Pilu, Empat Anak Difabel di Way Jepara Lampung Timur Hidup Tanpa Orang Tua, Ayah di Penjara, Ibu Meninggal

anak difabel di Lampung Timur hidup tanpa orang tua. [Suaralampung.id/Agus Susanto]

SUKADANA (Lampungpro.co): Kisah pilu, empat anak penyandang difabel di Desa Braja Sakti, Way Jepara, Lampung Tengah, hidup tanpa orang tua sejak kecil. Mereka yakni  Kinarti (12), Apriliyani (21), Susilo, Suwandi, adalah peyandang disabilitas keterbelakangan mental.

Mereka tinggal di rumah itu tanpa kedua orang tua. Ini karena ayahnya harus mendekam di penjara sejak 2019, sementara ibunya sudah meninggal dunia, membuat mereka hidup serba terbatas.

Tak ada meja, kursi, juga televisi di ruangan seluas 3x3 meter. Hanya temaram bohlam menjadi teman kakak beradik yang sedang asyik bercengkrama. 

Mereka tinggal di rumah terbilang jauh dari kata layak, karena hanya berdindingkan kayu sudah tampak lapuk, kamar tidur hanya satu dengan kondisi seperti tidak terawat. Piring, gelas, dan peralatan dapur lainnya berserak tidak tersusun rapi, pakaian pakaian kotor menggunung di lantai dapur.

"Ibu sudah lama meninggal, kalau bapak ditangkap polisi sudah lama. Saya tinggal sama adik dan dua kakak laki-laki di rumah ini," kata Apriliyani dilansir Suara.com (jaringan media Lampungpro.co), Rabu (27/7/2022).

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Suwandi harus menjadi tulang punggung, menawarkan jasa jadi tukang urut dengan upah seikhlasnya. Sementara Susilo juga difabel, justru tidak memiliki naluri pekerjaan yang bisa menghasilkan uang.

Sementara itu, pegiat sosial di Lampung Timur, Rumiatun mengaku, kondisi sosial mereka benar-benar miris. Hidup dengan kondisi keterbelakangan mental, ditambah tanpa orang tua, mereka harus putus sekolah dasar (SD). 

"Saya memberi perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Saya bergerak secara sukarela, tidak berharap apapun karena hanya merasa prihatin, ketika melihat kondisi Apriliyani dan Kinarti," ujar Rumiatun.

Awal mula Rumiatun mengetahui kondisi mereka, tahun 2019 akhir, ketika dirinya mengadakan kegiatan di Yayasan Rumah Kreatif bersama teman-temannya, ada yang bercerita tentang Apriliyani dan Kinarti.

"Saya sudah berkoordinasi dengan pamong setempat, seperti Ketua RT, Kepala Dusun, dan Kepala Desa Braja Sakti. Tujuannya agar memberikan perhatian secara sosial ke mereka," jelas Rumiatun.

Sebab Rumiatun merasa kasihan, melihat keempat anak tersebut, hidup tanpa kedua orang tua. Bahkan, untuk makan sehari-hari sering diberi warga sekitar, karena jika mengandalkan Suwandi, tentu jauh dari cukup. (***)

Editor : Febri Arianto
Kontributor : Agus Susanto


>

#Difabel # Way Jepara # Lampung Timur # Dinas Sosial # Pegiat Sosial # Kemiskinan
Berita Terkait
Ulasan