BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co) : Tim peneliti Politeknik Negeri Lampung (Polinela) melaksanakan penelitian mengenai pemanfaatan bahan alami sebagai alternatif pengendalian gulma melalui penelitian berjudul “Uji Potensi Alelokimia Ekstrak Daun Belimbing Wuluh sebagai Herbisida Nabati Pre dan Post-Emergence dalam Mendukung Sistem Pertanian Berkelanjutan.”
Penelitian ini diketuai oleh Resti Puspa Kartika Sari, S.P., M.Si., dengan anggota Ir. Bambang Utoyo, M.P., Nindy Permatasari, S.Pd., M.Sc., dan Lu’lu’ Kholidah Fauziah, S.Si., M.Sc., serta melibatkan dua mahasiswa Program Studi Produksi dan Manajemen Industri Perkebunan Polinela.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan alternatif pengendalian gulma yang lebih ramah lingkungan. Penggunaan herbisida sintetis secara terus-menerus dan tidak tepat dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan organisme non-target.
Oleh karena itu, pemanfaatan tanaman yang mengandung senyawa alelokimia menjadi salah satu alternatif yang potensial untuk dikembangkan sebagai herbisida nabati. Dalam penelitian ini, ekstrak daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) diuji pada berbagai konsentrasi untuk mengetahui potensinya dalam mengendalikan gulma melalui aplikasi pre-emergence dan post-emergence.
Pengujian dilakukan terhadap beberapa jenis gulma, di antaranya Praxelis clematidea dan Asystasia gangetica. Sebagai bagian dari penelitian, uji kuantitatif ekstrak daun belimbing wuluh yang dilakukan di Laboratorium Analisis Polinela menunjukkan adanya kandungan senyawa metabolit sekunder berupa saponin 2,8%, tanin 9 mgTAE/g eks, flavonoid 3,79 Mg QE/g eks, dan fenolik 17,25 mgGAE/g eks.

Keberadaan senyawa-senyawa tersebut menjadi salah satu dasar yang mendukung potensi ekstrak daun belimbing wuluh sebagai bahan alami untuk pengendalian gulma. Senyawa metabolit sekunder tersebut diketahui memiliki berbagai aktivitas biologis yang berpotensi memengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi 75% ekstrak daun belimbing wuluh memiliki potensi paling baik sebagai herbisida nabati. Pada aplikasi post-emergence, konsentrasi 75% mampu mengendalikan pertumbuhan gulma Praxelis clematidea. Sementara itu, pada gulma Asystasia gangetica, konsentrasi 75% menunjukkan kemampuan pengendalian baik melalui aplikasi pre-emergence maupun post-emergence.
Efektivitas tersebut diperkuat oleh hasil pengamatan yang menunjukkan bahwa konsentrasi 75% menghasilkan tingkat keracunan gulma tertinggi, bobot kering gulma terendah, serta nilai LT50 (Lethal Time 50) paling rendah. Nilai LT50 yang lebih rendah menunjukkan bahwa ekstrak pada konsentrasi tersebut mampu memberikan efek keracunan lebih cepat hingga mencapai 50% populasi gulma dibandingkan dengan konsentrasi lainnya.
Hasil ini menunjukkan bahwa daun belimbing wuluh memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber bahan aktif herbisida nabati. Pemanfaatan tanaman lokal sebagai bahan pengendali gulma diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam mengurangi ketergantungan terhadap herbisida sintetis sekaligus mendukung penerapan teknologi pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Ketua tim penelitian, Resti Puspa Kartika Sari, S.P., M.Si., menyampaikan bahwa hasil penelitian ini menjadi langkah awal dalam pengembangan herbisida nabati berbasis bahan alam.
"Ekstrak daun belimbing wuluh menunjukkan potensi yang cukup baik dalam mengendalikan gulma, terutama pada konsentrasi 75%. Hasil uji kandungan metabolit sekunder juga memperkuat potensi bahan tersebut untuk dikembangkan sebagai herbisida nabati. Hasil ini menjadi dasar untuk pengembangan penelitian lebih lanjut, khususnya dalam menentukan formulasi dan konsentrasi yang lebih efektif serta pengujian pada kondisi lapangan,” ungkap Resti.
Penelitian ini merupakan bagian dari kegiatan penelitian yang didanai melalui DIPA Politeknik Negeri Lampung. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan teknologi pengelolaan gulma berbasis bahan alam serta menjadi dasar bagi pengembangan herbisida nabati yang efektif, ramah lingkungan, dan mendukung sistem pertanian berkelanjutan. (*/rls)
Berikan Komentar
Mengapa pembeli dari luar Lampung mampu menawarkan harga gabah...
3961
Kominfo Lampung
1272
Kominfo Lampung
1316
PLN
930
Kominfo Balam
1155
193
10-Sep-2026
1272
09-Sep-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia