Bantuan Sembako Busuk Diprotes, Camat Merbau Mataram Lampung Selatan Apresiasi Kontrol Warga

Camat Merbau Mataram Heri Purnomo | FEBRI/Lampungpro.co

LAMPUNG SELATAN (Lampungpro.co): Usai didatangi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) terkait beberapa temuan penyaluran Program Sembako, Camat Merbau Mataram Heri Purnomo merasa senang atas kontrol di lapangan, dari LSM GMBI terkait penyaluran program tersebut di wilayah Kecamatan Merbau Mataram. Meskipun demikian, ia meminta data lengkap dan solusi dari GMBI terkait kontrol tersebut.

BACA JUGA ; Didemo Gara-gara Bantuan Sembako Busuk, TKSK Merbau Mataram Lampung Selatan Klaim Tak Ada Pengaduan

"Ini tidak masalah bagi kami, yang penting ada data akan kita sampaikan bersama. Nanti yang merasa dirugikan, bulan berikutnya bisa diperbaiki. Namun kita juga butuh solusi dan data-data lengkap di lapangan, dari kontrol yang dilakukan GMBI ini," kata Heri Purnomo saat ditemui Lampungpro.co usai audiensi, Selasa (30/6/2020).

BACA JUGA : Bantuan Program Sembako Kurang dan Busuk, GMBI Demo Kantor Kecamatan Merbau Mataram Lamsel

Heri mengungkapkan, dalam kontrol yang dilakukan GMBI Merbau Mataram ini terdapat lima hal yang disampaikan, terkait pendistribusian Program Sembako yang dianggap tidak menetapkan asas masyarakat. Namun Heri menyebut, Program Sembako ini sudah sesuai ketentuan, karena terdapat unsur karbohidrat, protein nabati, protein hewani, dan sayuran.

"Kemudian di lapangan mereka menemukan kacang hijau, tidak sesuai timbangan dan kesepakatan. Ini bisa jadi kesalahan manusia, atau bisa jadi kesalahan alat timbang. Sebab alat timbang antara satu dengan lainnya bisa berbeda sedikit," ujar pria yang pernah menjabat Kepala Puskesmas Kecamatan Tanjung Sari ini.

Terkait temuan keluarga penerima manfaat (KPM) yang ditarik uang Rp5 ribu hingga Rp15 ribu saat mengambil sembako, pihak kecamatan tidak mengetahui hal tersebut. Heri juga menyayangkan pihak GMBI yang tidak menyebutkan secara jelas data lokasi temuan baik dari desa maupun e-waroeng

"Saya tekankan mohon sampaikan data dengan jelas, dari desa mana dan warung mana yang berani meminta uang itu. Nanti akan kita fokuskan kesana untuk menegur dan kasih penjelasan, kalau hal ini tidak diperbolehkan. Namun mereka baru kasih data, nanti pada saat masuk ke ranah persidangan," jelas Heri.

Heri pun turut menegaskan poin inti dari GMBI ini, untuk meminta mengganti suplayer di Kecamatan Merbau Mataram. Namun kewenangan tersebut, berada di ranah dan ruang lingkup desa masing-masing. Terkait daging yang dibagikan bentuknya juga bervariasi sesuai permintaan masyarakat.

Berdasarkan data dari kecamatan dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), KPM yang tersebar di 15 desa yang ada di Merbau Mataram ada yang meminta daging ayam tersebut, sudah dipotong dari pihak suplayer dan e-waroeng. Selain itu, ada juga yang meminta kondisi ayam dalam keadaan hidup.(FEBRI/PRO2)



##program sembako # bpnt # kpm # keluarga prasejahtera # masyarakat berpenghasilan rendah # kementerian sosial
Berita Terkait
Ulasan
X