Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Kemendagri Sebut Lampung Tertinggi Inflasi di Indonesia, ini Respon dan Langkah Pemprov Mengatasinya
Lampungpro.co, 19-Dec-2023

Amiruddin Sormin 3651

Share

Ilustrasi pangan. Stok pangan di Lampung cukup sampai akhir tahun. [Istimewa]

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co): Pemerintah Provinsi Lampung mengambil sejumlah kebijakan dan langkah untuk menurunkan angka inflasi. Hal itu untuk merespon data data Badan Pusat Statistik (BPS) per 1 Desember 2023 yang dirilis Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menempatkan Lampung sebagai daerah inflasi tertinggi di Indonesia yakni menyentuh level 4,10%.

Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Lampung, Elvira Umihani, memasuki minggu minggu I dan minggu kedua Desember, inflasi Lampung berada posisi di level tengah, tidak lagi di posisi atas.

 

"Beberapa program antisipasi sudah digulirkan. Seperti pemberian subsidi harga beras dengan volume 1.000 ton di semua kabupaten dan kota hingga akhir Desember 2023. Kemudian, subsidi harga cabai, gula, dan minyak goreng juga sudah dilaksanakan," kata Elvira Umihani, kepada Lampungpro.co, Selasa (19/12/2023).

Masalahnya, kata Elvira, ketersediaan yang masih belum memenuhi kebutuhan masyarakat, akibat gagal panen. Sementara masih ada produksi yang dijual ke luar daerah karena perdagangan bebas yang diawasi oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Ini yang akan segera dibicarakan dengan dinas dan kabupaten/kota terkait," kata Elvira yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Lampung itu.

 

Di sisi lain, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Lampung, Budiono, mengatakan untuk jangka pendek Pemerintah Provinsi, Kabupaten, dan Kota mengitensifkan operasi pasar  dan pangan murah di beberapa tempat. Semoga di bulan Desember ini inflasi sudah lebih landai," kata Budiono.

Menurut Budiono, cabai dan bawang memang sebagian harus didatangkan dari daerah lain. Sementara di daerah lain pun produksi berkurang. "Jai kita dorong untuk dua komoditas itu, diperluas lahan tanamnya di Lampung," ujar Budiono.

Terkait langkah Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), menurut Budiono, dalam jangka pendek ini juga melakukan operasi pasar dan gerakan pasar murah (GPM) bersama leading sector seperti Disperindag dengan mengikutsertakan BUMD PT Wahana Raharja. Kita optimistis mampu mengendalikan inflasi sepanjang stok barang cukup dan harga terkendali," kata Budiono.

Stok Barang Cukup hingga Akhir Tahun

Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung Bani Ispriyanto mengatakan ketersediaan bahan pangan pokok strategis dijamin  Pemprosi Lampung untuk memenuhi konsumsi di Desember 2023. "Upaya kami mengadakan gelar pangan murah komoditas pangan strategis, melakukan percepatan tanam padi untuk masa tanam per kabupaten, memanfaatkan sumber daya air yang tersedia, memanfaatkan lahan rawa lebak, lahan tadah hujan, lahan kering untuk menanam padi," kata Bani pekan lalu seperti dikutip dari SuaraLampung.id (jaringan media Lampungpro.co).

Ketersediaan beras dengan harga rata-rata per awal Desember Rp12.724 per kilogram pada periode Oktober-Desember 2023 stoknya ada sebanyak 1.199.306 ton, dan kebutuhan 232.806 ton, serta memiliki surplus sebanyak 966.499 ton. Untuk ketersediaan bawang merah hingga Desember 2023 ada sebanyak 8.442 ton dengan kebutuhan konsumsi sebanyak 8.299 ton, sehingga ada surplus sebanyak 143 ton.

Menurut Bani, harga rata-rata bawang merah di Lampung saat ini Rp28.400 per kilogram. Upaya pengendalian ketersediaan serta harga dilakukan dengan melakukan kerja sama bersama Badan Pangan Nasional dalam memberikan subsidi pengiriman pasokan dari daerah lain. "Kemudian penanaman dan pengembangan kawasan sentra bawang merah, dan melakukan pembibitan secara mandiri," ujarnya.

Untuk komoditas cabai besar dengan rata-rata harga Rp82.200 per kilogram, ketersediaan berjumlah 8.782 ton, kebutuhan 9.462 ton, dimana perlu penambahan ketersediaan sebanyak 680 ton. Sedangkan untuk cabai rawit dengan harga rata-rata Rp77.267 per kilogram, ketersediaan selama tiga bulan terakhir berjumlah 7.078 ton, kebutuhan 13.674 ton, dan masih membutuhkan tambahan sebanyak 6.596 ton.

Untuk daging sapi harga rata-rata Rp134.867 per kilogram. Ketersediaan ada 9.396 ton, kebutuhan 6.300 ton ada surplus 3.096 ton. Daging ayam ras memiliki harga rerata Rp33.333 per kilogram ketersediaannya berjumlah 24.123 ton, dengan kebutuhan 32.964 ton ada surplus 8.841 ton.

KLIK DAN BACA BERITA SEBELUMNYA:  Kemendagri Minta Waspada, Lampung Kini Daerah dengan Inflasi Tertinggi di Indonesia

Kemudian untuk telur ayam memiliki ketersediaan sebanyak 66.077 ton, kebutuhan 22.804 ton dan surplus berjumlah 43.272 ton, saat ini memiliki harga rata-rata sebesar Rp27.433 per kilogram.

Untuk komoditas gula kebutuhannya hingga Desember sebanyak 26.041 ton, dengan konsumsi 25.589 ton ada surplus 452 ton, serta untuk harga Rp16.800 per kilogram. Lalu untuk minyak goreng ada surplus sebanyak 1.961 ton, dimana ketersediaannya berjumlah 53.137 ton dan kebutuhan ada 51.176 ton, rerata harga Rp14.033 liter.

Sedangkan untuk kedelai dengan harga rata-rata Rp12.862 per kilogram ketersediaan selama tiga bulan terakhir sebanyak 19.362 ton. Kemudian, kebutuhan ada sebanyak 14.766 ton, lalu ada surplus sebanyak 4.595 ton. (***)

Editor

 

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Lampung Dipimpin Mirza-Jihan: Selamat Bertugas, "Mulai dari...

Dukungan dan legacy yang besar, juga mengandung makna tanggung...

16557


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved