Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Sarung dan Songkok Jadi Kostum Peserta Etape Terakhir Tour de Banyuwangi Ijen
Lampungpro.co, 01-Oct-2017

1292

Share

BANYUWANGI (Lampungpro.com) - Menpar Arief Yahya mengapresiasi pelaksanaan International Tour de Banyuwangi Ijen (ITDBI) 2017. Kreativitas penyelenggara mempersiapkan sport event berbasis cycling itu sangat mengesankan. "Selalu ada sensasi baru, sambil mempromosikan karakteristik destinasinya," ujar Arief Yahya.

Sebelumnya, kata Arief Yahya, mereka melepas tukik atau anak penyu ke laut. Sebuah aktivitas yang sangat mengesankan bagi pembalap. "Kali ini kain sarung dan songkok Banyuwangi! Keren!" kata Menpar yang asli Banyuwangi itu. Sudah tentu, bersongkok dan bersarung itu sendiri sudah menjadi point of view publik yang melepas start.

Suasana mengenakan sarung dan songkok itu memang cukup menarik perhatian. Para pembalap sepeda even International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) jelang start etape empat, Sabtu (30/9), ramai-ramai mengenakan sarung dan songkok menjelang start.

Tentu saja itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para penonton yang memadati tribun pemberangkatan etape empat. Ini juga karena secara kebetulan etape empat ini mengambil start di Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi, yang memiliki ribuan santri.

Kostum sarung dan songkok hitam yang mereka kenakan tentu saja menjadi kostum unik dan baru bagi para peserta. Itu mereka rasakan. Its surprising for me to use this custom, kata Matthew Zennovich, salah seorang pebalap asal Selandia Baru, berkomentar, sambil tersenyum bangga.

Pemakaian kostum sarung yang erat dengan tradisi kaum santri ini bukan tanpa alasan, karena moment tersebut sebagai pengenalan tradisi pesantren kepada para pembalap dari berbagai negara.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, ajang ITdBI sangat efektif menjadi sarana pengenalan dan promosi terhadap tradisi pesantren yang merupakan ikon pendidikan asli nusantara. Ini juga sekaligus mengampanyekan nilai-nilai toleransi.

"Kami kenalkan kalau tradisi pendidikan Islam di Indonesia cukup khas dan punya sejarah panjang dalam menyemaikan nilai-nilai Islam yang penuh damai. Anak-anak muda Banyuwangi yang jadi pendamping tim-tim luar negeri telah kami minta untuk menjelaskan kepada mereka tentang apa itu pesantren dan perannya di Indonesia," ujar Anas menjelang start etape ke empat.

1 2 3

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya

Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved