Digulung atau Selancar di Tsunami Informasi?

Ketika dunia mengecil sekecil-kecilnya dan teringkas dalam sepotong gadget mungil di genggaman, nikmat mana lagi yang hendak kita dustakan. Rezim broadcast tergulung era broadband.

Dulu, satu pemancar melayani jutaan manusia. Kini, jutaan sumber dan akses informasi menyervis kita dengan limpahan informasi. Maka, minat apalagi yang tanpa pencerahan.

Zaman nyaris mencapai puncaknya. Era digital mempersatukan umat manusia tanpa banyak cincong. Seribu jalan menuju surga kian terbuka dan jalur gampang rute neraka terbentang di depan mata.

Media sosial, salah satu cara membuka kunci dunia yang datar, meminjam istilah Thomas L. Friedman, justru berisi polarisasi yang tajam antara kutub sana dan kutub sini. Orang dengan mudahnya mencari pembenaran atas sikap dan pandangannya dari samudera informasi yang membentang. Lautan pengetahuan yang terserak di dunia maya, mestinya menjadi rujukan pada kebenaran, direduksi.

Tampaklah kemudian penjejalan keinginan dengan rujukan serampangan. Media sosial yang mestinya menjadi ruang kegembiraan bersama malah sering diisi mata yang melotot. Untung masih banyak yang menjadikannya ajang geladi pemikiran yang mencerahkan.

Indonesia, sedikit surga yang tersisa di dunia, memang nirwana bagi keberagaman. Keterbukaan informasi (batasnya hanya langit) membuat kita setara. Semua berawal dan berakhir pada sikap kita. Silakan berselancar dalam gelombangnya atau tenggelam dan tergulung dalam tsunami perubahan karena keliru memilih tempat berdiri.


Tabik puuunn...


Heri Wardoyo
Wartawan Utama




#teknologi informasi # gadget # dunia maya
Related Post
COMMENTS