Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Melinting Fest 2026 Libatkan 1.000 Penari, Jihan Nurlela Dorong Budaya Lampung Mendunia
Lampungpro.co, 25-Aug-2026

Adi 160

Share

Wakil Gubernur Jihan Menghadiri Melinting Fest 2026 | Lampungpro.co/Dok.Kominfo

LAMPUNG TIMUR (Lampungpro.co): Melinting Fest 2026 menjadi ajang pelestarian adat dan budaya sekaligus upaya mengembangkan potensi pariwisata serta ekonomi masyarakat desa di Kabupaten Lampung Timur.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengatakan, festival tersebut tidak boleh hanya menjadi pertunjukan seni dan budaya. Lebih dari itu, Melinting Fest harus menjadi ruang untuk menjaga warisan leluhur sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Lampung ke tingkat nasional hingga internasional.

Hal itu disampaikan Jihan saat menghadiri Melinting Fest 2026 di kawasan Wisata Embung Desa Nibung, Kecamatan Gunung Pelindung, Lampung Timur, Senin (24/8/2026).

Jihan mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, Keratuan Melinting, serta seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan festival tersebut. Menurutnya, kerja sama pemerintah dan masyarakat adat menjadi kunci agar budaya Lampung tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Melinting Fest bukan hanya sebuah pertunjukan seni dan budaya. Melinting Fest adalah ruang untuk merawat warisan leluhur, menumbuhkan kebanggaan akan identitas, memperkuat silaturahmi, merawat kebersamaan, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi daerah kepada masyarakat luas," ujar Jihan.

Ia mengingatkan, Lampung sebagai Sai Bumi Ruwa Jurai memiliki kekayaan budaya yang beragam, mulai dari aksara Lampung hingga nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Menurutnya, budaya tidak cukup hanya dikenang sebagai peninggalan masa lalu. Kebudayaan harus terus diperkenalkan, dipraktikkan, dan dikembangkan agar tetap dikenal masyarakat.

"Budaya ini tidak akan lestari, tidak akan terus bisa tumbuh, tidak akan bisa terus didengar jika kita tidak ceritakan, jika kita tidak visualkan, dan jika kita tidak praktikkan dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Jihan juga mengajak masyarakat menghidupkan nilai-nilai luhur Lampung, seperti Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Juluk Adok. Nilai-nilai tersebut mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan, menghormati sesama, membangun hubungan sosial, serta memperkuat kebersamaan dan gotong royong.

Pemprov Lampung, lanjutnya, akan terus mendukung pelestarian budaya melalui kerja sama dengan pemerintah kabupaten, masyarakat adat, komunitas, dan generasi muda.

Ia berharap Melinting Fest ke depan dapat masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN), sehingga budaya Melinting semakin dikenal luas.

"Insyaallah kita akan sama-sama melalui itu, kita rawat budaya ini, dan kita perkenalkan ke tingkat kancah nasional bahkan internasional," pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah mengatakan, pemerintah kabupaten berkomitmen mengembangkan budaya Melinting sebagai bagian dari identitas sekaligus kekuatan pembangunan daerah.

Menurut Ela, pelestarian budaya perlu berjalan seiring dengan peningkatan ekonomi masyarakat. Ia juga mengapresiasi keterlibatan putra daerah dalam pengembangan Desa Nibung.

Kolaborasi tersebut dinilai dapat menjadi contoh bagaimana investasi dan kreativitas generasi muda mampu mendorong kemajuan desa tanpa meninggalkan akar budaya.

"Ini menjadi kekuatan bersama, kolaborasi bagaimana peningkatan ekonomi desa berbanding lurus terhadap kesejahteraan masyarakat dan juga memiliki pondasi yang kuat terhadap budaya," ujar Ela.

Ia berharap Desa Nibung dan desa-desa lain di wilayah Keratuan Melinting dapat menjadi contoh pengembangan desa wisata, ekonomi desa, serta pelestarian adat dan budaya di Lampung Timur.

Ratu Melinting XVII, Rizal Ismail yang bergelar Sultan Ratu Idil Muhammad Tihang Igama IV, menjelaskan bahwa Melinting Fest digelar untuk menjaga kelestarian adat sekaligus memperkuat persatuan masyarakat.

Ia mengatakan, Tari Melinting memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat adat Melinting. Secara tradisional, tarian ini ditampilkan dalam rangkaian upacara perkawinan adat dan digunakan Ratu Melinting untuk menyambut tamu-tamu agung.

Dalam perkembangannya, Tari Melinting telah tampil dalam berbagai peristiwa penting. Pada 1930, tarian tersebut pernah dipertunjukkan di hadapan Residen Lampung dan Sunan Solo.

Tari Melinting juga pernah ditampilkan dalam kegiatan kenegaraan pada era Presiden Soekarno, pembukaan MTQ Nasional 1987 di hadapan Presiden Soeharto, hingga dipentaskan di Jerman.

Pada 2014, Tari Melinting ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

"Kenapa kita melakukan acara ini? Yang pertama untuk pelestarian adat. Yang kedua, bagaimana caranya kita ini menjaga kekompakan, persatuan kita," ujar Rizal.

Ia berharap Melinting Fest dapat digelar secara rutin setiap tahun. Pelaksanaannya juga diharapkan tidak hanya terpusat di satu lokasi, tetapi dapat menjangkau wilayah lain dalam kawasan Keratuan Melinting.

Melinting Fest 2026 turut melibatkan sekitar 1.000 penari Tari Melinting dari kalangan pelajar SD, SMP, dan SMA. Keterlibatan pelajar ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan seni tradisi sejak dini agar tetap dipraktikkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Selain pertunjukan tari, festival tersebut juga menjadi momentum penyerahan sertifikat dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia yang menandai penetapan Gulai Pengecangan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Gulai Pengecangan atau Ngulai Pengecangan merupakan kuliner tradisional khas Lampung, khususnya masyarakat adat Saibatin. Hidangan ini dikenal dengan cita rasa gurih, segar, dan kaya rempah, serta kuah santan yang menjadi ciri khasnya.

Dalam tradisi pesta adat atau Gawi Keratuan Melinting, hidangan tersebut disajikan sebagai makanan kehormatan bagi tamu, pangeran, dan masyarakat adat.

Pada Melinting Fest 2026, Gulai Pengecangan turut dihadirkan untuk menghidupkan kembali suasana tradisi Nayuh atau pesta adat. Proses memasaknya dilakukan secara bersama-sama atau gotong royong sebagai gambaran kehangatan dan kebersamaan masyarakat dalam menyambut para pengunjung festival.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Melinting Fest 2026 diharapkan tidak hanya menjaga keberadaan seni dan tradisi, tetapi juga memperkuat identitas budaya, mengembangkan pariwisata, serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat desa.

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Mereka Turun ke Jalan

Saya melepas mereka dengan bangga. Sayangnya, kebanggaan tidak otomatis...

631


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved