Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Macan Tutul Kembali Terlihat di Suaka Margasatwa Cikepuh
Lampungpro.co, 10-Feb-2017

Lukman Hakim 3215

Share

JAKARTA (Lampro): Macan tutul (Panthera pardus melas) yang diduga telah punah akibat perburuan dan perambahan terlihat kembali keberadaannya di Suaka Margasatwa Cikepuh, Sukabumi, Jawa Barat, melalui kamera jebak (camera trap).

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat Sustyo Iriyono di Jakarta, Kamis (9/2/2017), mengatakan kabar gembira itu  diketahui berdasarkan hasil pengamatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat pada Juli-Agustus 2016.

Hal itu berawal dari informasi dari peneliti mahasiswa dan masyarakat sekitar kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh, serta hasil survei primata International Animal Rescue (IAR). Menurut dia, mengungkap adanya tanda-tanda keberadaan macan tutul seperti cakaran, kotoran, dan jejak. Namun, hal ini masih diragukan mengingat minimnya data yang tersedia.

Guna menjawab keraguan tersebut, BBKSDA Jawa Barat sebagai pengelola kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh, bersama masyarakat, IAR, dan Yayasan Harimau melakukan pengamatan untuk menguji kebenaran informasi keberadaan macan tutul tersebut. 

Pengamatan menggunakan kamera jebak pada lokasi-lokasi yang diduga menjadi wilayah jelajah, serta area tempat ditemukannya tanda-tanda keberadaan macan tutul. Hasil pengamatan selama 28 hari, kata Sustyo, memperlihatkan tujuh frame video yang menunjukkan aktivitas macan tutul di suaka margasatwa itu.

Dari video itu diketahui sebanyak tiga individu merupakan macan tutul dengan pola tutul kuning, sedangkan satu individu merupakan varian tutul hitam atau yang sering dikenal dengan macan kumbang.

Identifikasi menunjukkan keempat macan tutul tersebut sebagai individu yang berbeda. Melalui analisa sederhana, diprediksi populasi macan tutul di Suaka Margasatwa Cikepuh saat ini sekitar 12 ekor. Pengamatan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui kepastian jumlah individu serta sex ratio macan tutul di kawasan ini.

Kepunahan macan tutul secara lokal diduga akibat rusaknya 50 persen kawasan Suaka Margastawa Cikepuh karena perambahan pada awal era reformasi 1998-2001, disertai perburuan. 

Sebagai tindak lanjut hasil pengamatan ini, KLHK akan menyusun beberapa program dan rencana kerja yang disinergikan dengan program strategis kawasan lainnya. Di antaranya, inventarisasi macan tutul, mitigasi konflik macan tutul, pengendalian kebakaran hutan, pengembangan zona inti Geopark Ciletuh, reintroduksi satwa liar lainnya, serta restorasi habitat satwa. (*/ANT/PRO2)

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Menuju Kota Metropolitan, Bandar Lampung Dinilai Masih...

Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat.

6059


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved