Saat Berita Diobral, Saat Semua Ingin Jadi Kantor Berita...

Tabik puun.....

Tampaknya saya harus belajar lagi bagaimana menulis berita. Setelah lebih dari 25 tahun berkarir di dunia jurnalistik, tampaknya saya harus dialog imajiner dengan Bill Kovach, wartawan The New York Times dan kurator The Nieman Foundation for Journalism di Universitas Harvard, Amerika Serikat.

Atas dasar apa dia dulu bikin pakem fire wall (pagar api) sebagai prinsip antara berita dan iklan harus tegas dipisahkan. Apalagi mewajibkan fire wall bagi setiap media massa.  

Saya juga harus berdialog imajener dengan Harold Ross, redaktur majalah The New Yorker yang menganggap sedemikian sakral pagar api itu. Sampai-sampai, Harold Ross meminta ruang redaksi dan pemasaran media massa dipisahkan. 

Dia bilang, ruang redaksi di lantai yang berbeda dengan ruang iklan dan distribusi. Ross bahkan tak menganjurkan para wartawan banyak bicara dengan orang pemasaran, karena khawatir obrolan ngelantur ke bisnis dan bakal memengaruhi cara pandang wartawan.

Dua orang ini yakni Alfred Harmsworth dan John B. Bogart, juga perlu saya tanya ulang. Atas dasar apa dulu bikin teori 'man bites dog' yang amat dihapal para jurnalis. 

"When a dog bites a man, that is not news, because it happens so often. But if a man bites a dog, that is news". (Jika anjing menggigit orang, itu bukan berita, karena hal itu terlalu sering terjadi. Tapi jika ada orang menggigit anjing, itulah berita).

Semua jawaban para jurnalis ini saya butuhkan untuk menjawab simpang siur pemberitaan yang berseliweran. Pasalnya, tak ada lagi fire wall dan tak ada lagi nilai berita (news value). Bahkan kini, anak kecil kencing pun dijadikan (katanya) berita.

Organisasi serikat media yang seharusnya cuma cawe-cawe masalah iklan dan advertorial, kini berubah menjadi kantor berita. Bahkan nama serikat media pun dijadikan seragam untuk meliput, entah apa nama medianya. 

Bill Koivach harus bisa menjelaskan teori fire wall ini. Bagaimana sebuah organisasi serikat dan himpunan media, bisa berubah menjadi kantor berita? Berhari-hari blasting berita ke anggotanya, tapi tak pernah blasting iklan dan advertorial yang menjadi fungsi utamanya. 

Pertanyaan senada kepada Harold Ross. Bagaimana bisa organisasi profesi jurnalis, kemudian merilis berita berbau advertorial? Berhari-hari blasting 'berita ngangkat' ke anggotanya tanpa pernah hasilkan berita investigasi yang merugikan rakyat.

Pun, kepada Alfred Harmsworth dan John B. Bogart, saya bertanya bagaimana bisa ada berita 'Bupati Kunjungi Desa Terdampak Banjir', bukankah itu memang tugas bupati?

Saya ingin para jurnalis kawakan dunia itu hidup kembali. Bikin kelas belajar lagi. Agar jelas mana siang, mana malam. Jangan berubah menjadi lembaga siang malam (LSM). 

Salam,

 

Amiruddin Sormin
Wartawan Utama

 



#media massa # media online # media cetak # media elektoronik # kerja sama # uu pers # dewan pers # kode etik jurnalistik
Berita Terkait
Ulasan