BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co) : Politeknik Negeri Lampung (Polinela) melalui Jurusan Teknologi Pertanian menyelenggarakan kegiatan In House Training Penguatan Tata Kelola dan Strategi Pengembangan Bisnis Teaching Factory (TeFa), pada Jumat (30/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Polinela dalam memperkuat tata kelola, meningkatkan kapasitas pengelolaan, serta mendorong pengembangan Teaching Factory sebagai unit pembelajaran sekaligus unit usaha produktif yang berorientasi pada kebutuhan industri dan pasar.
Kegiatan diikuti oleh seluruh perangkat jurusan dan program studi di lingkungan Jurusan Teknologi Pertanian Polinela. Melalui pelatihan ini, peserta mendapatkan penguatan pengetahuan dan wawasan mengenai pengelolaan Teaching Factory secara profesional, mulai dari aspek kebijakan dan kelembagaan, manajemen operasional, pengelolaan keuangan, hingga strategi pemasaran dan pengembangan kemitraan bisnis.
Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Jurusan Teknologi Pertanian Polinela, Kurnia Rimadhanti Ningtyas, S.TP., M.Sc. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa pengembangan Teaching Factory membutuhkan perencanaan dan tata kelola yang terarah agar setiap potensi yang dimiliki program studi dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif dan memiliki nilai ekonomi.
“Teaching Factory tidak hanya menjadi sarana pembelajaran praktik bagi mahasiswa, tetapi juga harus mampu berkembang menjadi unit produktif yang menghasilkan inovasi, produk, dan layanan sesuai dengan kompetensi program studi. Oleh karena itu, diperlukan komitmen bersama, perencanaan yang matang, serta tata kelola yang baik agar setiap Teaching Factory dapat berkembang dan memberikan manfaat bagi institusi maupun masyarakat,” ungkapnya.
Selanjutnya, sambutan Direktur Polinela yang dalam kesempatan tersebut diwakili oleh Wakil Direktur Bidang Akademik, Didik Kuswadi, S.T.P., M.Si. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa Teaching Factory merupakan salah satu instrumen strategis dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi vokasi karena mampu mengintegrasikan proses pembelajaran dengan praktik kerja dan aktivitas produksi yang mendekati kondisi dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
“Pengembangan Teaching Factory harus dilakukan secara terencana dan berorientasi pada hasil. Kita perlu membangun pola pengelolaan yang profesional, memiliki standar operasional yang jelas, serta didukung oleh strategi bisnis yang sesuai dengan potensi masing-masing program studi. Dengan begitu, Teaching Factory tidak hanya menjadi tempat mahasiswa belajar dan berpraktik, tetapi juga mampu menghasilkan produk unggulan, membuka peluang kerja sama dengan industri, serta memberikan nilai tambah bagi institusi,” ungkapnya.
Pada sesi penyampaian materi, kegiatan menghadirkan dua narasumber dengan kompetensi dan pengalaman di bidang pengembangan bisnis pendidikan vokasi serta praktik usaha.
Narasumber pertama, Dr. Any Ariani Noor, M.Sc., selaku Kepala Pusat Pengembangan Bisnis Politeknik Negeri Bandung, menyampaikan materi terkait penguatan tata kelola dan kelembagaan Teaching Factory. Dalam pemaparannya, ia membahas tiga pokok bahasan utama, yaitu kebijakan, regulasi, dan model kelembagaan Teaching Factory; struktur organisasi, standar operasional prosedur (SOP), serta pembagian peran dosen, teknisi, dan mahasiswa; hingga manajemen mutu, pengelolaan keuangan, aset, dan akuntabilitas.
Berikan Komentar
Saya melepas mereka dengan bangga. Sayangnya, kebanggaan tidak otomatis...
574
271
01-Nov-2026
368
01-Nov-2026
328
01-Nov-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia