Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Ada Masalah Teknis di Malam Sebelum Lion Air Jatuh
Lampungpro.co, 03-Nov-2018

Erzal Syahreza 850

Share

JAKARTA (Lampungpro.com): Minggu malam, 28 Oktober 2018, gelagat mencurigakan ditunjukkan Boeing 737 MAX 8 dengan nomor registrasi PK-LQP yang dioperasikan Lion Air.

Pertama, pesawat itu terbang molor dari jadwal. Seharusnya take off dari Denpasar pukul 19.30 Wita, baru lepas landas hampir tiga jam kemudian. Tak ayal, pendaratan di Bandara Soekarno-Hatta pun terlambat. Lion Air JT 043 baru tiba pada pukul 22.56 WIB.

Namun, itu bukan delay terparah. Data Flightradar24 menunjukkan, PK-LQP pernah mengalami keterlambatan lebih lama saat digunakan dalam penerbangan JT776, rute Denpasar-Manado pada 27 Oktober 2018. Efek dari keterlambatan sebelumnya.

Hari itu, Boeing 737 MAX 8 yang sama dipakai 5 kali terbang. Tak hanya rute domestik, tapi juga internasional. Diawali dari Tianjin, China.

Namun, tak seperti delay biasa, penerbangan minggu malam, dari Denpasar-Jakarta, diwarnai drama.

Pilot Lion Air JT 43 dikabarkan sempat meminta izin untuk return to base (RTB) setelah beberapa menit terbang. Namun, beberapa saat kemudian, penerbang mengabarkan pesawat sudah normal dan tak jadi kembali ke Bandara Ngurah Rai.

Panggilan saat itu dikategorikan sebagai Pan-Pan, yang digunakan dalam situasi urgent atau mendesak, tidak membahayakan jiwa dengan segera, namun membutuhkan bantuan dari petugas di darat.

Seperti dikutip dari atccommunication.com, level panggilan Pan-Pan di bawah Mayday -- dari kata m'aidez -- yang dikeluarkan dalam kondisi mengancam jiwa. Misalnya ketika penerbang kehilangan kendali atas pesawat.

Namun, belakangan, informasi tersebut dibantah pihak bandara. Kepada ABC Australia, Kepala Otoritas Bandara Wilayah IV Bali dan Nusa Tenggara, Herson mengatakan, masalah teknis ditangani di Soekarno-Hatta di mana pesawat mendarat Minggu malam.

Sementara, pejabat navigasi udara mengatakan, pilot Lion Air meminta izin mengubah ketinggian dan meminta prioritas untuk mendarat karena masalah teknis. Pihak bandara kemudian menyediakan Runway 25 untuk landing.

Entah versi mana yang benar. Yang jelas, tidak sampai 8 jam kemudian, Boeing 737 MAX yang sama lepas landas dari Cengkareng pada pukul 06.20 WIB, Senin 29 Oktober 2018.

Namun, PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 tak pernah sampai ke tujuannya, Pangkal Pinang.

Di tengah penerbangan, sang pilot, Bhavye Suneja sempat meminta RTB karena masalah teknis. Izin dikeluarkan, tapi kapal terbang itu tak pernah pulang ke bandara asal. Sekitar 13 menit setelah lepas landas, PK-LQP hilang kontak. Belakangan, ia diketahui berakhir di Tanjung Karawang.

Dirut Lion Air Group Edward Sirait sebelumnya mengakui, ada masalah teknis pada penerbangan Denpasar-Jakarta. Namun, dia menyatakan masalah tersebut telah diselesaikan 'sesuai prosedur'.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Haryo Satmiko mengatakan, pihaknya telah memeriksa pilot serta kru Lion Air JT-043.

"Tim KNKT telah melakukan interview kepada kru pesawat Lion Air JT-043 rute Denpasar-Jakarta yang terbang sehari sebelum kejadian," kata dia, Jumat 2 Oktober 2018.

Sementara itu, pada Jumat 2 November 2018, tim SAR gabungan mengangkat roda pesawat Lion Air di kedalaman 32 meter. Tak jauh dari lokasi di mana bagian kotak hitam, yang diperkirakan sebagai flight data recorder (FDR) ditemukan.

Tim penyelam juga menemukan serpihan badan pesawat, roda hingga bagian mesin yang cukup besar. Pun dengan barang-barang diduga milik penumpang. Ada pakaian, sabuk pengaman, uang dolar Singapura, foto USG, buku yasin, dan lainnya.

Hingga saat ini pencarian terhadap bagian kotak hitam kedua atau cockpit voice recorder (CVR) belum membuahkan hasil. KNKT juga butuh waktu untuk mengambil data yang tersimpan dalam FDR.

Wakil Ketua KNKT Haryo Satmiko mengatakan, membuka FDR tidak semudah membongkar radio. Butuh ketelitian ekstra.

"Black box ini kan bukan dalam keadaan normal. Jadi penanganannya harus agak teliti karena takut datanya rusak," kata dia.

Pada saat KNKT berupaya mendapatkan petunjuk yang bisa menguak misteri penyebab jatuhnya Lion Air nahas, sejumlah informasi berdatangan.

Salah satunya disampaikan seorang perempuan bernama Anastasia Lorinda Dorkas Mengko. Ia mendatangi Posko Basarnas, JICT II, Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Kamis 1 November 2018. (***/PRO3)

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Transportasi Massal Bandar Lampung: Masih Jadi Kebutuhan,...

Masih ada yang berdesakan di angkot yang jumlahnya makin...

1919


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved