Kemarau, Petani Wayjepara Lampung Timur Gunakan Genset Sedot Sisa Air Irigasi

LAMPUNG TIMUR (Lampungpro.Com): Musim panas yang sudah berlangsung sejak Agustus, semakin terasa dampaknya terutama bagi petani, Seperti yang dilakukan Sutar (50), petani Desa Labuhanratu 1, Kecamatan Wayjepara, Lampung Timur, mencari solusi dengan menggunakan mesin genset untuk mengairi tanamannya, Sabtu (23/9/2017).

Sutar mengaku sejak semalam, mesin genset dia hidupkan guna menyedot air sisa-sisa yang ada di irigasi (ledeng) yang sudah keruh dan berlumut. Langkah tersebut menjadi solusi utama untuk mempertahankan tanaman jeruk miliknya. “Daunnya mulai rontok. Kalau tidak disiasasati dengan mesin genset bisa bangkrut. Mungkin bukan saya saja yang melakukan hal ini, petani lain juga melakukannya untuk mempertahankan tanamannya,” kata Sutar.

Dia juga mengatakan tantangan petani semakin tahun semakin banyak. Seperti persoalan hama tikus yang susah ditanggulangi dan sering menyebabkan menurunnya produksi padi saat panen. Selain hama, kondisi air sudah sangat terasa dampaknya bagi petani, khususnya yang memanfaatkan air dari Danau Wayjepara. “Karena kondisi air yang tidak lagi maksimal, petani sudah banyak yang beralih tanam dari padi menjadi jeruk,” kata dia.

Sementara itu, Pegawai KPD Pengairan Bagian Oprasional dan Pemeliharaan Lampung Timur, Marjianto, saat ditemui beberapa waktu lalau mengatakan, Danau Wayjepara yang luasnya 220 hektare jika kondisi debit normal bisa mengairi sawah seluas lima ribu hektare lebih. Menurut dia, bukan hanya kemarau yang menjadi penyebab penurunan debit justru pendangkalan danau juga menjadi penyebab utama kurangnya debit air. Sebab, dengan terjadinya pendangkalan oleh lumpur maka lumpur akan menutupi sumber mata air.

Dia juga menjelaskan pemerintah pusat sudah mendatangkan alat penyedot lumpur, tapi belum selesai pengerjaannya sudah berhenti. Marjianto tidak tahu mengapa proyek pengerukan Danau Wayjepara dihentikan. “Kami kurang paham soal pengerukan itu mengapa dihentikan,” kata dia.

Selama irigasi mengering, akan dilakukan pengecekan kondisi irigasi baik irigadi primer sepanjang 18,177 km, dan jaringan skunder  sepanjang 43, 458 km. Sebab, jika kondisi irigasi mengalami kerusakan juga menjadi penyebab pemborosan air hingga mencapai 30 persen. “Kalau irigasi mengalami kerusakan seperti talut jebol maka air akan meresap ke tanah,” kata dia. (SUSANTO/PRO2)

 



#Kekeringan # Sedot Air # Genset # Tanaman # Padi # Jeruk # Hama # Danau # Wayjepara # Lampung Timur
Berita Terkait
Ulasan