JAKARTA (Lampungpro.com): Penyakit jantung saat ini bukan lagi penyakit orang tua. Banyak pula mereka yang masih berusia produktif jadi korban. Gaya hidup yang tak sehat jadi penyebab utamanya.
Uniknya, pada korban serangan jantung, perempuan lebih berisiko meninggal dunia dibanding pasien pria. Alasan utamanya setelah serangan biasanya perempuan tak mendapatkan perawatan yang sama dibanding pria.
Penelitian membuktikan hal ini. Peneliti menemukan setelah serangan pertama, penyintas serangan jantung 47 persen pasien perempuan meninggal dunia, sementara hanya 36 persen saja pada kelompok pria penyintas serangan jantung.
Selain pria bisa mendapatkan perawatan lebih baik-umumnya karena istri atau pasangan mereka yang melakukannya, belum jelas penyebab lainnya. Namun, sebuah penelitian terbaru menyebutkan ketika wanita mendapatan terapi yang sama dengan pria, termasuk rehabilitasi jantung kemungkinan bertahan hidup mereka sama.
Ini menunjukkan ada bias mendasar dalam sistem medis dan masyarakat luas. Bahwa ketika wanita menjadi pasien jantung mereka harus bisa menghadapi dan mengatasi sendiri masalah mereka, kata Dr. Jennifer Haythe, asisten profesor kedokteran dan direktur Women's Center for Cardiovascular Health di Universitas Columbia seperti dikutip laman Today.
Sebagai bukti, dia menunjuk pada studi tahun 2016 terhadap 50 ribu orang lanjut usia Amerika, dibandingkan pria, wanita cenderung tidak mendapat obat yang berpotensi menguntungkan. Seperti obat untuk kolesterol, atau untuk menerima saran tentang berhenti merokok. Wanita yang pernah mengalami serangan jantung tidak diperlakukan sama seperti pria," kata Haythe.
Mungkin ini tidak mengejutkan, kata Haythe. "Ini seperti banyak aspek kehidupan lainnya dimana wanita tidak dianggap sama seperti pria.. Dalam kasus ini, ini adalah kesalahan masyarakat, tapi juga komunitas medis."
Sebagian masalah mungkin terletak pada cara wanita berkomunikasi, kata Dr. Katie Berlacher, direktur program jantung wanita di University of Pittsburgh Medical Center.
Biasanya, wanita mengecilkan arti perasaan mereka, atau menemukan hal lain yang mungkin kurang serius. Pria memiliki reputasi sebagai orang yang lebih tabah. Namun, wanita sering meminimalkan apa yang mereka alami. Saya mungkin bertanya apakah pasien menderita nyeri dada, dan seringkali jika itu wanita, dia akan berkata, 'Oh tidak, itu bukan rasa sakit, hanya sesak.'"
Haythe mengatakan karena fakta ketimpangan ini wanita perlu mengadvokasi diri mereka sendiri. Mereka perlu memastikan mereka mendapatkan perawatan yang tepat. Salah satunya dengan tidak mengecilkan apa yang mereka rasakan. Jangan sampai serangan jantung baru diketahui setelah terjadi.
Wanita harus mulai berbicara dengan teman mereka tentang penyakit jantung - sebelum mereka terkena serangan jantung. "Saya ingin wanita setidaknya mulai mengobrol apa yang benar-benar mereka rasakan, kata dia. (**/PRO2)
Berikan Komentar
Dukungan dan legacy yang besar, juga mengandung makna tanggung...
16288
EKBIS
8921
Bandar Lampung
6255
157
04-Apr-2025
185
04-Apr-2025
157
04-Apr-2025
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia