Ekonomi Lampung Ranking Delapan se-Sumatera, Pertumbuhan Turun 1,67% Akibat Kontraksi Pertanian

Sejumlah petani saat panen padi di Way Bahuga, Way Kanan, Lampung, pada 3 Desember 2020. LAMPUNGPRO.CO/AMIRUDDIN SORMIN

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co): Ekonomi Provinsi Lampung pada 2020 mengalami penurunan (kontraksi) pertumbuhan 1,67% atau lebih rendah dibanding pencapaian 2019 yang tumbuh 5,26%. Lampung kini menempati posisi kedelapan akibat kontraksi pertumbuhan 1,[email protected] itu.


Menurut rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, Jumat (5/2/2021), laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)se-Sumatera pada 2020 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,19% dibanding 2019. Kontraksi pertumbuhan terdalam terjadi di Kepulauan Riau sebesar 3,80% dan kontraksi pertumbuhan terendah terjadi di Bengkulu sebesar 0,02%. 

Pada triwulan IV-2020, skonomi Provinsi Lampung mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2,26% dibanding triwulan IV-2019 (year on year). Dari sisi produksi, kontraksi pertumbuhan terdalam terjadi pada lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 13,10%. Dari sisi pengeluaran, kontraksi pertumbuhan terdalam terjadi pada komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 8,47%.

Sedangkan per kuartal (q-to-q), ekonomi Lampung triwulan IV-2020 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 8,28% dibanding triwulan III-2020. Dari sisi produksi, kontraksi pertumbuhan terdalam terjadi pada lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 25,34 persen. Dari sisi pengeluaran, komponen PMTB dan pengeluaran konsumsi rumah tangga terkontraksi masing-masing sebesar 0,52% dan 0,06%.

Struktur perekonomian Lampung menurut lapangan usaha di 2020 tidak menunjukkan perubahan berarti. Perekonomian masih didominasi oleh tiga lapangan usaha utama yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan (29,90%). Diikuti industri pengolahan (19,41%), perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor (11,14%).

Secara nasional, menurut Kepala BPS, Suhariyanto, untuk pertama kalinya Indonesia mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi setelah krisis moneter 1998. Pada 2020, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi minus 2,07%. “Ini untuk pertama kalinya Indonesia mengalami kontraksi sejak 1998. Pada 1998 karena krisis moneter dan 2020 mengalami pandemi,” kata Suhariyanto pada konferensi pers virtual, Jumat (5/2/2021).

Namun, kata Suhariyanto, Indonesia tak sendiri karena sejumlah negara juga mengalami kondisi serupa, bahkan kontraksinya lebih dalam. Amerika Serikat mengalami kontraksi hingga -3,5%. Tak beda dengan Uni Eropa. Lembaga resmi negara setempat mengumumkan Uni Eropa mengalami kontraksi -6,4%. (PRO1) 



#pertumbuhan ekonomi # kotrakasi # pdrb # pmtb # lampung # bps # pertanian # perkebunan # peternakan # perikanan
Related Post
COMMENTS