Rabu 28 Oktober 2026, Pukul 12.30 siang, udara sedikit mendung, ketika sebagian orang sibuk menimbang menu makan siang, sembilan teman perempuan di kantor saya justru sibuk bersiap turun ke jalan. Usia mereka 26–30 tahun: topi, kaus, dan celana jeans robek yang harganya mungkin cukup untuk membelikan jeans baru satu RT. Mereka kompak minta izin: ikut demonstrasi mahasiswa.
Saya melepas mereka dengan bangga. Sayangnya, kebanggaan tidak otomatis menguatkan lutut.
Maka saya memilih berjuang dari kafe bawah kantor, mengikuti lewat TikTok Live. Tangan kanan rokok 234, tangan kiri kopi pahit, dan sepiring pisang goreng yang terasa seperti logistik yang salah alamat. Sebenarnya saya ingin ikut. Tapi setelah menimbang usia, lutut yang berbunyi tiap naik tangga, dan pinggang yang kesemutan kalau kelamaan berdiri, keputusan paling realistis sudah jelas: mendukung dari kejauhan. Revolusi memang butuh keberanian. Tapi pada usia tertentu, revolusi juga perlu memastikan ketersediaan tukang urut dan balsem.
Sore harinya hujan deras mengguyur Kuningan. Sembilan teman saya kembali dengan baju setengah basah, rambut berantakan, sepatu kotor, dan suara serak. Anehnya — mereka justru tampak jauh lebih hidup. Mereka bercerita sambil saling menyela, tertawa, mengulang kejadian dari sudut pandang berbeda. Biasanya mereka lebih akrab membahas kafe baru, diskon kecantikan, atau tempat parkir di mal akhir pekan. Hari itu mereka tahu rasanya berdesakan, berteriak sampai serak, dan kehujanan tanpa bisa memilih tempat berteduh. Rambut yang biasanya langsung dikeringkan alat, kali ini pulang membawa cerita yang jauh lebih berharga dari perawatan salon mana pun.
Mereka bercerita tentang orang-orang yang saling berbagi makanan dan air minum pada orang asing. Yang membantu demonstran terjatuh, yang membagikan logistik, yang mengarahkan orang ke pos kesehatan. Seperti biasa, berita hanya menyorot panggung utama — padahal setiap gerakan besar selalu ditopang oleh orang-orang yang bekerja jauh dari sorotan kamera.
Saya mendengarkan sambil mengunyah pisang goreng yang sudah dingin, dan tiba-tiba sadar: saya kenyang karena duduk, mereka lelah karena bergerak. Itulah posisi saya hari itu.
Yang paling menarik, mereka bukan orang-orang yang selama ini terbiasa di garis depan politik. Ketidaksetujuan yang selama ini hanya dibicarakan di meja kopi atau grup WhatsApp, hari itu terasa tidak lagi cukup. Mereka sampai pada titik: mengeluh saja tidak memadai. Hadir menjadi satu-satunya cara yang masuk akal untuk menyatakan sikap.
Berikan Komentar
Saya melepas mereka dengan bangga. Sayangnya, kebanggaan tidak otomatis...
280
237
30-Oct-2026
302
30-Oct-2026
215
30-Oct-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia