Hampir Setahun Siswa Belajar Online, Wakil Ketua MPR RI Khawatirkan Kualitas Peserta Didik Turun

Para peserta diskusi dan sosialisasi pilar kebangsaan bersam Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani di Bandar Lampung, Sabtu (31/10/2020). LAMPUNGPRO.CO/LIA DAMAYANTI

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co): Wakil Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyampaikan kekhawatiran penurunan kualitas peserta didik akibat belajar daring yang belum efektif. Ahmad Muzani menyatakan perbedaan kualitas tampak antara pembelajaran tatap muka langsung dan pembelajaran virtual atau daring. 

""Berbeda kualitasnya dengan pendidikan langsung karena ada suasana emosional yang terbangun. Terhindarkan saat daring, tidak terbangun dengan baik. Akibatnya kita terancam SDM menurun sementara SDM menjadi prioritas pemerintahan Jokowi," kata Muzani pada Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan secara virtual di Bandar Lampung, Sabtu (31/10/2020). 

Sistem daring, kata Muzani, menjadi problem bagi masyarakat lantaran memakan biaya yang tak sedikit dan menjadi rutinitas pengeluaran untuk jangka waktu panjang. "Murid perlu kuota atau pulsa. Tidak pernah dibayangkan dalam minggu bisa menelan Rp100 ribu per anak," kata Muzani yang juga Sekjen DPP Partai Gerindra itu.

Legislator asal Lampung itu juga menyebutkan mestinya proses pendidikan tidak terhenti meski di era Covid-19 ini. "Lockdown bukan solusi dalam mengatasi Covid-19. Harus dicarikan solusi yang lebih baik. Bagaimana roda perekonomian terus bergerak dan pendidikan pun tetap berjalan. Saya berharap, dengan focus group discussion ini akan mengkerucutkan suatu solusi yang komprehensif implikatif untuk pendidikan Indonesia yang berkualitas di era pandemi ini," kata Muzani.

Pada sesi lain, akademisi Universitas Lampung, M. Thoha B. Sampurna Jaya, mengatakan menjelang satu tahun pandemi Covid-19, para guru dituntut kreatif dalam mendesain pembelajaran daring bagi siswa untuk meminimalisir kejenuhan anak didik. Pasalnya, pembelajaran daring tentu memiliki kendala karena banyak guru lahir sebelum 1980-an sehingga terbatas menguasai teknologi informasi. 

"Butuh kejelian guru dalam membuat desain dan metode agar memikat siswa semangat belajar. Ini patut diperhatikan agar proses belaja menyenangkan, penuh makna, membangkitkan kreativitas, dan daya kritis tanpa memberi bebas tugas dimana akan membuat siswa menjadi jenuh," kata Thoha.
 
Pada diskusi bertema 'Solusi Pendidikan Indonesia Berkualitas di Tengah Pandemi Covid' itu, Thoha mengungkapkan pembelajaran daring memiliki kendala karena banyak guru lahir sebelum 1980-an, memiliki keterbatasan penguasaan teknologi informasi. Selain itu, sarana dan prasarana pendukung proses pembelajaran daring pun terhitung mahal.

"Kesejahteraan guru dan murid terbatas dalam menikmati sarana dan prasarana teknologi informasi yang sangat diperlukan. Di era Covid-19, pembelajaran harus mencerminkan pergeseran paradigma belajar di abad 21, yakni pembelajaran yang mendorong peserta didik mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu. Seharusnya, tidak kaget lagi karena ini menjadi ciri abad 21 yang beberapa waktu lalu digaungkan," kata Thoha.

Sedangkan Sekretaris Komisi V DPRD Provinsi Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, mengakui pembelajaran melalui daring masih lebih efektif saat pandemi ini. Pasalnya, banyak wilayah di Indonesia yang dinyatakan red zone hingga banyak sekolah tutup. 

"Namun saya berharap dengan adanya pandemi ini dapat mengubah sistem pendidikan di Indonesia ke depan, kita dapat belajar dimana saja dan kapan saja. Anak didik juga pada akhirnya dapat mempelajari banyak skill di luar kurikulum sekolah. Artinya, saat lulus SMP atau SMA, mereka sudah menguasai skill lain seperti itu," kata Rahmat Mirzani. (LIA/PRO1) 

 



#pembelajaran # kegiatan belajar mengajar # guru # siswa # peserta didik # belajar daring # ketua mpr ri # pendidikan # dpr ri # dpdr lampung
Berita Terkait
Ulasan