JAKARTA (Lampungpro.com): Seorang dai asal Amerika Serikat, Yusuf Estes baru saja tiba di Indonesia, Sabtu (17/3/2018). Rencananya, Estes akan melakukan safari dakwah di berbagai kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bogor, Surabaya, dan Balikpapan. Sebelum menyimak ceramah pria kelahiran 1 Januari 1944 yang mampu meng-Islamkan ribuan orang di dunia, yuk simak kisah singkat Estes saat menjemput hidayah.
Aneh memang ketika Islam dan pemeluknya dicitrakan buruk di Amerika, pendeta Yusuf Estes justru memilih untuk memeluk Islam. Terlahir dari keluarga Kristen yang taat di Midwest, keluarga Estes telah turun-temurun membangun gereja dan sekolah hingga ke pelosok AS.
Sang mantan pendeta ini juga mengaku banyak orang ingin tahu bagaimana dirinya bisa beralih ke agama lain sehingga meninggalkan Kristen. Banyak orang ingin tahu, bahkan mempertanyakan secara detail mengapa saya memeluk Islam, ujar Estes.
Semasa kecil, Estes menempuh pendidikan dasar di Houston, Texas. Kala itu, ia selalu menghadiri acara gereja secara teratur. Estes dibaptis pada usia 12 tahun di Pasadena dan dikenal sebagai anak yang memiliki rasa ingin tahu. Keingintahuannya yang besar terkait ajaran Kristen membuat dia sering mengunjungi gereja-gereja lain.
Estes pun mendatangi gereja Metodis, Episkopal. Nazareth, Agape, Presbyterian dan lainnya. Estes kemudian mempelajari agama lain sepert Hindu, Yahudi, dan Budha. Saat itu, ia mengaku tidak merasa tertarik sedikitpun dengan Islam. Saya tidak menaruh perhatian serius pada Islam. Inilah yang banyak ditanyakan oleh teman-teman, kata dia.
Tak hanya tertarik dengan agama, Estes juga menaruh perhatian pada musik terutama musik klasik, keluarganya pun gemar menikmati musik. Ia bahkan menjadi pelatih Keyboard pada tahun 1960 dan tiga tahun kemudian memiliki studio sendiri di Laurel, Maryland.
Seiring berlalunya waktu, bisnis yang digeluti Estes terus berkembang. Bersama ayahnya, Estes membuat program hiburan dan atraksi. Ia juga membuka toko piano dan organ sepanjang jalan dari Texas, Oklahoma, dan Florida.
Dari bisnis itu, Estes memperoleh pendapatan hingga jutaan dolar AS. Tapi ada satu hal yang mengganjal. Pikirannya tidak merasa tenang. Mengapa Tuhan menciptakan aku? Apa yang Tuhan inginkan? Tapi di agamaku terdahulu, siapa pun harus percaya tanpa perlu bertanya, ujarnya.
Estes merasa aneh ketika terdapat kata trinitas dalam Injil. Masalah itu, menurutnya telah menjadi perhatian selama dua abad. Ia pernah mempertanyakan masalah ini kepada para pendeta. Akan tetapi, tidak ada jawaban yang logis.
Sebaliknya, terlalu banyak analogi dan pendapat yang aneh. Untuk sementara pikiran itu teralihkan oleh kesibukannya dalam mengurusi bisnis. Bisnis Estes terus berkembang, kali ini ia memproduksi lagu-lagu pujian dan mendistribusikannya secara gratis kepada para pensiunan, rumah sakit dan panti jompo. Memberikan siraman rohani kepada orang lain membuatku lupa dengan keraguan yang ku alami, ungkapnya. (**/PRO2)
Berikan Komentar
Dukungan dan legacy yang besar, juga mengandung makna tanggung...
16468
EKBIS
9135
Lampung Selatan
4980
Bandar Lampung
4788
Bandar Lampung
4656
197
04-Apr-2025
268
04-Apr-2025
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia