Opini : Menggunakan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar Dalam Pergaulan, Siapa Takut

Guru Bahasa Indonesia SMA N 1 Kalianda, Henny Pratiwi, M. Pd., | Lampungpro.co/Ist

Oleh : Henny Pratiwi, M. Pd., Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Kalianda, Lampung Selatan


LAMPUNGPRO.CO : Kamu nanyeaa rambut akyu model apa? Affh iyyh? Mager, Gamon, Bucin, dan sebagainya merupakan sebagian kecil dari penggunaan bahasa gaul dikalangan anak muda zaman sekarang. Maraknya penggunaan bahasa gaul ini tidak terlepas dari penggunaan media sosial yang semakin meluas yang bahkan meliputi semua kalangan usia.

Entah berasal dan berawal dari mana berbagai penciptaan kosakata-kosakata baru yang dapat dikatakan sebagai “penyelewengan bahasa” ini digunakan. Yang jelas, setiap tahun selalu muncul kata-kata baru yang dianggap “gaul dan keren” pada masa itu. 

Jika diingat-ingat berapa tahun silam kalangan anak muda Indonesia akrab dengan kosakata gaul capekdehh atau kata prikitieww. Kemudian bermunculan pula singkatan-singkatan gaul seperti baper (terbawa perasaan), bucin (budak cinta), gercep (gerak cepat), dan lain-lain. 

Hal ini menjadi semakin akrab di telinga kita manakala pemakaian kata-kata tersebut telah memasuki berbagai ranah bahkan di sekolah atau tempat formal lainnya. Meskipun pemakaian kata-kata tersebut dianggap sebagai salah satu bahan candaan ataupun bahan komunikasi efektif yang mempererat hubungan satu orang dengan orang lainnya, namun seringkali kita tidak menyadari bahwa hal ini menjadi salah satu penyebab mulai tergerusnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar terutama saat berada dalam lingkungan pergaulan. 

Hal ini didukung oleh penggunaan media sosial yang turut berperan sebagai media publikasi kosakata-kosakata tersebut. Lantas yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita sebagai masyarakat Indonesia, remaja muda-mudi Indonesia begitu enggan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar alih-alih menggunakan atau menciptakan bahasa baru yang kadang memiliki multitafsir dan konotasi yang kurang baik? Tidak merasa “gaul” kah kita atau dikucilkankah kita apabila menggunakan bahasa Indonesia yang baik dalam pergaulan sehari-hari? Tentu hal ini hanya diri kita sendiri yang dapat menjawabnya.

Hal lain yang perlu diingat adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa yang sudah selayaknya dipergunakan secara luas dan dilestarikan pemakaiannya. Tidak selamanya keren atau gaul itu hanya dilihat dari seberapa hebat dia menguasai dan menggunakan bahasa gaul tersebut.

Tapi, penilaian terhadap orang tetap bergantung pada tingkah laku terutama misalnya saat kita bertemu dan mengobrol dengan orang yang usianya jauh lebih tua daripada kita. Bagaimana cara kita memilih diksi yang tepat, bahasa yang mudah dipahami, dan berkonotasi baik untuk pendengarnya.

Oleh karena itu, sudah selayaknya kita sebagainya masyarakat Indonesia yang sudah memiliki bahasa sendiri, bahasa yang memiliki dan menjunjung nilai-nilai kesantunan yang baik menggunakan bahasa Indonesia tersebut dengan sebaik-baiknya, termasuk dalam dunia pergaulan. Boleh-boleh saja menggunakan bahasa gaul atau bahasa yang sedang tren saat ini namun jangan sampai kebablasan apalagi jika bahasa atau kosakata tersebut memiliki konotasi yang tidak baik. (***) 



#Bahasa Indonesia # Bahasa Gaul # SMA1 Kalianda # Bahasa # Lampung
Berita Terkait
Ulasan
X