BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.com): Pemerintah Provinsi Lampung menandatangani perjanjian kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Sumatera (ITERA) untuk mengembangkan kawasan Taman Hutan Rakyat Wan Abdul Rahman (Tahura WAR) sebagai pengembangan Lampung Science Park.
Kerja sama ini secara bersama melahirkan komitmen membangun IAO-ESSECS (Itera Astronomical Observatory, Earth, Space, and Science Education Center in Sumatera). Artinya, menjadi kawasan pusat bidang keilmuan meteorologi, astronomi, biologi, lingkungan, geofisika, geologi, geodesi, dan fisika di Sumatera.
"Salah satu bagian dalam kawasan ini nantinya adalah pusat observatorium teropong bintang. Tahura akan menjadi pusat penelitian dan pengamatan fenomena antariksa yang mampu mewadahi pengamatan astronomi dan astroifisik bukan hanya di Provinsi Lampung, tetapi juga di Indonesia," kata Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo, di Bandar Lampung, Sabtu (18/3/2017).
Rencana pembangunan observatorium ini lahir dari kebutuhan Indonesia akan pusat observatorium baru, karena satu-satunya observatorium yang berada di Bosscha berumur lebih dari 90 tahun dan sudah mulai terkena polusi cahaya akibat pembangunan dan pengembangan wilayah di sekitarnya. Selain menjadi sarana penelitian astronomi, kawasan ini diharapkan menarik masyarakat mengenal astronomi.
Kawasan ini juga dikembangkan menjadi pusat wisata edukasi alam semesta yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. "Jadi masyarakat Lampung patut berbangga, karena pusat observatorium kedua di Indonesia direncanakan dibangun di provinsi ini," kata Ridho.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PU-PR) Provinsi Lampung mendapatkan tanggung jawab untuk menyusun rencana tapak untuk pengembangan kawasan wisata pendidikan observatorium Lampung ini. Konsep dasar perencanaan tapaknya dimaksudkan untuk menciptakan sebuah kawasan edukatif yang dapat memberikan suatu pembelajaran kepada para pengunjung mengenai bidang astronomi dan ekowisata, tetapi dengan prinsip tetap menciptakan suatu kawasan yang berkelanjutan (sustainable).
"Karena berada di kawasan hutan dan daerah resapan air, pengembangan kawasan observatorium ini sangat memengaruhi keberadaan lahan konservasi, sehingga untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan akibat pengembangan kawasan observatorium ini maka harus dilakukan perencanaan kawasan yang berbasis edukasi dan konservasi sehingga menjadi kawasan yang berkelanjutan," kata Kepala Dinas PU-PR Budi Dharmawan.
Agar dapat mengimplementasikan prinsip keberlanjutan tersebut, kata Budi, maka perencanaan lansekapnya menjadi penting karena merupakan kegiatan penataan yang berbasis lahan (land base planning). Perencanaan tapak ini dilakukan sekaligus juga dalam upaya untuk meningkatkan kenyamanan dan keberlanjutan terkait program wisata, edukasi dan konservasi di pusat Observatorium dan kawasan sekitarnya. (PRO1)
Berikan Komentar
Dukungan dan legacy yang besar, juga mengandung makna tanggung...
16711
EKBIS
9404
Lampung Selatan
5245
Bandar Lampung
5038
Bandar Lampung
4900
177
05-Apr-2025
216
05-Apr-2025
200
05-Apr-2025
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia