Rendang Basandi Syarak, Rendang Basandi Kitabullah

Tabik puuun....


BANDAR LAMPUNG--Setiap kali pulang kampung ke Pasaman, Sumatera Barat, yang membuat saya kagum dengan Bandara Minangkabau International Airport (MIA) bukanlah arsitektur rumah gadang dan berbagai ornamenmya. Tapi di Bandara ini bertahun-tahun harga air mineral tetap dijual Rp5.000  ukuran 600 mililiter. 

Padahal di berbagai bandara termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng harganya paling murah Rp10.000. Termasuk di Bandara Radin Inten II Lampung yang sama-sama dikelola PT Angkasa Pura 2. Bayangkan berapa ratus persen inflasinya.

Awalnya, saya ngak 'ngeh' dengan ini, karena saya selalu siapkan air mineral dari luar agar tak beli di bandara. Sampai pada suatu saat saya tertidur di travel yang membawa  dari Pasaman ke Bandara MIA, lupa beli air mineral. 

Mungkin karena clingak-clinguk dan ragu belanja, pemilik gerai menegur saya. "Belanjalah, Nak. Harga di sini ngak beda dengan di luar." Masak iya, guman saya. Benar, harga air mineral Rp5.000 per botol. 

Usai saya bayar, pedagang itu melanjutkan, "Kami memang dagang cari untung, tapi tujuan utama kami adalah melayani para musafir yang lewat Bandara ini," kata pedagang itu sekitar empat tahun lalu. 

Ketika pulang kampung lagi 18 Mei 2022 lalu, harga air mineral di Bandara MIA tetap Rp5.000, padahal masih suasana Lebaran. Sejak itu hingga kini, saya selalu beli oleh-oleh di Bandara MIA, karena harganya memang tak beda dengan di luar.

Sekelumit kisah air mineral itulah yang kemudian membuat saya yang berangkat merantau sejak 1982 dari Sumatera Barat, sering tak sadar saya berada di negeri yang dibangun dengan prinsip 'Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah'. Maka, saya sering pancing kawan-kawan dengan pertanyaan, mengapa rumah makan padang ada dimana-dimana?

Umumnya jawabannya adalah masakannya enak. Saya bilang bukan, karena banyak juga masakan enak selain masakan padang. Jawabannya adalah, rumah makan padang belum pernah saya dengar 'getok harga'.

Mengapa? Karena dalam darah daging orang Minang mengalir ajaran 'Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah'. 

Itulah yang kemudian membuat warga Minang di berbagai belahan, kaget dan marah ketiga ada yang membuat rendang berbahan daging babi. Apalagi diberi nama berbahasa Minang. 

Memang tak ada pelanggaran hukum. Semua penolakan atas rendang babi itu  merujuk pada falsafah 'Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah'. Rendang adalah ciptaan nenek moyang orang Minang, sehingga harus tunduk pada falsafah itu 

Pelanggarannya hanya etika yang seharusnya kastanya lebih tinggi dari hukum. Namun di tengah bangsa yang lebih mengagungkan hukum ketimbang etika, ada baiknya para ninik mamak dan pituo mulai berbicara hukum atas produk kuliner khas Minang. Termasuk yang mengandung kata 'padang' dalam brand produk.

Patenkan, agar bicaranya tak lagi etika, karena etika masih tong sampah di negeri ini. Kalau perlu daftarkan ke badan PBB Unesco sebagai warisan tak benda milik urang awak

Sertifikasi semua makanan olahan dan pangan segar ciptaan orang Minang agar tetap bersandar pada 'Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Dengan demikian, konsumen pun tenang dan tetap lantang berteriak, "Tambuoh ciekkk," karena nyaman makan. (****)

Salam,

 


Amiruddin Sormin
Wartawan Utama



#Masakan # kuliner # khas # Minang # rendang # halal # haram
Berita Terkait
Ulasan