BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co) : Penyakit kuning keriting dan antraknosa masih menjadi ancaman dalam budidaya cabai. Kedua penyakit tersebut dapat mengganggu pertumbuhan tanaman hingga menurunkan kualitas dan hasil produksi apabila tidak ditangani secara tepat.
Untuk mengetahui keberadaan dan perkembangan penyakit tersebut pada kondisi lingkungan yang berbeda, tim dosen Politeknik Negeri Lampung (Polinela) melakukan penelitian dengan memetakan penyakit cabai di sejumlah wilayah Provinsi Lampung.
Penelitian tersebut mengusung judul “Pemetaan Spasial dan Analisis Epidemi Penyakit Kuning Keriting dan Antraknosa Cabai Berbasis Variasi Agroklimat di Provinsi Lampung.”
Riset dilakukan melalui serangkaian survei langsung ke lahan petani, pengamatan kondisi tanaman, pengambilan sampel tanaman dan buah cabai, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan serta analisis sampel di laboratorium.
Ketua tim peneliti, Dila Febria, S.P., M.Biotech, mengatakan penelitian tersebut dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi penyakit cabai pada sejumlah wilayah yang memiliki karakteristik lingkungan dan kondisi agroklimat berbeda.
“Melalui survei lapangan, kami ingin memperoleh gambaran mengenai kondisi tanaman cabai dan karakteristik gejala penyakit di beberapa wilayah. Sampel yang diperoleh kemudian dianalisis lebih lanjut di laboratorium,” ujar Dila.

Kegiatan survei dan pengambilan sampel dilakukan secara bertahap. Tahap awal penelitian dimulai pada 4 Juli 2026 dengan survei di salah satu kebun cabai milik petani di Tegineneng.
Tim kemudian memperluas pengamatan ke sejumlah daerah lainnya. Di antaranya Kota Gajah, Lampung Tengah, Sukajaya, Pesawaran, Kecamatan Gisting dan Kota Agung di Kabupaten Tanggamus, hingga wilayah Lampung Utara.
Perbedaan karakteristik wilayah tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam penelitian. Sebab, kondisi lingkungan dan agroklimat dapat berkaitan dengan perkembangan penyakit pada tanaman cabai.
Data yang dikumpulkan dari lapangan kemudian dipadukan dengan hasil analisis laboratorium. Data tersebut akan digunakan sebagai dasar untuk melihat pola epidemi penyakit sekaligus menyusun pemetaan spasial penyakit cabai di masing-masing wilayah.
Melalui pemetaan tersebut, peneliti berupaya mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai sebaran penyakit kuning keriting dan antraknosa serta kaitannya dengan variasi kondisi lingkungan tempat tanaman cabai dibudidayakan.
Hasil penelitian nantinya diharapkan dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pencegahan dan pengendalian penyakit yang lebih sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
Dengan pendekatan berbasis kondisi agroklimat, pengendalian penyakit diharapkan tidak dilakukan secara seragam, tetapi dapat mempertimbangkan karakteristik lingkungan dan tingkat risiko penyakit di wilayah tertentu.
Penelitian ini juga menjadi bagian dari upaya Polinela dalam mengembangkan riset terapan yang berangkat dari persoalan nyata di lapangan. Salah satu fokusnya adalah menghasilkan informasi yang dapat mendukung petani dalam menghadapi berbagai permasalahan pada budidaya cabai.
Bagi petani, informasi mengenai jenis penyakit, pola penyebaran dan kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan penyakit menjadi bagian penting dalam menentukan langkah pengelolaan tanaman.
Penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat untuk mendukung budidaya cabai yang lebih efektif, sekaligus membantu meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan usaha tani cabai di Provinsi Lampung.
Riset “Pemetaan Spasial dan Analisis Epidemi Penyakit Kuning Keriting dan Antraknosa Cabai Berbasis Variasi Agroklimat di Provinsi Lampung” didanai melalui skema DIPA Politeknik Negeri Lampung Tahun Anggaran 2026.
Penelitian ini diketuai Dila Febria, S.P., M.Biotech, dengan anggota Sekar Utami Putri, S.P., M.Sc., dan Betari Safitri, S.P., M.Si. Dalam pelaksanaannya, tim juga melibatkan tiga mahasiswa, yakni Tisa Febiyola Sari, Elisabeth, dan Niluh Putri Ayu Ningsih.
Melalui penelitian tersebut, Polinela terus mendorong pengembangan riset berbasis kondisi lapangan yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan akademik, tetapi juga memiliki peluang untuk memberikan kontribusi terhadap penyelesaian persoalan pertanian. (***)
Berikan Komentar
Mengapa pembeli dari luar Lampung mampu menawarkan harga gabah...
7275
Polinela
501
Bandar Lampung
905
Bandar Lampung
950
161
16-Sep-2026
178
16-Sep-2026
410
16-Sep-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia