Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Penelitian, Buzzer di Indonesia Dukung Pemerintah RI
Lampungpro.co, 05-Oct-2019

Erzal Syahreza 603

Share

Ilustrasi buzzer.

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co): Penelitian dari Universitas Oxford menelisik pasukan siber atau buzzer politik di 70 negara. Buzzer politik di Indonesia disebut terdiri atas robot dan manusia.

"Propaganda lewat komputasi, penggunaan algoritme, automasi, dan big data untuk membentuk kehidupan publik--kini menjalar ke seluruh bagian keseharian hidup," tulis penelitian itu, dilansir dari situs resmi Oxford Internet Institute, Jumat (4/10/2019). 

Penelitian itu bertajuk 'The Global Disinformation Order: 2019 Global Information of Organized Social Media Manipulation' atau 'Orde Disinformasi Global: Informasi Global tentang Manipulasi Media Sosial Terorganisir 2019'. Penelitian ini adalah karya Samantha Bradshaw dan Philip N Howard dari Universitas Oxford.

Pasukan siber dalam penelitian ini dimaknai sebagai "Aktor-aktor pemerintah atau parpol yang ditugasi untuk memanipulasi opini publik secara online." Berikut ini paparan terkait jenis akun dan pesan yang dibawa pasukan siber atau 'buzzer' dalam bahasa populer belakangan ini.

Jenis akun

Soal teknik manipulasi medsos, 87% negara menggunakan akun manusia, 80% negara menggunakan akun bot (robot), 11% negara menggunakan akun cyborg (akun otomatis yang dikurasi manusia), dan 7% negara menggunakan akun curian atau retasan. Bagaimana dengan di Indonesia?

Di Indonesia, pasukan siber menggunakan akun bot dan akun manusia. Di Amerika Serikat, Inggris Rusia, dan Jerman misalnya, pasukan siber yang memanipulasi medsos menggunakan akun bot, akun manusia, dan akun cyborg. 

Pesan dan daya tarik

Aktivitas pasukan siber di 70 negara menggunakan pesan dan daya tarik yang bervariasi. 71% Pesan mereka menyebarkan propaganda pro-pemerntah dan pro-partai, 89% menggunakan propaganda komputasional untuk menyerang oposisi politik, dan 34% menyebarkan pesan memecah belah masyarakat. 

Temuan di Indonesia, pesan pasukan siber punya muatan mendukung pemerintah, pesan menyerang oposisi, dan pesan memecah belah. Yang tidak ditemukan adalah pesan pengalihan isu dan pesan menekan partisipasi publik lewat serangan personal atau pelecehan.

Di Turki, pesan dan daya tarik dari aktivitas buzzer adalah mendukung pemerintah dan menyerang oposisi. Di Arab Saudi pesan dan daya tarik dari aktivitas buzzer-nya adalah mendukung pemerintah, menyerang oposisi, memecah belah, dan menekan partisipasi lewat serangan personal dan pelecehan.

Di Amerika Serikat (AS), pesan dan daya tarik dari aktivitas buzzer ada yang mendukung pemerintahnya, menyerang oposisi, mengalihkan isu, memecah belah, dan menekan partisipasi lewat serangan personal dan pelecehan.

Ada 70 negara yang menjadi objek penelitian ini. Tahapan metodologi penelitian ini adalah analisis konten berita yang dipakai pasukan siber, ulasan literatur, penyusunan studi kasus negara, dan konsultasi ahli. Peneliti juga mengaku bekerja sama dengan BBC. (***/PRO3)

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Lampung Dipimpin Mirza-Jihan: Selamat Bertugas, "Mulai dari...

Dukungan dan legacy yang besar, juga mengandung makna tanggung...

16589


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved