Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Transformasi Budidaya Jamur, Unila Kenalkan Teknologi IoT dan Biokonversi Maggot BSF di Pringsewu
Lampungpro.co, 14-Aug-2026

Irsyad 386

Share

Tim PKM Universitas Lampung mengimplementasikan program pemberdayaan masyarakat melalui PKM Kemdiktisaintek 2026. | Lampungpro.co/Dok. UNILA

Pringsewu (Lampungpro.co) : Tim dosen dan mahasiswa Universitas Lampung (Unila) menghadirkan inovasi teknologi untuk mendukung pengembangan usaha budidaya jamur pada Kelompok Wanita Tani (KWT) Pangan Lestari di Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Inovasi tersebut berupa penerapan sistem monitoring suhu dan kelembaban kumbung berbasis Internet of Things (IoT), sistem penyiraman otomatis, serta pemanfaatan limbah log jamur melalui biokonversi menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tahun 2026. Program ini diarahkan untuk membantu KWT Pangan Lestari melakukan transformasi budidaya jamur dari sistem konvensional menuju sistem yang lebih efisien, berbasis data, dan berkelanjutan. adalah hasil dari Program Hibah Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dengan Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.

KWT Pangan Lestari merupakan kelompok produktif yang bergerak dalam budidaya jamur tiram putih. Kelompok ini telah menjalankan usaha sejak tahun 2019 dan mengelola sekitar 1.000 log jamur. Dalam kondisi awal, produksi jamur berada pada kisaran 8–10 kilogram per hari. Namun, pengelolaan suhu dan kelembaban kumbung masih dilakukan secara manual berdasarkan pengalaman anggota sehingga kondisi lingkungan tumbuh belum dapat dipantau secara terukur.

Selain persoalan pengelolaan lingkungan kumbung, KWT Pangan Lestari juga menghadapi permasalahan limbah log jamur pascapanen. Limbah tersebut sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dan sebagian masih dibakar atau ditimbun. Kondisi ini tidak hanya berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan, tetapi juga menyebabkan sumber daya yang sebenarnya masih memiliki potensi ekonomi belum termanfaatkan.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, tim Universitas Lampung menerapkan teknologi monitoring suhu dan kelembaban berbasis IoT yang dipadukan dengan sistem penyiraman otomatis. Teknologi tersebut memungkinkan kondisi lingkungan kumbung dipantau secara lebih terukur sehingga anggota kelompok dapat menggunakan data suhu dan kelembaban sebagai dasar dalam menentukan tindakan pengelolaan budidaya.

Sistem penyiraman otomatis juga dirancang untuk membantu mengurangi ketergantungan terhadap proses penyiraman manual. Sebelumnya, penyiraman dapat dilakukan dua hingga tiga kali dalam sehari dan dapat meningkat pada musim kemarau. Dengan adanya otomatisasi, proses pengelolaan kumbung diharapkan menjadi lebih efisien sekaligus membantu menjaga kondisi lingkungan tumbuh jamur secara lebih konsisten.

Tidak hanya mengembangkan aspek digitalisasi budidaya, tim Universitas Lampung juga memperkenalkan pengelolaan limbah log jamur melalui proses biokonversi menggunakan maggot BSF. Limbah log jamur dimanfaatkan kembali sebagai bahan dalam proses biokonversi sehingga berpotensi menghasilkan produk berupa pupuk organic bekas maggot (kasgot) dan maggot yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak alternatif.

Integrasi antara teknologi IoT dan pemanfaatan limbah tersebut menjadi bagian dari penerapan konsep circular economy dalam usaha budidaya jamur. Melalui pendekatan ini, kegiatan produksi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi budidaya, tetapi juga mengurangi limbah dan menciptakan potensi nilai tambah dari sisa hasil produksi.

Program pengabdian ini diketuai oleh Nadia Maharani, S.Pt., M.Si., dosen Program Studi Peternakan Universitas Lampung. Dalam pelaksanaannya, Nadia berkolaborasi dengan Rizkima Akbar Setiawan, S.T., M.T., dosen bidang Teknik Informatika Universitas Lampung, serta Ir. Rabiatul Adawiyah, M.Si. Kolaborasi lintas bidang tersebut mengintegrasikan kompetensi peternakan, agribisnis, teknologi informasi, serta pemanfaatan teknologi tepat guna untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.

Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa dari dua bidang keilmuan. Dari Teknik Informatika, mahasiswa yang terlibat adalah Bagas Pangestu dan Elthon Jhon Kevin. Sementara itu, dari bidang Peternakan terdapat Daffa Fauzan Kamilo dan Muhammad Nur Irwansyah. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung dalam penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi di tengah masyarakat. Mahasiswa Teknik Informatika terlibat dalam aspek teknologi, khususnya penerapan dan pengoperasian sistem berbasis IoT, sedangkan mahasiswa Peternakan terlibat dalam kegiatan pendampingan budidaya, pengelolaan limbah, dan penerapan biokonversi maggot BSF.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, hingga pendampingan dan evaluasi. Pelatihan dilaksanakan dengan mengombinasikan penyampaian materi dan praktik langsung agar anggota KWT dapat memahami teknologi yang diterapkan sekaligus memperoleh keterampilan dalam pengoperasian dan pemeliharaannya.

Ketua tim pengabdian, Nadia Maharani, menjelaskan bahwa penerapan teknologi dalam program ini diarahkan agar mudah digunakan dan sesuai dengan kondisi kelompok masyarakat. “Melalui penerapan IoT, anggota KWT dapat memantau suhu dan kelembaban kumbung secara lebih terukur sehingga pengelolaan budidaya tidak hanya bergantung pada perkiraan. Pada saat yang sama, limbah log jamur yang sebelumnya belum dimanfaatkan dapat diolah melalui biokonversi maggot BSF sehingga memiliki nilai guna dan potensi nilai ekonomi,” jelas Nadia.

Rizkima Akbar Setiawan menambahkan bahwa penerapan teknologi digital pada usaha masyarakat tidak harus selalu menggunakan sistem yang kompleks. Teknologi tepat guna justru perlu dirancang sesuai kebutuhan dan kemampuan penggunanya agar dapat diterapkan secara berkelanjutan. “Teknologi yang baik bukan hanya teknologi yang canggih, tetapi teknologi yang dapat digunakan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Sistem IoT yang diterapkan pada program ini dirancang agar sederhana dan dapat membantu anggota KWT memperoleh informasi kondisi kumbung dengan lebih mudah,” jelas Rizkima.

Keterlibatan mahasiswa juga menjadi bagian penting dalam program pengabdian tersebut. Bagas Pangestu dan Elthon Jhon Kevin dari Teknik Informatika mendapatkan pengalaman dalam mengimplementasikan teknologi digital secara langsung di lingkungan masyarakat. Sementara itu, Daffa Fauzan Kamilo dan Muhammad Nur Irwansyah dari Peternakan memperoleh pengalaman dalam pendampingan kegiatan budidaya dan penerapan inovasi pengelolaan limbah.

Kolaborasi dosen, mahasiswa, dan masyarakat ini diharapkan tidak berhenti pada tahap pemasangan teknologi. KWT Pangan Lestari diarahkan agar mampu mengoperasikan dan mengembangkan sistem secara mandiri serta menerapkan model budidaya jamur yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, Universitas Lampung terus mendorong hilirisasi ilmu pengetahuan dan teknologi agar hasil pengembangan akademik dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Integrasi IoT, otomatisasi budidaya, dan biokonversi limbah maggot BSF diharapkan dapat menjadi salah satu model pengembangan usaha jamur berbasis circular economy yang dapat direplikasi oleh kelompok masyarakat lainnya di Pringsewu maupun daerah lain. (ND/***)

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
ASN Disuruh Absen Pagi dan Sore. Lalu,...

Pernyataan seorang anggota DPR yang mengatakan masih ada ASN...

15653


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved