Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Melalui PkM, Unila Dorong Budidaya Lebah Tanpa Sengat Madu Mulyo di Lampung Tengah
Lampungpro.co, 23-Aug-2026

Sandy 307

Share

Tim PkM Unila saat melaksanakan kegiatan memperkenalkan dua jenis agen hayati di Lampung Tengah | LAMPUNGPRO.CO/Ist

LAMPUNG TENGAH (Lampungpro.co) : Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Lampung (Unila) mendorong penguatan budidaya lebah tanpa sengat Madu Mulyo di Kampung Sido Mulyo, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah.

Program yang berlangsung sejak Juni hingga Agustus 2026 tersebut diarahkan pada pengelolaan vegetasi sumber pakan lebah dengan memanfaatkan agen hayati.

Langkah ini dilakukan untuk mendukung ketersediaan pakan sekaligus mendorong budidaya lebah tanpa sengat yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Pengembangan program tersebut dilatarbelakangi pentingnya keberadaan tanaman berbunga sebagai sumber nektar dan polen bagi lebah tanpa sengat. Berdasarkan hasil pengamatan tim di lokasi, vegetasi yang menjadi sumber pakan sebenarnya telah tersedia.

Namun, pertumbuhan dan pembungaan sejumlah tanaman tersebut dinilai belum sepenuhnya optimal. Kondisi ini membuat tim PkM Unila tidak hanya berfokus pada penambahan jenis tanaman, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas pengelolaan vegetasi yang sudah tersedia.

Program tersebut dilaksanakan oleh Priyambodo, M. Iqbal Parabi, dan Gina Dania Pratami dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), serta Agung Putra Wijaya dan Nikki Tri Sakung dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

Kegiatan turut melibatkan mahasiswa lintas fakultas, yakni Gilang Kurniawan, Farhan Dzaky Aldias, Dzulfikar Yusuf Priyanatha, Muhammad Hafizh Afifi, Muhammad Ikhsan, dan Desta Sandora. Selain itu, dua alumnus, Winarno dan Anggi Safitri, juga ikut mendukung pelaksanaan program.

Kegiatan tersebut didanai melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Unggulan Unila Tahun 2026 di bawah supervisi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unila.

Dalam pelaksanaannya, tim Unila memperkenalkan dua jenis agen hayati yang dinilai berpotensi mendukung pengelolaan vegetasi sumber pakan, yakni Mikroorganisme Lokal (MOL) berbahan urine sapi dan Trichoderma.

MOL urine sapi dipilih karena bahan bakunya relatif mudah diperoleh di lingkungan masyarakat Kampung Sido Mulyo.

Sejumlah warga diketahui memelihara sapi secara konvensional. Sementara itu, urine sapi yang dihasilkan selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Melalui pengolahan menjadi MOL, limbah tersebut dapat dimanfaatkan kembali sehingga memiliki nilai tambah dan berpotensi menjadi salah satu input biologis dalam pengelolaan tanaman.

Edukasi yang diberikan kepada masyarakat mencakup pengenalan mengenai konsep dan manfaat MOL urine sapi, tahapan pembuatannya, hingga prinsip penggunaan pada tanaman.

Selain MOL, tim PkM Unila juga memperkenalkan Trichoderma sebagai agen hayati yang berpotensi mendukung kesehatan tanah dan area perakaran tanaman.

Trichoderma juga dikenal memiliki potensi dalam membantu pertumbuhan tanaman, meningkatkan pemanfaatan unsur hara, serta mendukung pengendalian patogen tanaman.

Berbeda dengan MOL urine sapi yang pada tahap ini lebih diarahkan pada edukasi masyarakat, penggunaan Trichoderma telah dilanjutkan melalui demonstrasi dan praktik aplikasi secara langsung pada vegetasi sumber pakan bersama warga.

Hubungkan Vegetasi dengan Budidaya Lebah

Ketua tim PkM Unila, Priyambodo, mengatakan program tersebut dirancang untuk memperkuat hubungan antara pengelolaan vegetasi dengan keberlanjutan budidaya lebah tanpa sengat.

Menurutnya, keberhasilan budidaya lebah tidak hanya ditentukan oleh kondisi koloni, tetapi juga dipengaruhi oleh ketersediaan sumber pakan di lingkungan sekitar.

“Budidaya lebah tidak hanya berbicara tentang koloninya. Ketersediaan vegetasi sumber pakan juga harus diperhatikan. Melalui MOL urine sapi dan Trichoderma, kami ingin memperkenalkan alternatif pengelolaan vegetasi yang lebih ramah lingkungan sekaligus memanfaatkan potensi yang tersedia di masyarakat,” ujar Priyambodo, Sabtu (22/8/2026).

Ia menjelaskan, pendekatan yang diterapkan dalam program tersebut menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan sekadar penerima teknologi.

Dengan demikian, masyarakat diharapkan mampu memahami sekaligus menerapkan metode pengelolaan vegetasi secara mandiri sesuai dengan potensi yang tersedia di lingkungan mereka.

Selain memberikan edukasi dan praktik, tim PkM Unila juga melakukan pendampingan serta monitoring terhadap perkembangan tanaman.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi vegetasi sumber pakan sekaligus memperkuat kemampuan masyarakat dalam menerapkan agen hayati secara berkelanjutan.

Tim juga menekankan bahwa hasil monitoring penggunaan Trichoderma pada tahap ini masih merupakan indikasi awal. Hasil tersebut belum digunakan untuk menarik kesimpulan akhir mengenai efektivitasnya terhadap pertumbuhan maupun pembungaan tanaman.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar pengembangan program dilakukan berdasarkan proses pengamatan yang berkelanjutan dan tidak terburu-buru dalam menarik kesimpulan.

Melalui integrasi antara pemanfaatan MOL urine sapi, aplikasi Trichoderma, pengelolaan vegetasi sumber pakan, serta keterlibatan aktif masyarakat, program PkM Unila diharapkan dapat memperkuat budidaya lebah tanpa sengat Madu Mulyo.

Program tersebut sekaligus menjadi upaya memanfaatkan potensi lokal secara lebih optimal dengan pendekatan yang ramah lingkungan.

Ke depan, pengelolaan vegetasi yang lebih baik diharapkan mampu mendukung keberlanjutan sumber pakan lebah, meningkatkan kemandirian masyarakat, serta memperkuat potensi budidaya Madu Mulyo sebagai salah satu kegiatan berbasis sumber daya lokal di Kampung Sido Mulyo, Lampung Tengah. (***)
Editor : Sandy,

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
ASN Disuruh Absen Pagi dan Sore. Lalu,...

Pernyataan seorang anggota DPR yang mengatakan masih ada ASN...

20356


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved