Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Dosen Polinela Kembangkan Teknik Bio-Hardening untuk Selamatkan Bibit Pisang Kultur Jaringan
Lampungpro.co, 18-Sep-2026

Sandy 163

Share

Bibit pisang hasil kultur jaringan dengan teknik bio-hardening dari Polinela | LAMPUNGPRO.CO/Ist

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co) : Tim peneliti dari Jurusan Budidaya Tanaman Pangan, Politeknik Negeri Lampung (Polinela), tengah mengembangkan teknik bio-hardening untuk mengatasi salah satu masalah klasik dalam pembibitan pisang, yaitu tingginya angka kematian bibit hasil kultur jaringan saat proses aklimatisasi.

Penelitian yang diketuai oleh Dr. Ir. Desi Maulida, S.P., M.Si., bersama anggota tim Nanang Wahyu Prajaka, S.P., M.Biotech., dan Yeni, S.Si., M.Si., ini didanai melalui skema Penelitian Terapan Reguler Dosen DIPA Polinela Tahun Anggaran 2026.

Desi menjelaskan bahwa fase aklimatisasi saat planlet pisang dipindahkan dari lingkungan steril laboratorium ke rumah kaca merupakan titik paling rawan dalam produksi bibit kultur jaringan. Perubahan kondisi yang drastis kerap membuat bibit stres dan gagal tumbuh.

“Banyak pembibit mengeluhkan bibit hasil kultur jaringan yang mati atau tumbuh kerdil begitu dipindahkan ke media tanam biasa. Ini yang ingin kami atasi lewat pendekatan biologis,” ujar Dr. Desi, pada Kamis (17/9/2026).

Dalam penelitian ini, tim menguji aplikasi dua agen hayati, yaitu Trichoderma harzianum dan Bacillus subtilis, baik secara tunggal maupun kombinasi, pada akar planlet tiga varietas pisang Barangan, Kepok, dan Raja sebelum ditanam di media aklimatisasi.

Planlet pisang hasil perbanyakan kultur jaringan dalam kondisi in vitro, sebelum melalui tahap aklimatisasi. (Dok. Tim Peneliti Polinela)

Hasil sementara selama delapan minggu pengamatan menunjukkan bahwa bibit yang diberi kombinasi kedua mikroba tumbuh paling baik, dengan tinggi tanaman rata-rata 13 sentimeter, dibandingkan bibit tanpa perlakuan yang hanya mencapai 10,4 sentimeter. Jumlah daun pada bibit yang diberi perlakuan bio-hardening juga secara konsisten lebih banyak dibandingkan kontrol.

“Dua mikroba ini bekerja membantu akar tumbuh lebih cepat dan membuat tanaman lebih siap menghadapi perubahan lingkungan. Hasilnya konsisten pada ketiga varietas yang kami uji,” kata Desi.

Menurutnya, teknik ini berpotensi menjadi solusi praktis dan ramah lingkungan bagi pembibit pisang skala kecil maupun besar, karena tidak memerlukan bahan kimia sintetis dan relatif mudah diaplikasikan.

Penelitian ini juga melibatkan tiga mahasiswa ini masih akan berlanjut hingga empat bulan ke depan untuk mengamati parameter tambahan, seperti persentase daya hidup bibit, kandungan klorofil, dan ketahanan terhadap stres lingkungan, sebelum hasil lengkapnya dipublikasikan pada jurnal ilmiah nasional.

“Target kami, teknik ini nantinya bisa langsung diterapkan oleh mitra pembibit di Lampung untuk meningkatkan kualitas bibit pisang yang mereka hasilkan,” pungkas Desi. (***)

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Gabah Dilarang Keluar, Tapi Mengapa Masih Bisa...

Mengapa pembeli dari luar Lampung mampu menawarkan harga gabah...

11977


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved