Kisah Mantan Buruh Pringsewu, Sukses Bisnis Kacang Sangrai Mampu Produksi 2 Ton Perbulan

Turyadi Saat Memperlihatkan Hasil Usaha Kacang Sangrai Miliknya | Lampungpro.co/SANNY

PRINGSEWU (Lampungpro.co): Mantan buruh serabutan bernama Turyadi (46), warga Pringsewu Utara, Pringsewu sukses membuka usaha kacang sangrai. Turyadi tidak menyangka, usahanya yang dibuka sejak tahun 2019 ini bisa sukses, hingga bisa menghasilkan produksi 2 Ton perbulan.

Saat Lampungpro.co menyambangi lokasi usahanya pada Sabtu (4/12/2021), pria tiga anak ini menceritakan usahanya hingga menggapai kesuksesan saat ini. Ia bercerita, sebelum membuka usaha kacang sangrai di rumahnya, ia bekerja sebagai buruh di pabrik pengolahan kopi bubuk.

"Saya bekerja di pengolahan kopi bubuk delapan tahun, tahun 2019 awal, saya memberanikan diri untuk berhenti bekerja. Kemudian saya membuatkan usaha sendiri, dengan modal simpanan dari upah saya bekerja,” kata Turyadi.


Keterangan : Sejumlah Pekerja Saat Produksi Kacang Sangrai Milik Turyadi

Setelah memalui berbagai pertimbangan, akhirnya Turyadi memutuskan untuk memilih kacang sangrai sebagai usaha yang akan ia geluti. Saat pertama membuka usahanya, ia membeli kacang kulit sebanyak 50 Kg, lalu diolah menjadi jajanan kacang sangrai.

"Awalnya saya sangrai sendiri menggunakan kuali tanah. Kemudian istri juga ikut mendukung, bahkan mau menjajakan kacang sangrai olahan saya, dari satu warung ke warung lainnya sekitar rumah," ujar Turyadi.

Semasa awal membuka usahanya, Turyadi masih bekerja sendirian dan belum ada karyawan. Sebab saat itu ia berpikir yang penting usaha berjalan dahulu. Namun setelah dua tahun berjalan dan usahanya lancar, ia kemudian memutuskan untuk merekrut karyawan.

Hingga kini ada 10 karyawan dari ibu rumah tangga sekiyat rumahnya, untuk membantu memproduksi kacang sangrainya. Selain itu, Turyadi juga sudah memiliki sembilan orang sales canvasing, yang siap memasarkan produknya hingga ke luar Pringsewu hingga merambah ke Bandar Lampung, Tanggamus, Lampung Timur, dan Tulang Bawang.

"Untuk bahan baku, saya ambil dari petani di Jawa Timur. Saya pernah mencoba bereksperimen menggunakan kacang tanah lokal, namun hasilnya tidak memuaskan, karena kacang banyak yang menjadi susut setelah disangrai," jelas Turyadi.

Sementara untuk menjamin kualitas dan kehigenisan, Turyadi sudah mendaftarkan produknya ke Dinas Kesehatan Pesawaran. Sedangkan untuk permodalan, diakui Turyadi dirinya belum berani, jika harus mengambil pinjaman dari perbankan. (***)

Editor : Febri Arianto
Reporter : Sanny



#Buruh # Usaha # UMKM # Bisnis # Kacang # Pringsewu # Pemkab # Jajanan # Lampung # Petani
Berita Terkait
Ulasan