Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Wajah Baru Ekowisata TNWK Lampung Timur, Padukan Konservasi Avifauna, UMKM Desa, dan Mitigasi Interaksi Gajah
Lampungpro.co, 01-Oct-2026

Febri 250

Share

Wisatawan Asing Saat Berwisata ke Way Kambas Lampung Timur | Ist/Lampungpro.co

SUKADANA (Lampungpro.co): Nama Taman Nasional Way Kambas (TNWK), selama ini lekat dengan gajah Sumatera. Namun kawasan konservasi di Lampung Timur itu, perlahan menunjukkan wajah lain yang tak kalah penting, karena menjadi tujuan wisata alam dan konservasi yang menarik perhatian wisatawan dari berbagai negara.

Pada sejumlah desa penyangga TNWK, wisatawan mulai datang untuk mengamati burung, menyusuri sungai, menikmati bentang alam, hingga mengenal kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan konservasi.

Fenomena itu salah satunya terlihat di Desa Labuhan Ratu IX, Lampung Timur. Melalui Koperasi Plangijo Dewi Rasa, masyarakat setempat mengembangkan wisata minat khusus, dengan fokus pada pengamatan burung atau bird watching dan susur sungai.

Ketua Koperasi Plangijo Dewi Rasa, Arif Lukman Fauzun mengatakan, pilihan tersebut sengaja diambil agar masyarakat tidak hanya bergantung pada citra Way Kambas, sebagai destinasi wisata gajah.

"Kami memang sedikit keluar dari zona nyaman. Kalau Way Kambas ini jualannya biasanya gajah, dan tidak jauh dari gajah, jadi kami memilih untuk fokusnya di konservasi burung," kata Arif Lukman Fauzun, Rabu (30/9/2026).

Menurut Arif, kunjungan pengamat burung meningkat, terutama pada Juni hingga September 2026. Wisatawan yang datang, bahkan merupakan bagian dari komunitas pengamat burung, yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuan dalam perjalanan pengamatan avifauna mereka.

Arif menilai, perjalanan wisatawan pengamat burung tersebut, biasanya mencakup sejumlah wilayah di Indonesia sebelum berlanjut ke negara lain di Asia Tenggara. Dalam rute menuju Sumatera, Way Kambas menjadi salah satu kawasan yang diperhitungkan.

Bagi Lampung Timur, berkembangnya wisata berbasis alam tersebut, menjadi peluang sekaligus tantangan. Pemerintah daerah tidak hanya dituntut meningkatkan kunjungan wisatawan, tapi juga memastikan aktivitas ekonomi tidak menggeser tujuan utama kawasan sebagai wilayah konservasi.

1 2 3 4

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Ketika Sekolah Jadi Mesin Setoran: Dana BOS,...

Seperti lilin. Memberi cahaya kepada orang lain, tetapi perlahan...

2937


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved