Jalan Tol Trans Sumatera, Karpet Merah Penyelamat Pariwisata Lampung di Era Covid-19

Menara Siger dan Jalan Tol Trans Sumatera di Bakauheni Lampung Selatan. LAMPUNGPRO.CO/DOK.HK

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co): Tak dapat dibayangkan seperti apa sektor pariwisata Lampung akibat pandemi Covid-19, tanpa ada jalan tol. Andai Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruasa Bakauheni-Terbanggi dan Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung, belum beroperasi di 2019, bisa jadi, hotel, restoran, kafe, rumah makan, toko oleh-oleh, dan tempat wisata yang menjamur di Lampung khususnya Bandar Lampung, tinggal kenangan.

Untunglah sebelum virus Covid-19 mewabah dan kemudian menjadi pandemi, dua ruas JTTS diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Ruas Bakauheni-Terbanggi Besar, pada 8 Maret 2019 di Gerbang Tol Natar, Lampung Selatan. Menyusul kemudian pada tahun yang sama, ruas Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung, pada 15 November 2019.

Dengan total panjang mulai dari Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni hingga Palembang sepanjang 329 kilometer, JTTS bagaikan hamparan karpet merah yang menyambut wisatawan berkunjung ke Lampung dari berbagai penjuru. Kehadiran JTTS dan proyek strategis nasional bidang transportasi seperti Bandara Internasional Radin Inten II dan Dermaga Eksekutif Bakauheni, membuat Lampung mencatat pertumbuhan wisatan hingga 10,73 juta pada 2019.

Sebuah angka yang sulit dicapai sebelum ada JTTS, karena rata-rata kunjungan wisata ke Lampung hanya pada kisaran 7-8 juta wisatan per tahun. Tingkat okupansi hotel yang awalnya hanya rata-rata 40-50% di akhir pekan, tiba-tiba full book hingga mencapai 90%.

Namun bulan madu JTTS dan pariwisata Lampung harus berakhir cepat. Sejak pemerintah mengumumkan Covid-19 menjadi pandemi pada Maret 2020, sejumlah pelaku usaha pariwisata Lampung, terutama hotel, restoran, dan tempat wisata mulai limbung akibat terpukul penyekatan. 

Akibatnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, pada 2021, jumlah akomodasi hotel berbintang di Lampung sebanyak 29 unit tingkat huniannya tinggal 43,38%. Sedangkan jumlah akomodasi hotel non bintang sebanyak 362 unit dengan tingkat hunian sebesar 25,07%. Demikian juga jumlah rumah makan/restoran di Lampung yang mengalami kenaikan sejak 2017, pada 2021, jumlahnya mencapai 1.769 unit harus terimbas. Apalagi akomodasi itu 29,22% berada di Bandar Lampung. 

Ketua IHGMA Chapter Lampung Lekat Rahmat, saat mengibarkan bendera putih di Jalan Radin Inten II, Bandar Lampung. LAMPUNGPRO.CO

Penyekatan demi penyekatan dalam koridor Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mulai Level, Level 3, hingga Level 4 di Bandar Lampung  hingga 23 Agustus 2021, membuat pengusaha hotel di Bandar Lampung mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah. Ketua Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA) Chapter Lampung, Lekat Rahman, menyebutkan pengibaran bendera putih, hanya simbol mewakili suara hati dunia perhotelan, karena pasrah dengan kondisi itu. 

Lekat Rahman mengatakan saat pandemi Covid-19 ini keterisian kamar (occupancy rate) kamar hotel sangat rendah. Occupancy terjun bebas di kisaran 10-15%. Padahal untuk break even point (BEP) keterisian kamar hotel di Lampung berada pada kisaran 45-50% dan itu baru tutup modal operasional. 

Pariwisata Lampung tak Mati Total

Tetapi apakah pariwisata Lampung mati total selama masa pandemi? Ternyata tidak. Ketika penyekatan dilonggarkan, seketika itu juga destinasi wisata unggulan di Lampung langsung diserbu. 

Bahkan, menurut Ketua Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Provinsi Lampung, M. Irwan Nasution, ketika PPKM Level 4 diberlakukan, arus wisatawan ke Lampung tidak total berhenti. Penyebabnya, menurut Irwan, karena Lampung amat mudah dijangkau berkat jalan tol.

"Memang, kedatangan mereka tidak tercatat karena mereka tak menginap di hotel. Wisatawan bisa one day tour atau pulang pergi dalam sehari ke Lampung karena ada jalan tol. Mereka datang pagi dan pulang sore dan malam sudah sampai di Palembang," kata Irwan Nasution, Sabtu (12/3/2022).

Sejak JTTS beroperasi, Irwan yang juga pemilik Taman Wisata Lembah Hijau, Bandar Lampung itu mengaku 50% tamu yang berkunjung dari Sumatera Selatan, Jawa, dan sekitarnya. Tak heran, di akhir pekan mobil plat BG mendominasi area parkir Taman Wisata Lembah Hijau. 

Atraksi favorit pengunjung di Taman Wisata Lembah Hijau adalah menunggang dan memandikan gajah yang didatangkan dari Sekolah Gajah Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur. Selain itu, pentas aneka satwa dan permainan anak-anak.

Irwan mengakui, Lampung menjadi destinasi warga Sumatera Selatan hingga Jambi berkat JTTS. "Jalan tol membuat jarak Palembang ke Lampung makin dekat. Hanya ditempuh 3-4 jam dari sebelumnya 8-12 jam. Makin singkatnya waktu tempuh membuat wisatawan tidak lelah dan masih segar berwisata ketika sampai Lampung," kata Irwan.

Atraksi naik gajah di Taman WIsata Lembah Hijau Bandar Lampung. Favorit wisatawan asal Sumatera Selatan dan Jawa. LAMPUNGPRO.CO/SANDY

Apalagi perjalanan Palembang-Lampung kini tanpa kemacetan. Umumnya, kata Irwan, wisatawan berangkat dari Palembang selepas shalat Subuh dan sampai Bandar Lampung pukul 08.00 WIB. "Wisatawan masih sempat sarapan di Bandar Lampung, sebelum meneruskan perjalanan ke berbagai destinasi wisata," kata dia.

Alam Sumatera Selatan dan Jambi yang tak memiliki pantai dan tempat menyelam (snorkeling), membuat destinasi utamanya adalah kawasan wisata di Kabupaten Pesawaran seperti Pantai Mutun, Pantai Sari Ringgung, Pulau Pahawang, Pulau Tegal Mas, hingga Pantai Klara. Untuk mencapai destinasi utama wisata Lampung cukup ditempuh 30 menit hingga 1 jam dari Bandar Lampung.

Irwan membandingkan kebangkitan pariwisata Banten, berkat terbukanya Jalan Tol Jakarta-Merak. "Dulu warga Jakarta malas ke Anyer, karena jauh. Tapi sekarang Anyer menjadi destinasi utama warga Jakarta berkat jalan tol," kata Irwan.

Dia memprediksi ketika pandemi berubah menjadi endemi, pariwisata Lampung bakal melejit. Wisatawan tak hanya dari Sumatera Selatan, tapi Jakarta. Kehadiran Dermaga Eksekutif Pelabuhan Bakauheni yang terhubung langsung dengan JTTS membuat wisatawan dari Jakarta meluber ke Lampung. "Ke Puncak Bogor dan sekitarnya juga sekarang macet parah, kan lebih baik ke Lampung," kata dia.

Pernyataan Irwan setali tiga uang dengan komentar wisatawan dari Sumatera Selatan. Menurut Sunarto, warga Muara Enim, Sumatera Selatan, dia dan keluarga memilih mendatangi Pantai Bensam, Desa Batumenyan Kecamatan Teluk Pandan, waktu tempuh ke Lampung hanya 4 jam. "Kami sampai di Lampung Sabtu subuh dan langsung refreshing ke pantai," kata Sunarto.

Destinasi favorit warga Sumatera Selatan dan Jakarta adalah Pulai Pahawang, Pesawaran. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pesawaran, Ketut Partayasa, jika tak ada penyekatan, mayoritas pengunjung pada akhir pekan berasal dari Sumatera Selatan dan Jawa. 

"Ini bisa dilihat dari plat kendaraan yang parkir di Dermaga Ketapang, sebagai akses menuju Pahawang. Seluruh kantong parkir yang ada di Dermaga Ketapang Penuh dan 80% berplat BG. Sisanya plat Jawa," Ketut. 

Snorkeling di Pulau Pahawang, Pesawaran. Surga tersembunyi di Teluk Lampung. LAMPUNGPRO.CO/EMMA HERZA

Pemakai Jalan Tol Tetap Tumbuh Berkat Pariwisata

Meski belum seperti yang ditargetkan, warga yang berkunjung ke Lampung selama masa pandemi Covid-19, menurut Branch Manager PT Hutama Karya ruas Bakauheni-Terbanbanggibesar (Bakter), Hanung Hanindito, tetap tumbuh. Saat berbincang dengan jajaran pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Lampung, pada 17 Januari 2022, Hanung mengatakan JTTS adalah jaringan jalan tol sepanjang 2.818 km di Indonesia, yang menghubungkan kota-kota di Sumatera dari Lampung hingga Aceh.

"Tol Bakauheni-Terbanggibesar adalah pintu Sumatera," kata Hanung. Dia menjelaskan melalui Perpres Nomor 100 Tahun 2014 yang kemudian diubah dengan Perpres Nomor 117 Tahun 2015, pemerintah memberi amanat kepada PT Hutama Karya membangun dan mengembangkan JTTS. 

Jalan tol ini akan menghubungkan Lampung dan Aceh melalui 24 ruas jalan berbeda yang panjang keseluruhannya mencapai 2.704 km dan akan beroperasi penuh pada 2024. Sebagai pulau terbesar kedua di Nusantara dengan populasi melebihi 55 juta jiwa, Sumatera memainkan peran penting dalam perekonomian negara.

Dia mengakui magnet yang membuat warga datang ke Lampung adalah alamnya yang indah. Hamparan laut yang tak berombak besar membuat destinasi wisata di sepanjang Teluk Lampung di Lampung Selatan dan Pesawaran, menjadi daya tarik berkunjung ke Lampung.

Berdasarkan data PT Hutama Karya, rata-rata kendaraan yang keluar dari dua pintu menuju Bandar Lampung yakni dari Jawa di Gerbang Tol Kota Baru selama 2021 sebanyak 5.298 kendaraan per bulan. Sedangkan di Gerbang Tol Natar, tempat keluar dari arah Sumatera Selatan rata-rata 4.068 kendaraan per bulan pada 2021.

Sehingga total kendaraan yang tercatat di keluar dari Gerbang Tol Kota Baru Itera mencapai 63.583 dan di Gerbang Tol Natar sebanyak 48.822 kendaraan. Angka itu naik ketika libur panjang (long weekend) seperti Tahun Baru, Idulfitri, dan Natal. Rata-rata kendaraan yang melintas di Gerbang Tol Kota Baru mencapai 5.603 dan di Gerbang Tol Natar 4.252. "Kita berharap kunjungan ke Lampung meningkat, seiring dengan mulai melandainya Covid-19," kata Hanung.

Jalan Tol Trans Sumatera ruas Bakauheni-Terbanggi Besar, Lampung. LAMPUNGPRO.CO/DOK.HK

Angka-angka itulah yang kemudian membuat di akhir pekan, berbagai sudut Lampung kini bertabur mobil plat BG, BH, B, F, T, dan D. Kini, kemacetan jalan di Bandar Lampung, sebagai ibukota Provinsi Lampung, tak hanya pada hari kerja Senin-Jumat. 

Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana, saat evaluasi setahun kepemimpinannya pada 26 Februari 2022, menyebutkan naiknya kunjungan wisatawan membuat kemacetan juga terjadi pada Sabtu dan Minggu. Bandar Lampung memang tak punya pantai, tapi semua lewat dan menginap di Bandar Lampung. 

"Bunda akan tugaskan Dinas Perhubungan untuk ikut mengatur lalu lintas pada Sabtu dan Minggu. Wisatawan ini kan tamu-tamu Bunda juga, karena mereka makan dan menginap di Bandar Lampung," kata Eva Dwiana, yang akrab disapa Bunda itu.

Kuliner dan Oleh-Oleh Lampung yang tak Terlupakan

Selain alam dan pantai yang eksotik, daya tarik Lampung, khususnya Bandar Lampung bagi wisatawan adalah kuliner khas dan kripik yang jadi oleh-oleh dan buah tangan. Paling tidak ada sejumlah kuliner khas yang rutin diserbu wisatawan yakni Bakso Sony, pusat oleh-oleh Jalan Pagar Alam Segalamider, dan seputaran kota tua Jalan Ikap Kakap seperti Toko Manisan Yen-Yen. 

Bahkan mpek-mpek seperti Mpek-Mpek 123 ikut diserbu. Padahal, mpek-mpek berasal dari Sumatera Selatan. Namun wisatawan, tetap menyerbunya karena rasanya yang lebih gurih dan krenyes-krenyes.

Hampir dapat dipastikan, wisatawan tak akan melewatkan menyantap lezatnya Bakso Sony yang gerainya mencapai 18 di Bandar Lampung dari awalnya cuma satu. Harga seporsi Rp20.000, plus foto-foto untuk konten medsos masing-masing.

Bus pariwisata saat singgah di gerai Bakso Sony, Jalan Pramuka Bandar Lampung. LAMPUNGPRO.CO/AMIRUDDIN SORMIN

Menurut pengusaha oleh-oleh kripik di Jalan Pagar Alam, Aswal Junaidi, kawasan ini tertolong dari kebangkrutan akibat dampak pandemi Covid-19, karena akses jalan tol yang memudahkan wisatawan ke Lampung. "Waduh, kalau ngak ada jalan tol, berat mau ke Lampung ini. Alhamdulillah kami masih bisa bertahan karena masih ada wisatawan datang," kata Aswal Junaidi yang juga pemilik toko kripik Askha Jaya itu.

Di depan tokonya setiap akhir pekan parkir kendaraan luar Lampung seperti  dari Palembang, Bengkulu, Padang, Bandung, dan Jawa. Di kawasan yang berderet toko oleh-oleh ini selain kripik juga tersaji kopi, dodol, lempok, sambal khas Lampung, dan pangan olahan lainnnya.

Provinsi Lampung yang berusia ke-58 pada 18 Maret 2022 dan berpenduduk lebih dari 9 juta jiwa ini, menurut Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Provinsi Lampung, Adi Susanto, harus berterima kasih atas kehadiran JTTS. Pelaku perjalanan wisata dengan bendera Adiwiyata Tours and Travel ini menilai JTTS merupakan penyelamat pariwisata Lampung di masa pendemi.

"Sudah lama warga bosan tak kemana-mana. Lampung menjadi destinasi utama karena mudah dijangkau. Sampai Lampung masih segar untuk berwisata karena selama perjalanan tidak lelah," kata Adi Susanto.

Itu sebabnya dia mennyambut baik terbitnya Surat Edaran Satgas Covid-19 tentang pemberlakuan bebas PCR dan antigen. Menurut dia, ini pertanda geliat pariwisata akan kembali normal dan bangkit. 

"Dua tahun ini kami mati suri akibat pemberlakuan antigen dan PCR. Dipastikan wisatawan akan berkunjung ke destinasi wisata tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam," kata Adi Susanto.

Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Provinsi Lampung, Adi Susanto saat disambut gajah di Taman Wisata Lembah Hijau. LAMPUNGPRO.CO/SANDY

Dia berharap pengelola JTTS terus meningkatkan kualitas jalan dan sosialisasi berkendaraan di jalan tol. Menurut Adi, ada tiga hal yang membuat pariwisata bangkit yakni 3A (akses, amenitas, dan atraksi). Jika 3A ini kompak dan padu, pariwisata akan bangkit.

"Jangan lupa pariwisata ini gerbong perekonomian. Bangkitnya pariwisata membuat sektor lain ikut bangkit seperti pertanian, peternakan, dan transportasi. Efek dominonya panjang, sehingga akses seperti jalan tol menjadi salah satu penentu bangkitnya pariwisata Lampung," kata Adi Susanto. (Amiruddin Sormin, jurnalis tinggal di Bandar Lampung)
 

 



#jalan tol trans sumatera # lampung # aceh # bakauheni # kementerian pupr # infrastruktur # jalan bebas hambatan # ekonomi # pariwisata
Berita Terkait
Ulasan