CIANJUR (Lampungpro.com): Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan (DPPKBP) Cianjur, Provinsi Jawa Barat, mencatat angka pernikahan dini masih tinggi di wilayah tersebut. Program pendewasaan usia perkawinan (PUP) semakin diintensifkan pada remaja untuk mencegah pernikahan dini. Ini berkaitan dengan antisipasi terjadinya ledakan penduduk karena masih banyak pernikahan dini di Cianjur," kata Kepala Seksi Pengendalian Penduduk Data dan Informasi Keluarga Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Bencana DPPKBP Cianjur Endang Suryana, di Cianjur, Kamis (18/5/2017).
Pada 2016, tercatat dari total penduduk 2.269.219 jiwa, terdapat 2,89 persen anak di bawah 20 tahun melakukan pernikahan dini. Di mana, idealnya perempuan menikah pada usia 21 tahun dan laki-laki pada usia 25 tahun. Berdasarkan data yang terbilang besar tersebut, kata dia, dikhawatirkan akan terus meningkat.
Terlebih sejak beberapa tahun terakhir kondisi pergaulan remaja perkotaan serta tradisi remaja/anak di bawah umur di pelosok cenderung pada pergaulan bebas. "Pernikahan perlu dikendalikan karena akan menimbulkan berbagai dampak baik bagi individu pelaku pernikahan atau dampak yang lebih besar terjadinya ledakan penduduk," kata dia, dilansir Antara.
Menurut dia, fenomena pernikahan dini yang biasanya terjadi di kawasan pelosok makin banyak terjadi di perkotaan. Seperti di Kecamatan Mande, Cikalongkulon, Ciranjang, dan Bojongpicung serta di Cianjur kota menjadi kawasan yang rawan terjadinya pernikahan dini.
"Banyak terjadi pernikahan karena pergaulan remaja yang semakin bebas. Artinya, pernikahan terjadi karena dipaksa keadaan, otomatis banyak hal yang akhirnya tidak diperhatikan. Ini menjadi tugas berat BKBPP karena fenomena pernikahan dini di pelosok yang marak terjadi belum bisa diatasi," kata dia.
Untuk itu, tambah dia, pihaknya berkoordinasi dengan pihak terkait gencar melakukan sosialisasi dan pendekatan pada masyarakat. Terkait antisipasi bertambahnya pernikahan dini semakin banyak disampaikan pada anak usia sekolah, agar kalangan remaja mendapatkan pemahaman lebih mengenai risiko pernikahan terlalu dini.
"Kalau pun sudah terlanjur menikah, kami akan berikan sosialisasi Penundaan Anak Pertama (PAP) pada pasangan muda yang belum ideal untuk melahirkan dan punya anak. Bagi pasangan muda yang terlanjur menikah dan sudah pernah memiliki anak dianjurkan untuk mengikuti program KB," kata dia.
Endang menambahkan, pengendalian pertumbuhan penduduk harus didukung dengan ketahanan keluarga. BKBPP memfokuskan diri untuk mengedukasi keluarga menengah ke bawah yang cenderung memiliki anak banyak. Minimnya pemahaman membina keluarga dikhawatirkan dapat menyebabkan pertumbuhan keluarga tidak terkontrol. (*/PRO2)
Berikan Komentar
Dukungan dan legacy yang besar, juga mengandung makna tanggung...
16187
EKBIS
8793
Bandar Lampung
6153
137
04-Apr-2025
136
04-Apr-2025
209
04-Apr-2025
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia