Anwar muntah gara-gara sepotong daging. Yang satu lagi tidur nyenyak di bawah selimut katun premium, di atas kasur king size, dengan rekening yang riwayat hidupnya jauh lebih misterius daripada tokoh pembunuh dalam film detektif.
Keduanya sama-sama larangan yang wajib dipatuhi. Pertanyaannya, mengapa perut kita begitu sensitif tetapi rekening kita begitu pemaaf?
Mengapa satu gram daging haram bisa memicu kepanikan nasional dalam diri seseorang, sementara satu miliar uang haram justru bisa memicu syukuran rumah baru?
Mungkin karena babi itu konkret. Kelihatan. Tercium. Bisa dikunyah.
Uang korupsi jauh lebih sopan. Ia tidak berbau dan tidak berwarna. Ia tidak datang sambil membawa papan nama bertuliskan, "Halo, saya hasil mark-up proyek drainase." Ia langsung menjelma menjadi mobil mewah, rumah besar, jam tangan mahal, dan foto-foto perjalanan ibadah.
Begitu berganti bentuk, dosa administratif itu naik kelas menjadi simbol kesuksesan.
Apalagi kalau pemiliknya berpeci rapi, fasih berceramah, dan jidatnya mengilap karena rajin sujud. Kita sering lebih terpukau oleh tampilan kemasan daripada isi pembukuannya. Pertanyaan paling sederhana dalam dunia akuntansi, "Pak, uangnya dari mana?", kadang terasa lebih menakutkan daripada pemeriksaan kesehatan tahunan.
Soal babi, hukumnya jelas. Tetapi Islam juga mengenal akal sehat dan keadaan darurat. Orang yang tidak sengaja atau tidak tahu tidak diperlakukan sama dengan orang yang sengaja melanggar.
Berikan Komentar
Siang itu pantry kantor gempar. Anwar, office boy yang...
233
232
07-Nov-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia