Keterlambatan penanganan, meski hanya hitungan menit, dapat berujung pada memburuknya kondisi pasien.
Salah satu kelemahan yang patut disorot adalah belum optimalnya penanda prioritas kegawatdaruratan dalam sistem Sisrute.
Sistem ini belum mampu secara jelas membedakan pasien dengan kondisi kritis, seperti serangan jantung, pecah pembuluh darah, atau gangguan organ vital lainnya, yang seharusnya mendapat respons cepat dan prioritas utama.
Selain itu, pola komunikasi dalam Sisrute masih cenderung bersifat satu arah. Pengajuan rujukan sering kali berhenti pada tahap pengiriman data tanpa adanya kepastian waktu respons atau konfirmasi segera dari rumah sakit tujuan.
Akibatnya, tenaga medis di fasilitas awal berada dalam posisi menunggu, sementara kondisi pasien terus berpacu dengan waktu.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa sistem yang dirancang untuk menyelamatkan nyawa justru berpotensi memperlambat tindakan medis.
Jika tidak segera dievaluasi, Sisrute berisiko menjadi sekadar instrumen administratif, bukan alat bantu klinis yang efektif.
Berikan Komentar
Bandar Lampung
724
Kominfo Lampung
713
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia