Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Peneliti Polinela Temukan Cara Cepat Uji Benih Bunga Telang, Hasilnya Capai 93,3 Persen
Lampungpro.co, 05-Oct-2026

Sandy 374

Share

Kecambah bunga telang hasil penelitian dosen Polinela | LAMPUNGPRO.CO/Ist

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co) : Tim peneliti Politeknik Negeri Lampung (Polinela) berhasil mengembangkan metode uji cepat untuk menduga viabilitas dan vigor benih bunga telang (Clitoria ternatea L.). Metode tersebut memanfaatkan pendekatan Radicle Emergence yang dipadukan dengan perlakuan pematahan dormansi.

Inovasi penelitian dari Jurusan Budidaya Tanaman Pangan Polinela ini menjawab salah satu kendala dalam budidaya bunga telang, yakni proses perkecambahan yang berlangsung lambat dan tidak seragam.

Kondisi tersebut terjadi karena benih bunga telang memiliki lapisan kulit yang keras dan kedap air sehingga mengalami dormansi fisik. Akibatnya, proses penyerapan air atau imbibisi menjadi terhambat dan perkecambahan membutuhkan waktu lebih lama.

Dalam penelitian tersebut, tim menguji sejumlah metode pematahan dormansi. Hasilnya menunjukkan, skarifikasi fisik atau pelukaan pada permukaan kulit benih menjadi metode yang paling efektif dibandingkan perendaman menggunakan air panas maupun benih tanpa perlakuan.

Melalui skarifikasi fisik, radikula atau calon akar pertama dapat muncul hanya dalam waktu 52 jam setelah imbibisi. Sementara itu, persentase kemunculan radikula mencapai 78,66 persen pada jam ke-122.

Temuan tersebut menjadi dasar pengembangan metode Radicle Emergence sebagai uji cepat untuk memperkirakan kualitas benih. Pengujian yang biasanya membutuhkan waktu berhari-hari dapat dipangkas menjadi sekitar lima hari atau 122 jam.

Dengan demikian, proses pendugaan kualitas benih dapat dilakukan sekitar 11 hari lebih cepat dibandingkan pengujian standar yang membutuhkan waktu hingga 16 hari setelah pematahan dormansi.

Skarifikasi Tingkatkan Daya Berkecambah

Selain mempercepat munculnya radikula, skarifikasi fisik juga menunjukkan hasil positif terhadap kualitas perkecambahan benih bunga telang.

Perlakuan tersebut mampu meningkatkan daya berkecambah hingga 93,3 persen, sementara potensi pertumbuhan maksimum mencapai 96 persen.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol dan perlakuan perendaman air panas yang masing-masing menunjukkan daya berkecambah sebesar 50 persen.

Skarifikasi fisik juga mampu menekan persentase benih keras dan indeks dormansi hingga 0 persen. Perlakuan tersebut dilakukan tanpa merusak integritas fisiologis benih.

Hasil penelitian juga menetapkan interval pengamatan laboratorium untuk pengujian benih bunga telang. First count ditetapkan pada hari ke-13, sedangkan final count dilakukan pada hari ke-16.

Waktu tersebut dinilai lebih efisien dibandingkan benih yang tidak mendapatkan perlakuan skarifikasi. Pada kondisi tanpa perlakuan, benih bahkan membutuhkan waktu hingga 23 hari untuk mencapai sekitar separuh proses perkecambahannya.

Dorong Standardisasi Pengujian Benih

Temuan penelitian ini dinilai memiliki sejumlah implikasi terhadap pengembangan sektor pertanian, khususnya dalam pengujian dan sertifikasi mutu benih.

Penetapan first count pada hari ke-13, final count pada hari ke-16, serta penggunaan metode Radicle Emergence dapat menjadi acuan dalam pengujian mutu benih bunga telang di laboratorium sertifikasi.

Metode tersebut juga diharapkan dapat mendukung penyelarasan pengujian mutu benih dengan kaidah International Seed Testing Association (ISTA).

Dari sisi efisiensi, pengujian kualitas benih yang dapat dilakukan dalam waktu lebih singkat berpotensi memangkas waktu tunggu di laboratorium. Kondisi ini pada akhirnya dapat membantu proses distribusi benih kepada petani menjadi lebih terukur dan efisien.

Buka Peluang Pengembangan Bunga Telang

Bunga telang kini menjadi salah satu tanaman yang memiliki potensi ekonomi karena dimanfaatkan dalam berbagai sektor, mulai dari industri pangan fungsional, farmasi hingga kosmetik.

Kandungan antioksidan yang dimilikinya turut mendorong permintaan terhadap bunga telang sebagai bahan pangan maupun produk bernilai tambah.

Ketersediaan benih dengan mutu yang baik, daya berkecambah tinggi, dan pertumbuhan yang lebih seragam diharapkan dapat membantu petani mengurangi risiko kegagalan pada tahap persemaian.

Dengan tingkat daya berkecambah mencapai 93,3 persen melalui perlakuan skarifikasi fisik, potensi pengembangan produksi bunga telang di tingkat budidaya juga semakin terbuka.

Penelitian yang didanai melalui skema DIPA Polinela Tahun Anggaran 2026 tersebut tercatat dalam kontrak Nomor 165.48/DST/PL15.8/PP/2026.

Riset dipimpin Adhitya Vishnu Pradana bersama tim dosen Program Studi Teknologi Perbenihan, yakni Mertya Anugrah, Qurrotu A’yunin, Eny Rolenti Togatorop, Onny Chrisna Pandu Pradana, Anung Wahyudi, dan Eka Erlinda Syuriani. (***)

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Ketika Sekolah Jadi Mesin Setoran: Dana BOS,...

Seperti lilin. Memberi cahaya kepada orang lain, tetapi perlahan...

5260


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved