"Belum bisa, gunung api belum bisa diprediksi, agak lama," kata dia, Rabu (26/12/2018).
Suhendar mengatakan, tim dari Badan Geologi belum bisa mendekat ke Gunung Anak Krakatau untuk memantau secara dekat. Sebab, cuaca saat ini tidak memungkinkan. "Cuacanya hujan terus," kata dia. Karena itu, pihaknya belum memastikan kondisi gunung 100 persen dan potensi dampak yang bisa ditimbulkan.
Suhendar mengatakan, potensi terulangnya tsunami dari aktivitas Anak Krakatau bisa saja terjadi kalau ada runtuhan dari badan gunung seperti kejadian pada Sabtu malam, 22 Desember 2018. Saat itu, lereng gunung kolaps seluas 64 hektare dan ada tremor setara magnitudo 3,4 yang episentrumnya ada di Anak Gunung Krakatau. "Makanya penting dilihat secara visual, di lapangan, untuk itu (mengetahui potensi bahaya). Sekarang semua dari udara, kita masih masih tunggu," kata dia.
Suhendar menuturkan, pihaknya juga belum bisa mengetahui, berapa luas badan gunung yang kolaps yang bisa memicu tsunami. Sebab, pantauan sekarang terbatas hanya dari sisi dua dimensi. "Kalau sudah bisa lihat sisi tiga dimensi, volumenya bisa dihitung. Sifatnya kita sekarang masih waspada saja," kata dia.
Kekuatan gempa gunung api, kata Suhendar, tidak bisa menjadi penyebab tunggal terjadinya tsunami. Gempa vulkanik sebelumnya diketahui lebih besar, tapi tak sampai memicu gelombang tinggi. "Selama belum kita touch langsung untuk pengukuran, belum bisa. Kalau hanya sifatnya interpretasi dari foto ya belum bisa 100 persen," kata dia.
Suhendar mengaku, pihaknya sedang mengidentifikasi gunung-gunung di Tanah Air yang mempunyai potensi mirip dengan Gunung Anak Krakatau. "Kalau gunung di laut itu di bagian timur ya kita sedang identifikasi, ya itu kan sudah menjadi pulau di sana, di Laut Banda ada gunung api, di Sulawesi Utara sudah besar. Kalau ini (Gunung Anak Krakatau) masih anak-anak," kata Suhendar.
Dia pun mengimbau warga yang tinggal di lokasi dekat dengan Gunung Anak Krakatau untuk tetap waspada terhadap tsunami. Tak hanya para ahli di Indonesia, fenomena tsunami Selat Sunda yang senyap juga jadi perhatian banyak ilmuwan asing.
Berikan Komentar
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat.
2912
Polinela
991
Pendidikan
893
Kominfo Lampung
917
911
30-Apr-2026
991
30-Apr-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia