BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co) : Upaya mengoptimalkan limbah pertanian sebagai sumber pakan alternatif bagi ternak ruminansia terus dilakukan tim peneliti Politeknik Negeri Lampung (Polinela). Melalui penelitian bertajuk “Optimalisasi Kombinasi Perlakuan Fisik dan Biologis untuk Meningkatkan Nilai Nutrisi dan Kecernaan Limbah Lignoselulosa sebagai Pakan Ruminansia Berkelanjutan”, tim peneliti mengembangkan teknologi pengolahan yang memadukan perlakuan fisik dan biologis.
Penelitian tersebut salah satunya menyasar jerami padi yang tersedia dalam jumlah melimpah sebagai hasil samping kegiatan pertanian. Selama ini, pemanfaatan jerami sebagai pakan ternak masih menghadapi berbagai kendala karena struktur lignoselulosa yang kompleks membuat bahan tersebut sulit dicerna secara optimal oleh ternak.
Kondisi itu mendorong tim Polinela mencari pendekatan pengolahan yang dapat meningkatkan kualitas jerami sehingga memiliki nilai guna lebih tinggi sebagai bahan pakan. Perlakuan fisik digunakan sebagai tahap awal untuk membantu membuka struktur bahan, kemudian dilanjutkan dengan pendekatan biologis menggunakan mikroorganisme yang memiliki kemampuan menguraikan komponen lignoselulosa.
Dalam penelitian ini, tim memanfaatkan Phanerochaete chrysosporium, salah satu jenis jamur pelapuk putih yang diketahui memiliki kemampuan dalam membantu proses degradasi bahan berlignoselulosa. Mikroorganisme tersebut dipersiapkan untuk dikembangkan sebagai bioaktivator dalam proses pengolahan jerami padi.
Penelitian melibatkan Desi Maria Sinaga, S.Pt., M.Si., drh. Vindo Rossy Pertiwi, M.Si., dan Ir. Novi Eka Wati, S.Pt., M.Pt., bersama mahasiswa Ilham Darmawan dan Islamy Naswa Alea dari Politeknik Negeri Lampung.
Ketua tim penelitian menjelaskan, pemanfaatan limbah lignoselulosa sebagai pakan tidak dapat dilakukan hanya dengan satu pendekatan. Diperlukan tahapan pengolahan yang tepat agar struktur bahan dapat berubah dan komponen yang sulit dicerna menjadi lebih mudah dimanfaatkan oleh ternak.
Karena itu, penelitian diarahkan pada kombinasi perlakuan fisik dan biologis. Perlakuan fisik diharapkan dapat membantu membuka struktur bahan, sementara proses biologis memanfaatkan aktivitas mikroorganisme untuk membantu menguraikan komponen lignoselulosa.
Salah satu tahapan awal yang dilakukan tim adalah menguji kemampuan pertumbuhan P. chrysosporium pada media kultur cair. Tahapan ini penting untuk memastikan mikroorganisme dapat tumbuh dengan baik sebelum digunakan dalam proses pengolahan jerami padi.
Proses penelitian diawali dengan melakukan peremajaan isolat jamur pada media Potato Dextrose Agar (PDA). Setelah itu, isolat diinokulasikan secara aseptik ke dalam media cair yang menggunakan bahan dasar glukosa dan pepton.
Kultur kemudian diinkubasi pada suhu 30 derajat Celsius selama tujuh hari. Selama masa inkubasi, tim melakukan pengamatan secara berkala untuk melihat perkembangan kultur sekaligus memastikan kondisi media tetap sesuai dan tidak mengalami kontaminasi.
Parameter yang diamati antara lain perubahan pH, perkembangan miselium, serta kondisi kultur selama proses inkubasi. Pengamatan tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan kesiapan jamur untuk dikembangkan sebagai bioaktivator pada tahap penelitian selanjutnya.

Hasil pengamatan menunjukkan kultur cair P. chrysosporium mampu menghasilkan biomassa miselium yang memadai. Temuan awal tersebut memberikan indikasi bahwa mikroorganisme tersebut memiliki potensi untuk digunakan dalam pengolahan bahan berlignoselulosa, khususnya jerami padi.
Meski demikian, tim peneliti menegaskan bahwa pertumbuhan jamur pada kultur cair bukan menjadi tujuan akhir penelitian. Tahapan tersebut merupakan bagian awal yang menjadi dasar untuk memasuki proses pengolahan limbah pertanian secara lebih lanjut.
Tahap berikutnya akan diarahkan pada pemanfaatan bioaktivator dalam pengolahan jerami padi, kemudian dilanjutkan dengan pengujian terhadap perubahan kualitas bahan, terutama dari sisi nilai nutrisi dan tingkat kecernaannya sebagai pakan ruminansia.
Melalui pendekatan tersebut, penelitian diharapkan dapat menemukan kombinasi perlakuan yang paling efektif dalam meningkatkan kualitas limbah lignoselulosa. Dengan demikian, jerami padi yang sebelumnya lebih banyak dipandang sebagai hasil samping pertanian dapat diolah menjadi bahan pakan yang memiliki nilai tambah.
Pengembangan teknologi tersebut juga dinilai sejalan dengan prinsip peternakan berkelanjutan. Pemanfaatan limbah pertanian sebagai sumber pakan lokal tidak hanya berpotensi meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya, tetapi juga dapat membantu mengurangi jumlah limbah yang belum termanfaatkan secara optimal.
Selain itu, pemanfaatan bahan lokal sebagai pakan berpotensi mendukung ketersediaan sumber pakan alternatif bagi peternak. Pengolahan yang tepat diharapkan mampu meningkatkan kualitas bahan sehingga dapat lebih mudah dimanfaatkan dalam sistem produksi ternak ruminansia.
Penelitian Polinela ini juga tidak semata-mata berfokus pada penggunaan satu jenis mikroorganisme. Lebih luas, tim berupaya membangun model pengolahan limbah lignoselulosa melalui integrasi teknologi fisik dan biologis yang dapat dikembangkan sesuai karakteristik bahan dan kebutuhan pakan.
Pertumbuhan P. chrysosporium yang baik pada tahap kultur cair menjadi salah satu dasar penting untuk melanjutkan penelitian menuju tahap pengolahan jerami padi. Selanjutnya, efektivitas kombinasi perlakuan akan diuji melalui pengukuran nilai nutrisi serta kecernaan bahan.
Jika tahapan tersebut menunjukkan hasil yang optimal, inovasi ini berpeluang dikembangkan sebagai salah satu alternatif teknologi pengolahan pakan berbasis limbah pertanian. Hal tersebut sekaligus dapat memperkuat pemanfaatan potensi lokal dan mendukung penerapan konsep ekonomi sirkular di sektor pertanian dan peternakan.
Melalui penelitian ini, Politeknik Negeri Lampung terus mendorong lahirnya riset terapan yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga diarahkan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Pemanfaatan jerami padi sebagai pakan ruminansia menjadi salah satu contoh bagaimana hasil samping pertanian dapat dikembangkan menjadi sumber daya yang lebih bernilai.
Ke depan, hasil penelitian tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap pengembangan teknologi pakan yang lebih efisien, berbasis sumber daya lokal, serta mendukung sistem peternakan ruminansia yang berkelanjutan di Lampung. (***)
Editor : Sandy,
Berikan Komentar
“Beras naik terus, pemerintah ini ngapain aja?” Pertanyaan itu...
898
Kominfo Lampung
1101
Lampung Utara
544
Kominfo Lampung
1055
277
29-Aug-2026
453
29-Aug-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia