Langgar Kesepakatan Gubernur Lampung dan Pengusaha, Refaksi Singkong di Pabrik hingga 30%

Nota timbang penjualan singkong di Rumbia dengan potongan 25%, pada 8 April 2021. LAMPUNGPRO.CO

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co): Refaksi atau potongan timbangan singkon di pabrik pengolahan singkong melanggar kesepakatan antara Gubernur Lampung dan pengusaha yakni maksimal 15%. Pantauan Lampungpro.co di berbagai sentra refaksi berkisar 20-30%.


Demikian halnya pantauan Lampungpro.co di sejumlah media sosial. Dikutip dari akun Sanusi Ahmad, petani singkong di Lampung Tengah, pada Minggu (18/3/2021), harga dibuka Rp1.000+30 dengan potongan 23%. Akun itu juga menyebutkan singkong kecil, kotor, banyak bonggol, dan Thailand merah ditolak.

Postingan itu mendapat tanggapan sinis para petani singkong yang umumnya mempertanyakan besaran rafaksi. "Semoga kembali ke potongan yang rasional dan prorsional 5-10 persen, kadar air sudah rendah. Syukur di bawah 5℅ sehingga ngak kayak vampire, harga siluman," kata Barent Ismail.

Petani lainnya, Mustapa Kamal, mempertanyakan mengapa persyaratan singkong masuk pabrik banyak, namun potongan masih di atas 20%. "Kalau kerja sama antara pabrik dan petani singkong kurang bersahabat dengan harga yang seperti saat ini dan tak sesuai dengan biaya oprasional, lambat lain bukan hanya petani singkong saja yang bangkrut, tapi pihak pembeli pun akan bangkrut," kata Mustapa Kamal.

Dia mengatakan jika dikaji lebih jauh, dengan potongan di atas 20%, jika punya lahan 1 hektare seperempatnya habis untuk biaya mobil dan kuli. "Kita hanya dapat sisa setengahnya dan harus berbagi dengan modal. Terkadang bukannya untung tapi buntung. Kalau saya ngak ambil pusing dengan harga singkong yang saat ini bobrok. Mendingan berpikir beralih tanaman lain," kata dia.

Dia menyebutkan lambat laun bukan hanya singkong thailan yang ditolak. "Mngkin akan menyusul jenis-jenis singkong lainya dan potongan semakin meninggi dengan alasan kadar aci kurang seprti saat ini," kata di Mustapa Kamal.

Namun tidak semua pabrik melanggar kesepakatan itu. Petani singkong, Ical, menyebutkan dia menjual singkong seluas 2 hektare umur 17 bulan. Dia mendapat harga Rp870 dengan refraksi 9,8,6% di pabrik Tedco Lampung Utara.  

Sebelumnya, pada 24 Maret 2021, Gubernur Lampung Arinal Djunaidi mengumpulkan sejumlah pengusaha tapioka yang berada di Lampung di Mahan Agung Rumah Dinas Provinsi Lampung. Dari pertemuan tersebut, Arinal menyepakati bersama pengusaha Tapioka yang ada di Lampung untuk menetapkan harga singkong Rp900 dengan potongan maksimal 15% di seluruh Lampung. (PRO1)



#singkong # ubikayu # tapioka # monopoli # oligopoli # lampung # kppu # persaingan usaha tak sehat # dprd # pemda
Related Post
COMMENTS
X