Setop Baca Berita Covid-19 atau Setop Baca Hoaks Covid-19?

Tabik puuunnn....


Ajakan menghentikan penyebaran berita terkait Covid-19 kini merebak di berbagai media sosial. Bahkan tagar ajakan tersebut sempat menjadi trending topic.

Ajakan itu karena masyarakat ingin tenang dan ingin Covid-19 segera berakhir. Sebagai jurnalis, tentu saya bahagia jika dengan menghentikan memuat dan menyebarkan berita Covid-19, pandemi ini berakhir.

Kita tak perlu lagi bentuk satgas, beli obat, beli vaksin, beli oksigen, terapkan protokol kesehatan, dan sediakan ruang perawatan. Ternyata, solusinya amat simpel. Cukup setop berita Covid-19.

Semua yang terkait Covid-19 kita pendam dalam-dalam. Kalau ada yang meriang dan batuk-batuk lalu sesak nafas, obati sendiri. Pakai panduan dan tutorial yang banyak beredar di berbagai media sosial. Entah panduan itu hoaks atau tidak. 

Jika kemudian ada yang meninggal, memang sudah ajalnya. Toh, semua akan meninggal pada waktunya. 

Ini memang era post modernisme, yang salah bisa jadi benar dan yang benar bisa jadi salah. Kesalahan yang terus menerus dipuji akan jadi kebenaran. Sebaliknya, kebenaran yang terus menerus di-bully, akan jadi kesalahan.

Ini juga yang disebut zaman dimana orang tidak lagi membaca apa yang disuguhkan. Tapi memilih apa yang ingin dia baca sesuai dengan seleranya. 

Akibatnya, kebenaran yang pahit akan terus di-bully, jika tak sesuai dengan seleranya. Pun, kesalahan akan dibela dan dikampanyekan agar pas dengan seleranya.

Inilah kenapa hoaks alias informasi bohong jadi subur di media sosial. Masyarakat tak lagi dapat membedakan mana berita, mana hoaks. Celakanya, sebagian besar masyarakat menerima informasi dari media sosial.

Akibatnya pula, berita yang benar tapi tak sesuai selera akan dicap hoaks. Itu prilaku komunikasi di era post modernisme. Pelakunya, siapa saja. Tidak mesti yang awam. Malah kebanyakan dilakukan aparat dan pejabat.

Sesungguhnya, sebagai jurnalis saya pun lelah hampir dua tahun ini meliput dan memberitakan soal Covid-19. Media massa juga ikut jadi korban. Tak ada lagi iklan, advertorial, dan kegiatan pengumpulan massa. 

Tragisnya, ketika gegap gempita penyaluran bantuan terdampak Covid-19, media massa cuma jadi penonton. Cuma lewat di depan mata.

Itu pun para jurnalis tetap iklhas memberitakan dengan harapan Covid-19 berakhir. Menyebarkan berita Covid-19 bagi jurnalis adalah ikhtiar agar pandemi ini berakhir.

Bagi jurnalis, haram hukumnya menyebarkan hoaks. Kalaupun beritanya tak disukai, tapi jurnalis menuliskannya berdasarkan data dan fakta, bukan ingin cari sensasi agar postingannya dikasih berjuta jempol dan mendapat berjuta viewers.

Media massa yang digawangi jurnalis berintegritas adalah palang pintu terakhir melawan hoaks. Palang pintu terakhir menyebarkan informasi, walau harus melewati desingan peluru dan di bully beritanya.

Jurnalis itu memang harus siap melewati jalan sunyi dan siap tak populer demi menyebarkan informasi. Siap tak populer dan dihujat seperti saat para nabi dan rasul menyebarkan kebaikan. Itulah jurnalisme propetik, jurnalisme mengacu pada semangat para nabi dan rasul saat menyebarkan kebaikan di muka bumi.

Silakan pilih informasi yang terbaik untuk kalian, termasuk tak baca lagi berita media massa tentang Covid-19. Pun termasuk menyukai hoaks hasil produk para buzzer. Tapi, the show must go on, jurnalis akan tetap menulis.

 

Amiruddin Sormin
Wartawan Utama

 



#Hoaks # Covid-19 # berita # informasi # post modernisme
Related Post
COMMENTS