Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Menengok Potensi Kakao di Lampung Timur, Satu Hamparan Terasa Tiga Hektare
Lampungpro.co, 04-Feb-2026

Febri 235

Share

Bibit Kakao Lampung Timur | Ist/Lampungpro.co

SUKADANA (Lampungpro.co): Potensi kakao di wilayah Lampung Timur, dinilai sangat besar dan menjanjikan, bahkan mampu menjadi penopang ekonomi berlapis bagi para petani, jika dikelola secara optimal dan berkelanjutan.

Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APiK) Lampung Timur, Japung Lasarus mengatakan, tanaman kakao bukan sekadar komoditas perkebunan, melainkan sistem pertanian yang mampu menghidupi petani dari berbagai sisi.

Menurutnya, kakao memiliki keunggulan karena dapat ditanam secara tumpang sari. Dalam satu hamparan lahan, petani bisa memanen hasil dari lapisan bawah, tengah, hingga atas.

"Kalau bahasa kami, menanam kakao itu satu hektare terasa tiga hektare. Di bawah pohon kakao bisa tanam talas atau umbi-umbian, tajuk tengah kakao, dan tajuk atas bisa kelapa atau alpukat, jadi panennya berlapis," kata Japung Lasarus dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).

Kata Japung, kakao Lampung Timur sempat mengalami kemunduran sekitar tahun 2010-2012 akibat serangan hama busuk buah, yang membuat banyak petani menebang tanaman dan beralih ke komoditas lain.

Namun sejak tahun 2025, kakao perlahan bangkit kembali, berkat kehadiran offtaker dan pendampingan intensif langsung oleh Bupati Lampung Timur, Ella Siti Nuryamah.

"Kebangkitan kakao ini, tidak lepas dari peran offtaker seperti PT Papandayan dan Olam, yang datang membawa klon baru lebih tahan hama, sekaligus mendampingi petani dari Pemkab Lampung Timur," ujar Japung.

Selain offtaker, Japung menyebut geliat kakao Lampung Timur juga didukung kolaborasi dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat atau NGO, yang aktif mendampingi petani dari sisi budidaya hingga pasca panen.

Meski demikian, ia mengakui saat ini masih ada tantangan besar yang dihadapi para petani, terutama persoalan keamanan di kebun. Kondisi tersebut, membuat petani kerap memanen kakao sebelum matang sempurna.

Saat ini, harga kakao di tingkat petani Lampung Timur masih berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu perkilogram untuk kakao basah. Padahal potensi harga, bisa jauh lebih tinggi jika kakao dipanen secara matang, dan difermentasi dengan baik.

Guna mendorong peningkatan kualitas, APiK bersama Pemkab Lampung Timur tengah merintis kerja sama dengan mitra dari Bandung, guna mengembangkan kakao premium.

Program tersebut, mencakup pendampingan teknis, penyediaan alat fermentasi, hingga penggunaan solar dryer untuk pengeringan.

Selain itu, kunci keberhasilan pengembangan kakao ke depan juga terletak pada penguatan kelembagaan petani, di mana para petani berkelompok akan lebih mudah berkembang, belajar bersama, serta menjaga keamanan kebun secara kolektif. (***)

Editor : Febri Arianto

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
BOSDA SMP Negeri Masih Diet, Anggaran SMA...

BOSDA SMP Negeri sendiri, menurut berbagai hitung-hitungan yang disampaikan...

1123


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved