Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Warga Sekitar Way Kambas Bakal Tanam Sere Hingga Budidaya Magot Untuk Tekan Konflik Gajah dan Manusia
Lampungpro.co, 01-Sep-2026

Febri 207

Share

Gubernur Lampung Saat Kunjungi Way Kambas | Ist/Lampungpro.co

SUKADANA (Lampungpro.co): Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung bersama pihak terkait, terus mengupayakan untuk menekan konflik gajah dengan manusia, yang ada di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung Timur.

Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatera di TNWK, Brigjen Sriyanto mengatakan, sekitar 900 kotak lebah yang sebelumnya diberikan kepada masyarakat telah menghasilkan panen.

"Sekarang sudah mulai pemecahan koloni, jadi kalau kemarin kami lihat semua kotak yang diserahkan, maka pekan depan mungkin sudah menjadi 1.500 kotak lebah," kata Brigjen Sriyanto di TNWK, Selasa (1/9/2026).

Menurutnya, budidaya tersebut nantinya dikelola masyarakat melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), sehingga manfaat ekonominya bisa dirasakan langsung. Selain lebah, tanaman serai juga mulai dibudidayakan.

Sriyanto menilai, sebagian tanaman memang terkendala kondisi cuaca, namun tanaman yang masih memungkinkan akan terus dikembangkan dan penanaman berikutnya menunggu kondisi yang lebih mendukung.

"Serai pun sangat bermanfaat, karena kami sudah memesan mesin untuk penyulingan serai. Hasil penyulingan, nantinya berupa minyak atsiri yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk, seperti sabun, pengharum hingga aromaterapi," ujar Sriyanto.

Dengan pola ini, upaya meredam konflik tidak berhenti pada bagaimana menjauhkan gajah dari lahan warga. Masyarakat juga diberi pilihan usaha, yang bisa menghasilkan tanpa harus berhadapan langsung dengan gajah.


Perubahan berikutnya justru menyasar manusia yang sehari-hari berhadapan dengan gajah. Balai TNWK pun, kini mulai mengirimkan mahot untuk mengikuti pelatihan di Elephant Nature Park (ENP), Thailand.

Kepala Balai TNWK Lampung Timur, MHD Zaidi menyebutkan, pelatihan itu merupakan bagian dari perubahan pendekatan dalam menangani gajah.

"Ke depan kami akan berusaha tidak ada lagi gajah yang dirantai. Jadi model pendekatan antara pawang dengan gajah nanti akan berubah," sebut Zaidi.

Pelatihan itu akan dilakukan bertahap, di mana setelah mahot yang saat ini mengikuti pelatihan kembali, TNWK Lampung Timur berencana akan mengirimkan peserta berikutnya.

Selain itu, pelatih dari Thailand nantinya juga diharapkan bisa datang langsung ke Way Kambas, untuk memberikan pelatihan kepada mahot di lapangan.

Jika lebah dan serai merupakan pendekatan berbasis masyarakat, serta pelatihan mahot menyasar perubahan perilaku manusia, maka TNWK Lampung Timur juga menyiapkan perlindungan fisik. (***)

Editor : Febri Arianto

Berikan Komentar


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved