Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Kulit Durian Tak Lagi Jadi Sampah, Peneliti Polinela Sulap jadi Biochar untuk Pertanian
Lampungpro.co, 16-Sep-2026

Sandy 322

Share

Dosen Polinela teliti terkait kulit durian menjadi biochar tanaman | LAMPUNGPRO.CO/Ist

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co) : Kulit durian biasanya langsung menjadi limbah setelah daging buahnya habis disantap. Padahal, bagian buah yang memiliki tekstur tebal dan keras tersebut membutuhkan waktu relatif lama untuk terurai jika hanya dibuang begitu saja.

Melihat persoalan tersebut, peneliti dari Politeknik Negeri Lampung (Polinela) mencoba mencari alternatif pemanfaatan kulit durian agar tidak berakhir sebagai sampah. Limbah tersebut diolah menjadi biochar yang kemudian diuji pemanfaatannya dalam sektor pertanian.

Penelitian itu dilakukan Dede Tiara, Betari Safitri, dan Abied Khafidhan dari Program Studi Teknologi Produksi Hortikultura, Polinela. Mereka mengkaji potensi kulit durian yang diolah menjadi biochar sebagai bahan pengaya pupuk organik pada budidaya bawang merah.

Biochar merupakan material yang dihasilkan dari proses pemanasan bahan organik dalam kondisi oksigen terbatas. Produk akhirnya memiliki karakter menyerupai arang dan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pembenah tanah maupun bagian dari pengelolaan bahan organik dalam sistem pertanian.

Pemanfaatan kulit durian sebagai biochar menjadi menarik karena limbah tersebut biasanya mengalami peningkatan jumlah saat musim durian. Jika tidak dikelola, tumpukan kulit durian dapat menimbulkan persoalan kebersihan dan lingkungan.

Melalui penelitian ini, tim Polinela mencoba mengubah persoalan limbah tersebut menjadi sumber daya yang berpotensi dimanfaatkan kembali. Biochar kulit durian diaplikasikan bersama pupuk organik pada tanaman bawang merah untuk melihat pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman.

Bawang merah dipilih sebagai objek penelitian karena merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak digunakan masyarakat. Produktivitas tanaman ini juga berkaitan dengan kondisi tanah, ketersediaan unsur hara, serta pengelolaan media tanam.

Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan biochar kulit durian yang dikombinasikan dengan pupuk organik belum memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan bawang merah.

Sejumlah parameter pertumbuhan yang diamati, termasuk tinggi tanaman dan jumlah daun, menunjukkan hasil yang relatif tidak berbeda pada berbagai perlakuan yang diberikan.

Dengan demikian, dalam kondisi penelitian tersebut, penambahan biochar dari kulit durian belum mampu menunjukkan peningkatan pertumbuhan bawang merah secara nyata dibandingkan perlakuan lainnya.

Meski demikian, hasil tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa kulit durian tidak memiliki potensi sebagai bahan pertanian. Sebaliknya, penelitian ini memberikan gambaran bahwa pemanfaatan biochar membutuhkan formulasi dan kondisi penggunaan yang tepat agar manfaatnya dapat terlihat secara optimal.

Efektivitas biochar dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari karakteristik bahan baku, metode dan kondisi pembuatannya, dosis aplikasi, kondisi tanah, hingga lingkungan tempat tanaman tumbuh.

Karena itu, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui karakteristik biochar kulit durian yang paling sesuai serta menentukan dosis dan metode aplikasinya pada tanaman.

Di sisi lain, penelitian tim Polinela tersebut memperlihatkan adanya peluang untuk mengembangkan limbah pertanian dan pangan menjadi material yang memiliki nilai guna. Kulit durian yang selama ini identik dengan sampah dapat diarahkan untuk menjadi bahan yang berpotensi mendukung pengelolaan tanah dan pertanian.

Potensi tersebut semakin relevan bagi daerah yang memiliki produksi maupun konsumsi durian cukup tinggi. Semakin banyak durian yang dikonsumsi, semakin besar pula volume kulit yang harus dikelola.

Apabila dikembangkan melalui penelitian dan teknologi yang tepat, pengolahan kulit durian menjadi biochar dapat menjadi salah satu alternatif pengelolaan limbah organik sekaligus mendukung konsep pemanfaatan sumber daya lokal dalam pertanian.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus berawal dari bahan yang bernilai tinggi. Limbah yang selama ini dianggap tidak berguna pun dapat menjadi objek penelitian untuk mencari kemungkinan pemanfaatan baru. (***)

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Gabah Dilarang Keluar, Tapi Mengapa Masih Bisa...

Mengapa pembeli dari luar Lampung mampu menawarkan harga gabah...

7357


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved