(Fiksi): Pada suatu masa, di negeri yang jauh bernama Daqian, berdirilah sebuah desa tua yang dikenal sebagai Desa Ababa. Desa ini hidup dalam irama yang sama dari tahun ke tahun. Setiap kali musim tertentu tiba, seluruh warganya menjalani sebuah ritual agung: berpuasa untuk Sang Pencipta, sebagai tanda syukur dan penghambaan.
Saat malam turun dan bintang menggantung di langit, Desa Ababa tak pernah benar-benar sunyi. Warga berkumpul membaca kitab suci agama mereka. Sebagian melantunkannya dengan suara keras, bahkan berteriak-teriak, karena mereka percaya semakin lantang suara diperdengarkan, semakin besar pula cinta yang sampai kepada Tuhan.
Namun Desa Ababa adalah desa yang telah berumur panjang, seperti pohon tua yang akarnya menyimpan banyak kenangan. Banyak warganya adalah para lansia yang memerlukan keheningan malam untuk beristirahat. Bagi mereka, teriakan doa yang menggema hingga larut malam bukanlah sumber ketenangan, melainkan gangguan yang menggerus waktu tidur. Keluhan pun mulai terdengar, bukan dengan amarah, melainkan dengan nada lelah.
Melihat keadaan itu, kepala desa bersama para sesepuh berkumpul dalam musyawarah yang panjang. Mereka tak ingin ibadah berubah menjadi sumber perpecahan. Akhirnya, lahirlah sebuah kesepakatan bijak: pada waktu-waktu tertentu, pembacaan kitab suci boleh dilantangkan dengan suara keras, namun di luar itu dianjurkan dibaca dengan lembut bahkan cukup terdengar oleh diri sendiri. Bukankah Tuhan Maha Mendengar? Bisik di dalam hati pun tak pernah luput dari-Nya.
Kesepakatan itu membawa ketenangan. Malam kembali menemukan keseimbangannya. Para lansia dapat beristirahat dengan damai, sementara para pemuda tetap memiliki ruang untuk menyalakan semangat ibadah mereka. Desa Ababa pun kembali seperti dulu hening, tenteram, dan saling menjaga.
Namun ketenangan itu rupanya tak dirasakan oleh semua orang.
Di balik rumah kepala desa, tinggal istrinya, seorang perempuan bernama Bu Suri. Jiwanya masih muda dan bergelora. Ia berasal dari desa terpencil, tumbuh dengan semangat yang keras, namun belum sepenuhnya ditempa oleh kebijaksanaan. Baginya, kesepakatan itu bukan jalan tengah, melainkan belenggu. Ia merasa malam-malam ritual telah kehilangan gegap gempitanya, dan para pemuda seakan kehilangan panggung untuk meluapkan semangat mereka.
Setiap kali bertemu warga, Bu Suri mulai menabur kata-kata yang terdengar membela, namun menyimpan api. Ia berkata bahwa para lansia telah hidup terlalu lama dan terlalu menguasai desa. Ia menuduh mereka egois, hanya memikirkan kenyamanan sendiri tanpa peduli semangat anak-anak muda. “Karena mereka,” bisiknya, “desa ini menjadi sunyi dan kehilangan gairah.”
Kata-kata itu menyebar lebih cepat dari doa yang dibaca perlahan. Dari sudut pasar hingga pelataran rumah ibadah, bisik-bisik berubah menjadi keyakinan. Warga yang semula rukun mulai saling menatap dengan curiga. Malam yang dulu tenang kembali diisi suara perdebatan. Padahal kepala desa tetap sosok yang adil dan bijaksana namun kegaduhan lahir bukan dari keputusannya, melainkan dari bayang-bayang di belakangnya.
Akhirnya, kepala desa mengumpulkan seluruh warga di balai desa pada suatu malam ketika bulan menggantung bulat di langit. Dengan suara tenang namun tegas, ia mengingatkan kembali asal mula kesepakatan itu: tentang keseimbangan, tentang saling menghormati, dan tentang ibadah yang seharusnya meneduhkan, bukan melukai.
“Tuhan tidak menghitung seberapa keras suara kita,” ucapnya, “melainkan seberapa tulus hati kita.”
Kata-kata itu meredakan amarah. Warga mulai menyadari bahwa ritual tidak pernah dilarang, hanya diatur agar semua dapat hidup berdampingan. Lalu kepala desa menatap istrinya. Tak ada hardikan, hanya nasihat yang dalam. Bahwa menjadi istri seorang pemimpin bukan sekadar mendampingi, melainkan ikut memikul tanggung jawab. Setiap kata darinya bukan hanya milik pribadi, melainkan gema yang bisa mengguncang seluruh desa.
Bu Suri terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat akibat dari ucapannya sendiri. Api yang ia kira membangkitkan semangat ternyata hampir membakar persaudaraan. Ia pun menunduk, menyadari bahwa kebebasan tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan kekacauan.
Sejak malam itu, Bu Suri berubah. Ia belajar menahan kata, menimbang rasa, dan merangkul tanpa memecah. Ia mendekati para lansia dengan hormat, dan para pemuda dengan ajakan damai. Perlahan, Desa Ababa kembali menemukan nadanya. Doa tetap terdengar, semangat tetap hidup, namun tak lagi saling melukai.
Dan begitulah, Desa Ababa kembali tenang. Ritual tahunan tetap berlangsung. Para pemuda tetap bersemangat, para lansia tetap beristirahat dengan damai. Tak ada kegaduhan, hanya kehidupan yang berjalan seimbang. (EdAI)
Berikan Komentar
Sorak bahagia pecah di GSG Karya Bakti, tapi realisasi...
2438
Humaniora
676
Bandar Lampung
712
184
25-Feb-2026
257
25-Feb-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia