JAKARTA (Lampungpro.co): Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, menyoroti sikap pemerintah Indonesia yang tidak menurunkan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) disaat harga minyak mentah dunia anjlok. Menurut Tulus, hal itu merupakan penyakit inkonsistensi yang lama diidap oleh pemerintah.
"Ini tidak bisa dilihat hitam putih pada konteks regulasi yang ada. Tetapi juga dinamika-dinamika lain, baik pada konteks historis maupun sekarang ini. Jadi sumbu persoalannya, pemerintah inkonsisten soal kebijakan energi dari sisi hulu ke hilir, terkait dengan BBM maupun listrik. Ini penyakit lama pemerintah," kata Tulus dalam virtual public discussion, yang digelar Komisi Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Jumat (22/5/2020) kemarin.
Tulus mencontohkan pengalaman masa lalu, di mana pemerintah memiliki kesempatan untuk menaikkan harga BBM, namun ditahan karena alasan politis. "Contohnya tarif listrik, tarif BBM pada 2018 lalu kan mustinya naik. Tapi kan tidak dinaikkan. Karena apa? Karena alasan pemilu. Sampai dua tahun tidak ada kenaikkan tarif listrik dan BBM," jelas dia.
"Padahal kalau menurut regulasi, regulasinya jelas, mustinya itu naik. Apalagi jika alasannya nilai tukar USD dan segala macam. Ini penyakit pemerintah, operator dan konsumen akhirnya dikorbankan," lanjut Tulus.
Tulus menambahkan, kemungkinan besar alasan pemerintah tidak menurunkan harga BBM karena 'ingin' menyelamatkan Pertamina. "Pemerintah samacam 'ingin' memberikan kompensasi atas piutang Rp 80 triliun Pertamina kepada pemerintah," katanya lagi. Menurutnya, sebagai BUMN, Pertamina sering dibebani dengan tugas-tugas berat oleh pemerintah.
"Sebagai BUMN paling tajir, Pertamina banyak diberi penugasan di luar tugas mereka, yang seharusnya itu jadi tugas pemerintah. Tapi karena demi kepentingan politik dan sebagainya harus Pertamina yang menanggung," ujar Tulus.
"Contohnya, kebijakan BBM satu harga di seluruh Indonesia, itu siapa yang menanggung? Harusnya kalau berdasarkan cost yang ada, itu harusnya kan ditanggung APBN, tapi karena ini demi merah putih demi NKRI. Kemudian Pertamina yang menanggung dan sampai sekarang tidak dibayar tidak diganti. Akhirnya menjadi kontra produktif bagi BUMN seperti Pertamina," jelasnya.(**/PRO2)
Berikan Komentar
Dukungan dan legacy yang besar, juga mengandung makna tanggung...
16354
EKBIS
8994
Bandar Lampung
6321
295
04-Apr-2025
253
04-Apr-2025
233
04-Apr-2025
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia