JAKARTA (Lampro): Macan tutul (Panthera pardus melas) yang diduga telah punah akibat perburuan dan perambahan terlihat kembali keberadaannya di Suaka Margasatwa Cikepuh, Sukabumi, Jawa Barat, melalui kamera jebak (camera trap).
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat Sustyo Iriyono di Jakarta, Kamis (9/2/2017), mengatakan kabar gembira itu diketahui berdasarkan hasil pengamatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat pada Juli-Agustus 2016.
Hal itu berawal dari informasi dari peneliti mahasiswa dan masyarakat sekitar kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh, serta hasil survei primata International Animal Rescue (IAR). Menurut dia, mengungkap adanya tanda-tanda keberadaan macan tutul seperti cakaran, kotoran, dan jejak. Namun, hal ini masih diragukan mengingat minimnya data yang tersedia.
Guna menjawab keraguan tersebut, BBKSDA Jawa Barat sebagai pengelola kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh, bersama masyarakat, IAR, dan Yayasan Harimau melakukan pengamatan untuk menguji kebenaran informasi keberadaan macan tutul tersebut.
Pengamatan menggunakan kamera jebak pada lokasi-lokasi yang diduga menjadi wilayah jelajah, serta area tempat ditemukannya tanda-tanda keberadaan macan tutul. Hasil pengamatan selama 28 hari, kata Sustyo, memperlihatkan tujuh frame video yang menunjukkan aktivitas macan tutul di suaka margasatwa itu.
Dari video itu diketahui sebanyak tiga individu merupakan macan tutul dengan pola tutul kuning, sedangkan satu individu merupakan varian tutul hitam atau yang sering dikenal dengan macan kumbang.
Identifikasi menunjukkan keempat macan tutul tersebut sebagai individu yang berbeda. Melalui analisa sederhana, diprediksi populasi macan tutul di Suaka Margasatwa Cikepuh saat ini sekitar 12 ekor. Pengamatan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui kepastian jumlah individu serta sex ratio macan tutul di kawasan ini.
Kepunahan macan tutul secara lokal diduga akibat rusaknya 50 persen kawasan Suaka Margastawa Cikepuh karena perambahan pada awal era reformasi 1998-2001, disertai perburuan.
Sebagai tindak lanjut hasil pengamatan ini, KLHK akan menyusun beberapa program dan rencana kerja yang disinergikan dengan program strategis kawasan lainnya. Di antaranya, inventarisasi macan tutul, mitigasi konflik macan tutul, pengendalian kebakaran hutan, pengembangan zona inti Geopark Ciletuh, reintroduksi satwa liar lainnya, serta restorasi habitat satwa. (*/ANT/PRO2)
Berikan Komentar
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat.
6059
480
07-May-2026
497
07-May-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia