“Perkembangan Artificial Intelligence tidak dapat kita hindari, namun harus kita respons secara bijaksana. AI harus menjadi alat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat penelitian, serta mendukung inovasi, bukan menggantikan peran dosen sebagai pendidik. Di sisi lain, budaya keselamatan kerja di laboratorium juga harus menjadi perhatian utama karena laboratorium merupakan pusat pembelajaran praktik yang harus dikelola sesuai standar keselamatan. Saya berharap seluruh peserta dapat mengikuti pelatihan ini dengan sungguh-sungguh dan mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalam proses pembelajaran maupun penelitian,” ungkap Direktur.
Pada sesi pertama, peserta memperoleh materi bertajuk “Pemanfaatan Artificial Intelligence untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dan Penelitian di Perguruan Tinggi dengan Etika, Rambu-rambu, dan Implementasinya” yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Muhammad Said Hasibuan, S.Kom., M.Kom., Guru Besar Bidang Artificial Intelligence dalam bidang E-Learning Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya.
Dalam pemaparannya, Prof. Muhammad Said Hasibuan menjelaskan bahwa Artificial Intelligence telah menjadi salah satu teknologi yang membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan tinggi. AI dapat dimanfaatkan untuk membantu penyusunan bahan ajar, pengembangan media pembelajaran, analisis data penelitian, hingga meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar. Namun demikian, penggunaannya harus tetap memperhatikan etika akademik, integritas ilmiah, validitas informasi, serta tidak menghilangkan peran utama dosen sebagai pendidik, peneliti, dan pembimbing mahasiswa.
Ia juga mengajak para dosen untuk menjadikan AI sebagai mitra dalam berinovasi sehingga mampu menghasilkan pembelajaran yang lebih kreatif, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan industri serta perkembangan teknologi global.
Sesi kedua menghadirkan Prof. Dr. Dyah Wulan Sumekar Rengganis Wardani, SKM, M.Kes., Guru Besar Bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, yang membawakan materi “Budaya K3, Alat Pelindung Diri (APD), Penanganan Kecelakaan, dan Tanggap Darurat di Laboratorium.”
Dalam paparannya, Prof. Dyah Wulan menjelaskan pentingnya membangun budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas pendidikan dan penelitian di laboratorium. Peserta diberikan pemahaman mengenai identifikasi potensi bahaya, penggunaan APD sesuai standar, prosedur penanganan kecelakaan kerja, serta langkah-langkah tanggap darurat untuk meminimalkan risiko dan menciptakan lingkungan laboratorium yang aman, sehat, dan produktif.
Sebagai institusi pendidikan vokasi yang mengedepankan pembelajaran berbasis praktik, Polinela terus berupaya memastikan seluruh proses akademik berlangsung sesuai standar mutu dan keselamatan. Melalui In House Training ini, Jurusan Perikanan dan Kelautan menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kompetensi dosen secara berkelanjutan, baik dalam penguasaan teknologi digital maupun penerapan budaya keselamatan kerja.
Berikan Komentar
Ketika Seorang Ayah Bekerja Sebulan Penuh, tetapi Tetap Tak...
483
Lampung Selatan
914
Polinela
1119
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia