Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Tiga Pakar dan Juri Film Nasional Bagikan Ilmunya Pada Peserta FFMI Tahun 2020
Lampungpro.co, 21-Oct-2020

Febri 676

Share

Seminar Daring Film Darmajaya | Ist/Lampungpro.co

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co): Juri Festival Film Mahasiswa Indonesia (FFMI) 2020 membagikan pengalaman dan ilmunya, dalam menjalani profesi sebagai filmaker nasional kepada ratusan peserta se-Indonesia. Dalam agenda seminar lewat daring Kelas Film, yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan FFMI 2020, tiga juri berbagi pengalaman ke peserta FFMI tahun 2020, Selasa (20/10/2020).

Dalam seminar daring yang digelar Pusat Prestasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya ini, ketiganya juga menceritakan awal mula berkarya hingga menjadi filmaker nasional. Ario Rubbik misalnya, yang mengaku sejak awal tidak pernah terpikir dan berniat menjadi insan perfilman.

"Bagi saya, ini memang sangat menarik dari fakultas hukum saat kuliah lalu ke sutradara. Karena tidak ada niat menjadi insan perfilman. Tahun 1999 kuliah belajar menjadi pembantu umum dari audio visual hingga asisten sutradara dan sutradara, kata Ario Rubbik.

Ario sendiri sempat ditertawakan oleh semua teman dan keluarganya, ketika mengatakan akan menjadi sutradara. Namun kendala tersebut, tidak menjadikan halangan bagi setiap orang untuk berkarya. Karena dari keterbatasan itulah, Ario dapat berkarya dengan baik atas kemauan dan niat.

Sementara pemateri lainnya Greg Arya mengungkapkan, dirinya juga tidak pernah terpikir untuk menjadi editor film. Setelah lulus SMA, ia tidak tahu mau kemana dan cita-cita dari awal juga menjadi seorang arsitekur. "Editor memiliki peran cukup penting dan sentral, untuk mengontrol dan membuat ceritanya menjadi baik. Kalaudalam editing pembagian masing-masing, itu saya kerja dengan asisten editor, ungkap lulusan ISI ini.

Kemudian satu pemateri lainnya, Benny Kadarhariarto juga menyebutkan, bahwa keterbatasan jangan dijadikan sebuah kendala. Meski tidak punya kamera, tetapi saat ini bisa menggunakan handphone. Begitu juga dengan pencahayaan, yang masih ada matahari untuk dijadikan objek.

"Jangan menjadikan hidup untuk manja. Apa yang ada di tempat kita jangan manja. Tetaplah menjadi orang yang merasa bodoh, karena dengan merasa bodoh itu akan tetap belajar terus. Sekarang saya juga belajar terus dengan teman-teman, sebut Benny.

Baginya film adalah salah satu media untuk menyampaikan sebuah pesan. Jadi film yang bagus itu, merupakan film yang mempunyai pesan. Benny selalu bilang ke teman-temannya, jangan dari ajakan tetapi dari keresahan untuk menyampaikan pesannya.

Sebelumnya, Wakil Rektor III IIB Darmajaya Muprihan Thaib mengatakan, dengan digelarnya kelas film ini diharapkan sineas-sineas muda dapat menyerap ilmu, yang diberikan oleh ketiga praktisi film nasional. Sehingga diharapkan setiap mahasiswa, dapat mengirimkan karya film terbaiknya untuk merebutkan kategori pemenang dalam FFMI 2020.

"Saya berpesan agar tetap terus berkarya dengan menjaga dan mematuhi protokol kesehatan. Lahirkan karya-karya terbaikmu, meskipun terdapat keterbatasan karena apapun yang dilakukan akan tetap bernilai, kata Muprihan Thalib. (RLS/PRO3)


Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Lampung Dipimpin Mirza-Jihan: Selamat Bertugas, "Mulai dari...

Dukungan dan legacy yang besar, juga mengandung makna tanggung...

16666


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved