam pertama. Mungkin dianggap merusak kandangnya dan itu ada saksi mata," ujar Herman.

Berdasarkan laporan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel, seluruh penyerangan yang terjadi hingga menewaskan empat orang dan dua luka parah tersebut terjadi di hutan lindung. Herman menyarankan kepada Kementerian LHK untuk memperbanyak papan peringatan dan imbauan karena ketidaktahuan yang banyak menyebabkan masyarakat merambah liar hutan lindung menjadi kebun. 

Sejak 17 November 2019, sebanyak enam konflik harimau dan manusia terjadi. Sebanyak enam warga tewas, dan dua lainnya luka-luka akibat serangan harimau tersebut. Lokasi penyerangan tersebar di Kota Pagaralam, Kabupaten Lahat, dan perbatasan Lahat-Muara Enim. Tiga daerah tersebut merupakan satu hamparan kawasan hutan lindung Dempo dan Kikim Seblat yang menjadi habitat satwa liar dilindungi termasuk Harimau Sumatera. (PRO1)  



#harimau sumatera # petani kopi # sumatara selatan # hewan dilindungi # serangan harimau # konflik harimau # hutan lindung # BKSDA
Berita Terkait
Ulasan