Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Manfaatkan Potensi Ekonomi dan Ekologi, Program Budidaya Lebah Diterapkan di Perbatasan Desa Penyangga Way Kambas
Lampungpro.co, 04-Sep-2026

Febri 191

Share

Budidaya Lebah di Way Kambas Lampung Timur | Ist/Lampungpro.co

SUKADANA (Lampungpro.co): Upaya menekan angka interaksi negatif antara manusia dan satwa liar di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, terus digencarkan melalui pendekatan berbasis alam.

Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatera TNWK, kini mulai mengembangkan program strategis berupa pembangunan pagar sarang lebah, yang berada di batas kawasan konservasi yang tidak hanya berfungsi menghalau gajah, tapi juga mendongkrak ekonomi warga melalui potensi budidaya Lebah Apis Cerana.

Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatera TNWK, Brigjen TNI Sriyanto mengatakan, pembangunan pagar di batas kawasan ini, merupakan langkah taktis untuk mengatasi persoalan klasik konflik manusia dan gajah, yang telah berlangsung sejak dekade 1980-an.

Menurut Sriyanto, konflik tersebut merupakan masalah kompleks yang dipicu oleh krisis keanekaragaman hayati, serta dinamika kepentingan pembangunan, sehingga membutuhkan solusi terpadu.

"Untuk mengatasi hal ini, diperlukan solusi terpadu, seperti menciptakan kawasan satwa liar, memanfaatkan teknologi, dan mendorong upaya konservasi berbasis komunitas," kata Brigjen TNI Sriyanto.

Sebagai bagian dari solusi tersebut, metode pagar sarang lebah yang mengadopsi praktik dari Afrika, juga diterapkan untuk memanfaatkan insting alami satwa, agar menjauh tanpa risiko cedera.

"Pagar sarang lebah adalah salah satu solusi berbasis alam yang telah diujicoba di Afrika, untuk mencegah gajah keluar dari kawasan konservasi. Suara dengungan dan sengatan lebah, akan membuat gajah merasa takut dan menjauh namun tidak membahayakan gajah," ujar Sriyanto.

Selain aspek konservasi, program ini menitikberatkan pada nilai ekonomis tinggi bagi masyarakat sekitar zona penyangga melalui budidaya lebah madu asli Indonesia jenis Apis cerana, yang sangat cocok dengan iklim tropis. Potensi ekonomi ini didorong, mengingat kebutuhan madu nasional terus meningkat setiap tahunnya.

"Kebutuhan madu di Indonesia terus naik 10-15% pertahun. Data Kemenkes 2024, konsumsi madu kita baru 220 gram perkapita pertahun, padahal impor madu masih kurang dari 60% dari total kebutuhan," sebut Sriyanto.

Dari sisi produktivitas, satu koloni Apis cerana mampu menghasilkan 5 hingga 8 kilogram madu pertahun. Dengan asumsi harga jual mencapai Rp150 ribu perkilogram, pemeliharaan 10 koloni lebah berpotensi memberikan tambahan penghasilan keluarga yang signifikan.

Selain mendatangkan pendapatan finansial bagi UMKM lokal, program ini juga memperkuat sektor ekologi dan pertanian warga. Berdasarkan data FAO 2023, ada 75% tanaman pangan sangat bergantung pada proses penyerbukan oleh lebah.

Keberadaan lebah membantu menjaga ekosistem, membantu proses penyerbukan tanaman di sekitar perkebunan warga. (***)

Editor : Febri Arianto

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Gabah Dilarang Keluar, Tapi Mengapa Masih Bisa...

Mengapa pembeli dari luar Lampung mampu menawarkan harga gabah...

311


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved