Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Media Sosial dan Budikdamber: Ketika Inovasi Terus Tumbuh dari Sebuah Komunitas Digital
Lampungpro.co, 22-Jul-2026

Sandy 240

Share

Dosen Produksi Media Polinela, Sri Astuti, M.I.Kom | LAMPUNGPRO.CO

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co) : Di era digital, sebuah inovasi tidak lagi harus menunggu bertahun-tahun untuk dikenal masyarakat. Cukup dengan sebuah video yang menarik, unggahan di media sosial, dan komunikasi yang tepat, sebuah gagasan dapat menyebar ke seluruh pelosok negeri.

Batas geografis bukan lagi penghalang dalam penyebaran pengetahuan. Siapa pun dapat belajar, berdiskusi, bahkan mengembangkan sebuah inovasi hanya melalui telepon genggam yang terhubung dengan internet. Fenomena inilah yang terjadi pada Budidaya Ikan dalam Ember atau yang lebih dikenal dengan Budikdamber.

Budikdamber merupakan inovasi yang menggabungkan budidaya ikan dan tanaman dalam satu wadah ember. Teknologi ini dikembangkan sebagai solusi bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan, terutama di kawasan perkotaan yang padat penduduk.

Dengan biaya yang relatif murah, penggunaan air yang hemat, serta teknik pemeliharaan yang sederhana, masyarakat dapat menghasilkan ikan sebagai sumber protein sekaligus menanam sayuran untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Konsep ini menjadikan Budikdamber tidak hanya sebagai teknologi budidaya, tetapi juga sebagai bagian dari gerakan ketahanan pangan keluarga yang mudah diterapkan di lingkungan rumah tangga.

Namun, keberhasilan Budikdamber tidak hanya ditentukan oleh keunggulan teknologinya. Banyak inovasi yang sebenarnya baik, tetapi gagal dikenal masyarakat karena lemahnya strategi komunikasi. Budikdamber justru menunjukkan hal yang berbeda.

Inovasi ini berkembang pesat karena didukung oleh komunikasi yang terencana, konsisten, dan memanfaatkan kekuatan media sosial sebagai saluran utama penyebaran informasi.

Penelitian mengenai strategi komunikasi Budikdamber menunjukkan bahwa Facebook, Instagram, dan YouTube menjadi media utama dalam mengenalkan inovasi ini kepada masyarakat.

Melalui berbagai konten berupa video tutorial, dokumentasi panen, praktik budidaya, hingga webinar, masyarakat memperoleh informasi yang mudah dipahami dan dapat langsung dipraktikkan. Pendekatan komunikasi yang sederhana, visual, dan interaktif membuat Budikdamber cepat diterima oleh berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga, pelajar, mahasiswa, hingga instansi pemerintah.

Media sosial kemudian berkembang bukan hanya sebagai media promosi, tetapi menjadi ruang belajar bersama. Salah satu contohnya adalah Grup Facebook Budikdamber Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Juli Nursandi.

Komunitas digital ini dibentuk pada tahun 2019 sebagai wadah bagi masyarakat yang ingin belajar maupun berbagi pengalaman mengenai Budikdamber. Yang menarik, hingga saat ini grup tersebut masih sangat aktif dan terus berkembang.

Jika pada saat penelitian dilakukan jumlah anggotanya sekitar 30 ribu orang, kini komunitas tersebut telah mencapai sekitar 40,3 ribu anggota yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia. Pertumbuhan jumlah anggota tersebut menunjukkan bahwa proses difusi inovasi Budikdamber tidak berhenti, tetapi terus berlangsung dan menjangkau masyarakat yang semakin luas. Aktivitas dalam grup tersebut berlangsung hampir setiap hari.

Anggota saling mengunggah foto perkembangan budidaya, berbagi pengalaman panen, mendiskusikan teknik pemeliharaan ikan, memilih benih yang berkualitas, mengatasi serangan penyakit, hingga merancang modifikasi ember dan sistem tanam yang lebih efektif. Tidak sedikit pula anggota yang membagikan kegagalan mereka sebagai bahan pembelajaran bersama.

Ketika seseorang mengalami kematian ikan, kesulitan menjaga kualitas air, atau pertumbuhan tanaman yang kurang optimal, anggota lain dengan cepat memberikan solusi berdasarkan pengalaman mereka sendiri. Proses seperti inilah yang membuat pengetahuan tidak hanya berasal dari satu orang ahli, tetapi berkembang melalui pengalaman kolektif ribuan anggota komunitas.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi dalam media sosial telah berubah menjadi proses pembelajaran partisipatif. Setiap anggota tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga produsen pengetahuan (knowledge producer).

Mereka saling melengkapi pengalaman, memperbaiki teknik budidaya, bahkan melahirkan berbagai inovasi baru yang kemudian dibagikan kembali kepada anggota lainnya. Dengan kata lain, media sosial telah membentuk sebuah komunitas pengetahuan (knowledge sharing community) yang terus memelihara keberlanjutan inovasi. Inilah salah satu bukti nyata teori difusi inovasi.

Suatu inovasi tidak berhenti ketika seseorang memutuskan untuk mengadopsinya. Sebaliknya, inovasi akan terus berkembang apabila didukung oleh jaringan komunikasi yang aktif, adanya tokoh penggerak, komunitas yang terbuka, dan media yang memungkinkan terjadinya pertukaran pengalaman secara terus-menerus. Dalam kasus Budikdamber, media sosial menjadi ruang di mana proses tersebut berlangsung setiap hari.

Keberhasilan Budikdamber juga menunjukkan perubahan paradigma komunikasi pembangunan. Dahulu, penyebaran inovasi lebih banyak dilakukan melalui penyuluhan tatap muka atau pelatihan formal. Kini, media sosial mampu melengkapi bahkan mempercepat proses tersebut. Satu video berdurasi beberapa menit dapat ditonton ratusan ribu orang, kemudian dibagikan kembali oleh anggota komunitas ke berbagai daerah. Hasilnya, inovasi menyebar jauh lebih cepat dibandingkan pola komunikasi konvensional.

Keberadaan komunitas digital seperti Budikdamber Indonesia juga memperlihatkan pentingnya peran admin dan pengelola komunitas. Admin tidak hanya mengunggah informasi, tetapi juga menjaga kualitas diskusi, menjawab pertanyaan anggota, menghubungkan anggota dengan narasumber, hingga mendorong terciptanya budaya saling membantu.

Tanpa pengelolaan komunitas yang baik, grup media sosial hanya akan menjadi tempat berbagi informasi sesaat. Sebaliknya, dengan pengelolaan yang aktif, grup berkembang menjadi ekosistem pembelajaran yang berkelanjutan.

Pengalaman Budikdamber memberikan pelajaran penting bahwa hasil penelitian perguruan tinggi tidak seharusnya berhenti di ruang laboratorium, laporan penelitian, atau artikel jurnal.

Pengetahuan akan memberikan manfaat yang lebih besar ketika diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dipahami masyarakat dan disebarluaskan melalui media yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Media sosial telah membuktikan dirinya sebagai jembatan yang menghubungkan peneliti dengan masyarakat luas.

Di tengah tantangan ketahanan pangan, perubahan iklim, keterbatasan lahan, dan meningkatnya kebutuhan gizi masyarakat, Indonesia membutuhkan lebih banyak inovasi yang tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga kuat dalam strategi komunikasinya. Sebuah inovasi akan memberikan dampak sosial yang jauh lebih besar apabila mampu membangun komunitas yang aktif, saling belajar, dan terus berkembang.

Budikdamber membuktikan bahwa kekuatan sebuah inovasi bukan hanya terletak pada ember, ikan, atau tanaman yang dibudidayakan. Kekuatan sesungguhnya terletak pada komunikasi yang mampu menghubungkan ribuan orang untuk belajar, berbagi, dan saling menginspirasi.

Dari sebuah unggahan di media sosial lahirlah ribuan pengadopsi, terbentuk komunitas digital yang terus aktif hingga hari ini, dan tumbuh gerakan ketahanan pangan berbasis rumah tangga di berbagai daerah Indonesia. Itulah bukti bahwa di era digital, komunikasi bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi menjadi penggerak perubahan sosial. (***)

Penulis oleh : Sri Astuti, M.I.Kom
Dosen Produksi Media Politeknik Negeri Lampung

Berikan Komentar

Anonymous


Literasi yang inspiratif

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
ASN Disuruh Absen Pagi dan Sore. Lalu,...

Pernyataan seorang anggota DPR yang mengatakan masih ada ASN...

11067


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved