Pilkada, Menanti Kreativitas Serangan Fajar

Selain menanti siapa pemenang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), salah satu episode paling ditunggu adalah bagaimana operasional serangan fajar dilakukan. Serangan fajar, walau tak melulu dilakukan menjelang fajar, selalu menjadi bumbu Pilkada dan dari tahun ke tahun modusnya makin kreatif.

Hingga kini, 'menabur uang' menjelang detik-detik pemungutan suara masih dinilai paling efektif memengaruhi pemilih, terutama pemilih mengambang (swing voters) yang bermoto 'nomor piro wani piro' alias NPWP. Para pengamat sering meleset menilai swing voters ini sebagai pemilih yang masih ragu, padahal tak sedikit yang NPWP karena menunggu tawaran tertinggi.

Pasarannya sering berubah, mulai dari Rp100 ribu, Rp200 ribu, Rp250 ribu, hingga Rp500 ribu. Namun untuk menabur itu, bukan perkara mudah, kecuali para wasit bisa diajak kongkalikong. Kongkalikong itu bisa dalam bentuk pura-pura tak tahu, tutup mata, atau memutuskan perkaranya kelak dengan kalimat tidak terbukti secara 'terstruktur, sistematis, dan massif' alias TSM.

Skenario itu harus dibangun sejak awal. Bagaimana penyebaran 'serangan fajar' yang tidak TSM itu harus dirancang, karena kemenangan memang harus dirancang. Adagiumnya jelas yakni, saat kalah engkau akan disalahkan karena tak berbuat salah. Jadi berbuat salah itu juga harus dirancang.

Membagi-bagikan uang dalam amplop secara massal di era terang benderang dan semua mata mlotot di Pilkada seperti ini, tentu modus yang sudah diketahui. Kalau pun ketahuan, tentu semua sudah mempersiapkan kartu truf masing-masing.

"Lu buka ini, gua buka yang itu,". Saling kunci 'selip' masing-masing tentu akan dilakukan. Bahkan saya yakin, masing-masing sudah membuat daftar inventaris 'selip'.

So, bagaimana 'serangan fajar' itu akan dilakukan? Inilah kreativitas yang lagi kita tunggu-tunggu. Skenarionya macam-macam. Bisa saja serangannya tidak lagi manual seperti bagi-bagi amplop, tapi secara virtual dengan memanfaatkan kecanggilan financial technology yang berkembang sekarang.

Namanya 'serangan fajar' era 4.0. Jadi, kalau penyelenggara atau wasit masih berpikir 'serangan fajar' masih manual, segeralah bersiap bakal tak menemukan TSM itu. Apalagi jejak digital amat mudah dimanipulasi, walau secara forensik bisa dilacak. 

Markiton, mari kita tonton....

Tabikkk puunnnn.....

 

Amiruddin Sormin
Wartawan Utama

 



#pilkada # bawaslu # kpu # pasangan calon # kabupaten # kota # provinsi # lampung # serangan fajar
Related Post
COMMENTS
X