Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Kisah Sukowiyono dan Gajah Erin di Way Kambas, Merawat Nafas dan Menepis Luka Belalai Tak Lagi Utuh
Lampungpro.co, 02-Oct-2026

Febri 231

Share

Sukowiyono dan Gajah Erin di Way Kambas Lampung Timur | Ist/Lampungpro.co

Tanpa belalai yang utuh, Erin tak mampu menyedot air ke mulutnya. Ia juga tak bisa menyendok lumpur basah ke punggungnya untuk mendinginkan kulit dari terik matahari yang memanggang belantara Sumatera.

Pada masa-masa awal yang menyayat hati, Sukowiyono harus telaten menyuapkan makanan langsung ke rongga mulut Erin. Pria yang telah mengabdi sebagai mahout sejak 1995 itu, dengan sabar mengajarinya cara menyesap cairan dan menjangkau pucuk dedaunan dengan sisa belalai yang buntung.

Bahkan demi meluluhkan trauma masa lalu Erin terhadap manusia, ia kerap membawakan seikat rumput segar sembari berbisik menenangkan. Kini setelah 10 tahun berselang, Erin telah menjelma menjadi gajah remaja berusia 13 tahun yang sehat secara fisik.

Namun luka psikis di batinnya belum seutuhnya sembuh. Erin tumbuh dengan kepribadian penyendiri, kerap menyingkir dan minder saat kawanan gajah besar mendekat.

"Namanya cacat, makanya dia agak minder lah yang jelas itu. Karena lebih besar yang mendekati. Kalau sama yang kecil juga enggak apa-apa," ujar Sukowiyono.

Masa depan Erin di TNWK Lampung Timur, memang masih menunggu arah kebijakan program konservasi selanjutnya. Namun satu hal yang pasti, Sukowiyono berikrar tidak akan pernah melepaskan genggaman tangannya dari satwa malang tersebut.

Di belantara Way Kambas yang kini menaungi sekitar 63 ekor gajah jinak dan 200 gajah liar ini, belalai Erin mungkin tidak akan pernah tumbuh kembali. Jerat kawat manusia, telah merampas kesempurnaannya selamanya.

1 2 3

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Ketika Sekolah Jadi Mesin Setoran: Dana BOS,...

Seperti lilin. Memberi cahaya kepada orang lain, tetapi perlahan...

3729


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved